MANADO, 1 SEPTEMBER 2026 — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), mencatat terjadinya inflasi sebesar 0,29 persen secara bulanan (month-to-month) pada Agustus 2026.
Menurut uraian Kepala BPS SulutWatekhi dalam rilis lima indikator strategis daerah yang mencakup dinamika inflasi, pertanian, perdagangan luar negeri, pariwisata, dan transportasi periode Juli–Agustus 2026, siang tadi di Kantor BPS Sulut di Manado. “Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi motor utama pendorong laju inflasi bulanan dengan kenaikan indeks mencapai 0,57 persen,” urai Watekhi didampingi Karo Ekonomi Sulut Reza Dotulung.
Dia juga menyebut, berdasarkan komoditasnya, inflasi di Sulut dipicu oleh adanya pendorong inflasi yaitu kenaikan harga cabai rawit, tarif angkutan udara, emas perhiasan, daun bawang, serta ikan cakalang/ikan sisik. Dan adanya penahan inflasi yaitu penurunan harga pada komoditas bawang merah, beras, sabun mandi, lemon, dan sabun mandi cair.
Sedangkan kenaikan indeks harga pada Agustus 2026 membawa tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Agustus 2026) Sulawesi Utara ke angka 3,68 persen, sedangkan tingkat inflasi tahunan (year-on-year) tercatat sebesar 3,99 persen. (gracey)





