MANADO, 30 DESEMBER 2021 – Tangan Betty Umboh (58), sibuk memilih dan memilah tongkol jagung manis di tempat pengumpulan hasil panen perkebunannya pagi tadi.
Pada MANADONES, ibu dua putra putri ini menjelaskan tongkol jagung yang besar yang sudah dipilihnya, tidak akan dikomsumsi atau dijual, tetapi dijadikan sebagai bibit baru untuk lahan kebun sebesar 3 Ha miliknya, yang ada di kawasan Paniki Bawah Kecamatan Mapanget, Kota Manado.
Bersama Welly W Rambing, suaminya yang telah pensiun dari sebagai pegawai swasta di salah satu tambang yang ada di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, memilih menggarap sendiri lahan tidur milik mereka, dengan menjadikannya sebagai kebun tananam pangan yang menghasilkan seperti jagung, umbi umbian dan pisang.
“Hasilnya sepadan, dan sangat membantu perekonomian keluarga. Apalagi, kini lebih memilih menggunakan bibit sendiri dan meniadakan pupuk selain pupuk alam,” tutur petani yang telah berusia 60 tahun, sembari menerangkan selain berkebun, mereka juga berternak ayam kampung.
Welly kemudian menyebut, hasil panen jagung manisnya setiap tiga bulanan, mampu memberikan topangan dana segar sebesar Rp12 juta hingga Rp15 juta, selain, panen bulanan pisang dan umbi umbiannya.
Dia kemudian mengungkapkan, mereka kini tidak lagi bergantung pada beras, sebagai pangan utama harian, karena telah menggantikannya dengan jagung, pisang dan umbi yang direbus sebagai menu utama di meja makan.
“Kondisi kesehatan kami pun, kini makin baik walau di masa pandemi ini. Menu sehat, yang semuanya kami ambil dari hasil kebun, membuat tubuh kami tidak lagi bermasalah,” kata Welly, yang mengaku bahwa sang istri sempat terdiagnosa sebagai calon pasien untuk operasi jantung di 2018 lalu, karena begitu mencintai junk food dan fast food.

Pasangan Betty dan Welly, tidak sendirian karena di Kota Manado juga mulai banyak para penggemar gaya hidup sehat, yang mengutamakan menu makanan sehat minim nasi kaya sayur, seperti yang dilakukan oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kota Manado, Dr Linny Tambajong yang kini makin menyusutkan kebutuhan daging merah dalam menu hariannya.
Tidak hanya itu, aksi sehat nya yang serba hijau juga dibawa hingga ke area pekerjaan, yaitu menjadikan teras kantornya yang ada di Tikala, sebagai vertical garden dengan jenis sayur seperti lettuce green hingga salada air, yang merupakan urban farming yang dikelolanya sendiri.
“Kalau di rumah sejak Covid –19 ini, semuanya lokasi terpakai untuk urban farming, ya isinya sayuran dan buahan yang bisa dikomsumsi tanpa menggunakan pupuk kimia atau hanya menggunakan media air. Hidup sehat sambil menyehatkan lingkungan juga menyenangkan,” jelasnya.

Dalam Kelas Belajar Sistem Pangan Lestari untuk Adaptasi Perubahan Iklim, yang digelar oleh The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), dan Food and Land Use (FOLU) Coalition secara online pada 15 – 16 Desember lalu, MANADONES menerima beragam data untuk menjaga sistem pangan, yang bervariasi dari beberapa narasumber terbaik pada bidangnya.
Seperti data dari pemateri, Amanda Katili Niode yang mengungkapkan cara cara sederhana untuk pemilihan makanan yang tepat melalui Climate Smart Eating atau pola maka cerdas iklim. Disini, Amanda mengajak agar masyarakat menerapkan pola makan sehat dengan pertimbangan lingkungan hidup, dan mengurangi biaya emisi gas rumah kaca sekiter 41 persen hingga 74 persen pada tahun 2030 mendatang.
Kemudian, dari Shanty Syahril, yang mengingatkan persoalan pangan yang semakin parah di tingkat global yang semakin parah karena perubahan iklim, dan memerlukan dukungan semua pihak termasuk melalui tulisan di media massa atau liputan.
Provinsi Sulawesi utara (Sulut), sejak wabah Covid –19 masuk pada Maret 2020 lalu, pemerintah daerah langsung menggerakkan sektor pertanian dan perkebunan, untuk mengatisipasi minimnya pasokan pangan.

Gubernur Sulut, Olly Dondokambey langsung menggaungkan program Mari jo Bakobong atau mari berkebun, di semua 15 kabupaten kota di Sulut, dengan memprioritaskan menanam bahan pangan selain padi, bertujuan untuk menjaga stabilitas pangan daerah di masa pandemi dan perubahan iklim ini.
Hal ini bukan tanpa sebab, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, mencatat produktivitas padi Sulut dari tahun 2018 mampu mencapai angka 46,47 kuintal per Ha, kemudian menurun pada 2019 menjadi 44,79 kuintal per Ha, dan di tahun 2020 hanya mampu diangka 40,25 kuintal per Ha.
Hingga kini, pemerintah Sulut terus melakukan sosialisasi Mari jo Bakobong, agar warga bijak memilih pangan selain beras. “Harapannya, pangan unggulan di masing masing daerah, jadi prioritas. Seperti di Kabupaten Sangihe, Gubernur Olly dan Bupati Jabes Gaghana mengajak Mari jo Bakobong dengan tanamana pangan unggulan berupa umbi umbian atau si ubi kayu,” tandas Kepala Dinas Pangan Sulut, Sandra Moniaga saat ditemui. (graceywakary)





