MANADO, 11 DESEMBER 2025 – Optimisme, menyelimuti perekonomian Sulawesi Utara (Sulut) mengakhiri 2025 dan menatap tahun 2026.
Ini terungkap dalam Seminar Nasional Akhir Tahun 2025 yang digelar Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Manado di Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Sulut, Rabu (19/12) kemarin. Dalam forum strategis tersebut, terungkap bahwa sinergi antara kinerja ekspor yang memecahkan rekor dan kebijakan moneter yang akomodatif menjadi kunci stabilitas daerah.
Gubernur Sulut, Yulius Selvanus, dalam sambutan yang dibacakan oleh Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulut, Syaloom Korompis, memaparkan capaian ekonomi yang solid. Hingga Triwulan III 2025, ekonomi Sulut tumbuh 5,39 persen (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan nasional sebesar 5,04 persen. Capaian ini menempatkan Sulut di peringkat ke-5 tertinggi di Pulau Sulawesi. “Ini menandakan bahwa roda ekonomi daerah terus bergerak, ditopang oleh sektor-sektor produktif serta ekspor yang semakin kuat,” ujar Gubernur melalui Korompis.
Gubernur menyoroti kinerja sektor perdagangan yang menjadi motor penggerak utama. Nilai ekspor Sulut periode Januari–Oktober 2025 berhasil menembus angka USD1 miliar, meningkat lebih dari 52 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. “Komoditas unggulan semakin diterima di pasar internasional, terutama Tiongkok. Sebaliknya, impor menurun hampir 20 persen, menghasilkan neraca perdagangan daerah yang semakin sehat,” ungkapnya.
Sektor pariwisata dan investasi pun turut menggeliat. Wisatawan mancanegara meningkat hampir 40 persen pada Oktober 2025, sementara realisasi investasi hingga Semester I 2025 mencapai Rp5,46 triliun, menyerap lebih dari 7.500 tenaga kerja.
Senada dengan pemerintah, Bank Indonesia (BI) menyampaikan proyeksi optimis untuk tahun mendatang. Deputi Kepala Perwakilan BI Sulut, Renold Asri, yang hadir sebagai narasumber, memaparkan bahwa pertumbuhan ekonomi Sulut pada 2025 dan 2026 diproyeksikan berada pada rentang 5,3% hingga 6,2% (yoy). Untuk mendukung target tersebut, BI kata Asri menetapkan bauran kebijakan (policy mix) tahun 2026. Kebijakan moneter akan diarahkan pada Pro-Stability and Growth untuk menjaga nilai tukar dan inflasi.
“Sementara itu, kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran akan diarahkan secara agresif pada Pro-Growth,” jelasnya. BI menargetkan pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 di kisaran 8-12% untuk memacu sektor riil, termasuk dukungan bagi UMKM dan sektor prioritas.
Dia juga mengungkapkan kebutuhan konsumsi masyarakat, khususnya jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), BI memastikan inflasi tetap terjaga dalam sasaran 2,5% ± 1%. BI juga telah menyiapkan uang tunai sebesar Rp14,5 miliar melalui program “SERUNAI” untuk melayani penukaran uang masyarakat. Di sisi digitalisasi, BI mencatat pergeseran signifikan preferensi masyarakat. Transaksi BI-FAST di Sulut tumbuh mencapai 3 juta transaksi per bulan, seiring dengan peningkatan volume penggunaan QRIS.
Pemprov Sulut dan BI juga sepakat agar ISEI Cabang Manado untuk terus menjadi mitra strategis pemerintah. Ketua ISEI Cabang Manado, Joy Tulung, melaporkan bahwa organisasi yang kini memiliki 575 anggota tersebut terus aktif melakukan berbagai program kerja sepanjang 2025, meski sempat mengalami dinamika pergantian kepimpinan. Seminar ini turut menghadirkan narasumber lain seperti Kakanwil DJPb Kemenkeu Hari Utomo. (graceywakary)





