TAHUNA, 23 MARET 2021 — Warga Desa Bowone Kecamatan Tabukan Selatan Tengah, merasa penawaran sebesar Rp50 juta per Ha dari PT Tambang Mas Sangihe (TMS), sangat kecil, untuk itu mereka masih terlihat enggan untuk menjualnya pada perusahaan tambang ini.
Bagi mereka, nilai Rp500 ribu per meter yang paling pas untuk mengganti lahan milik mereka. Ini, terungkap dalam sosialisasi pembebasan lahan milik warga oleh TMS, siang kemarin. Langkah ini ditempuh sebelum mereka memasuki tahapan dan kegiatan operasi lroduksi pada Wilayah Ijin Usaha Pertambangan Operasi Produksi. “Bagi saya nilai ganti rugi Rp50 juta per Ha itu amat kecil. Saya pasti rugi. Jika seharga Rp500 ribu per meter, saya sepakat,” kata warga serta pemilik lahan, Faris Makahinda di sosialisasi berprotokol Covid –19 yang juga dihadiri juga oleh Kapolres Sangihe, AKBP Tony Budhi Susetyo , Asisten I Pemkab Sangihe, Irklis Sombonaung, Kadis Lingkungan Hidup Sangihe, Ronald Izaak dan Kepala UPT Dinas Pertambangan Sangihe, Elvis Matantu.
Hal senada juga dituturkan oleh Butje Sandil, dimana mantan purnawirawan ini mempertanyakan terkait status kepemilikan lahan ketika kegiatan produksi selesai.
Menanggapi hal ini, pihak TMS melalui Community Development and Government Relation Superintendent, Robertus Priya Husada menjelaskan pihak manajemen perusahaan akan tetap mengedepankan negosiasi dengan warga dan pemilik lahan untuk mencapai kesepakatan bersama. “Mengenai besaran harga pembebasan lahan yang Rp50 juta perhektar itu, dari pihak manajemen melakukan penawaran dan membuka harga. Namun karena ini masih dalam proses negosiasi, besarannya mungkin bisa saja naik berdasarkan NJOP yang ada,” jelas Bob, sapaan akrab Robertus Priya Husada.
Dia kemudian menerangkan tentang dampak terhadap lingkungan dan status kepemilikan lahan, setelah masa produksi yang nantinya akan dikembalikan kepada pemerintah, setelah itu tinggal kesepakatan dari pemerintah, apa dikembalikan lagi kepada warga atau pemilik lahan sebelumnya. “Namun sebelum diserahkan kepada pemerintah, kita juga akan melakukan reboisasi terlebih dahulu, sebab ini hal penting bagi perusahaan terhadap tingkat kepercayaan,” sebutnya.
Bob bahkan mengutarakan, pada proses awal produksi setelah pembebasan lahan, TMS akan merekrut 300 tenaga kerja lokal, serta menjanjikan kedepannya 80% pekerja pasti akan dari Sangihe.
Khusus, kontrak kerjasama yang hampir 30 tahun, menurut Bob, ada keuntungannya bagi masyarakat. “Dalam hal ini, pihak manajemen perusahaan juga siap membantu pendidikan anak-anak, sebab dalam kurun waktu kontrak kerja selama 30 tahun pastinya akan ada lulusan S1, S2 atau S3 dari Sangihe, yang nanti bisa direkrut dan bekerja di perusahaan,” katanya lagi.
Terpisah Camat Tabukan Selatan Tengah, Sevenjun Mananohas mengatakan bahwa kegiatan sosialisasi yang digelar sejak berjalan baik dan kondusif. “Untuk itu, tugas dari kita sebagai pemerintah hanya mengawasi saja, sebab persoalan ijin produksi dan sebagainya telah mereka miliki,” ungkap Mananohas.(ryansengala)





