Dokter Jelaskan Kelompok yang Perlu Berhati-hati Olahraga Saat Puasa

Arsip foto - Warga bersepeda di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (3/4/2022). Aktivitas olahraga warga ibu kota pada hari pertama puasa Ramadan terpantau lebih sepi dibanding hari Minggu sebelum-sebelumnya. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww.

 

 

Bacaan Lainnya

 

 

 

 

JAKARTA, 18 FEBRUARI 2026 (ANTARA) – Dokter spesialis kedokteran olahraga lulusan Universitas Indonesia dr. Risky Dwi Rahayu, M.Gizi, Sp.K.O, menyebutkan kelompok-kelompok dalam masyarakat yang sebaiknya tidak memaksakan diri untuk berolahraga selama berpuasa pada bulan Ramadhan.

 

“Olahraga itu bukan salah satu aktivitas yang harus dihindari pada waktu berpuasa, tapi, memang kalau kita memaksakan diri itu tidak bagus,” kata Risky dalam temu media secara daring di Jakarta, Rabu.

 

Risky mengatakan kelompok-kelompok yang tidak perlu mewajibkan diri untuk olahraga antara lain seperti ibu hamil, ibu menyusui dan penderita penyakit penyerta (komorbid). Seluruh kelompok tersebut perlu memperhatikan secara cermat asupan gizi, aktivitas fisik dan olahraga yang dilakukan selama berpuasa.

Baca juga  Polimdo Wajibkan Mahasiswa Bawa Tumbler dan Larang Penggunaan Vape

 

Orang-orang yang termasuk dalam kelompok itu dan belum pernah melakukan latihan fisik sebelum berpuasa, disarankan untuk tidak membuat target yang terlalu ekstrem dan fokus untuk membentuk kebiasaan baru yang bermanfaat bagi tubuh. Misalnya, jika ingin menurunkan berat badan, sebaiknya tidak terlalu berlebihan.

 

Ibu hamil dan menyusui memiliki pilihan untuk berpuasa atau tidak. Aktivitas dan olahraga yang dilakukan pun perlu disesuaikan dengan kondisi agar tidak menimbulkan risiko, terutama jika sedang hamil. Sementara pada orang yang memiliki komorbid seperti diabetes melitus dan hipertensi, dia dianjurkan untuk berdiskusi dengan dokter untuk mendapatkan rekomendasi berolahraga yang tepat selama berpuasa.

 

“Mereka (penderita komorbid) harus tetap melakukan latihan fisik sebagai bagian dari terapi mereka karena tidak cuma obat. Mungkin ada beberapa yang melakukan aktivitas fisik secara rutin untuk mengatur kondisi penyakit yang sedang diderita, jadi harus hati-hati,” katanya.

Baca juga  Presiden Minta PLN Tangkap Investasi Lewat Peluang Sumber Energi Hijau

 

Dia menekankan bahwa esensi dari berolahraga saat bulan Ramadhan adalah mempertahankan tingkat kebugaran tubuh, bukan waktu untuk membuat target-target berat yang dapat membahayakan kesehatan. “Misalnya kita sedang ada dalam program latihan untuk maraton. Ini bukan waktu yang tepat untuk mencapai performa puncak,” ujar Risky.

 

 

Oleh Hreeloita Dharma Shanti

Editor : Natisha Andarningtyas

 

 

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Manadones di saluran WHATSAPP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *