KLH Ingatkan Urgensi Rehabilitasi Ekosistem Mangrove Indonesia

Tangkapan layar - Deputi PPKL KLH/BPLH Rasio Ridho Sani dalam Seminar Nasional Hari Lingkungan Hidup 2025 di Kalsel yang diikuti daring dari Jakarta, Senin (2/6/2025). ANTARA/Prisca Triferna

 

 

Bacaan Lainnya

 

 

 

 

JAKARTA, 2 JUNI 2025 (ANTARA) – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) mengingatkan urgensi untuk terus menjaga dan melakukan rehabilitasi ekosistem mangrove di Indonesia menghadapi potensi kehilangan luasan 19.501 hektare per tahun.

 

Dalam Seminar Nasional Hari Lingkungan Hidup 2025 yang diikuti daring dari Jakarta, Senin, Deputi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLH/BPLH Rasio Ridho Sani mengatakan Indonesia memiliki mangrove seluas 3,44 juta hektare atau 23 persen dari total 14,7 juta hektare mangrove yang ada di dunia. “Kita setiap tahun kehilangan mangrove kurang lebih 19.501 hektare. Jadi, kita membutuhkan upaya yang sangat serius untuk bisa mengatasi kehilangan mangrove,” kata Rasio. Sebagian besar mangrove Indonesia berada di dalam kawasan hutan, dengan luas 2,7 juta hektare atau sekitar 79,6 persen dari total luasan.

Baca juga  Kilas Balik: Tren Make up 2024, "Feathered Brow" hingga "Glass skin"

 

Sekitar 701.326 hektare berada di luar kawasan hutan atau areal peruntukan lain. “Luasan itu perlu dijaga dan ditambah mengingat mangrove menjadi salah satu solusi berbasis alam untuk menangani perubahan iklim,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa ekosistem mangrove memiliki kemampuan penyimpanan karbon yang lebih besar dibandingkan hutan terestrial, yang berpotensi juga mendukung perkembangan nilai ekonomi karbon Indonesia. “Tidak hanya itu, mangrove juga dapat menjadi pelindung alami pesisir, ekowisata, filtrasi untuk meningkatkan kualitas air dan habitat bagi keanekaragaman hayati,” katanya.

 

Rasio menyebutkan beberapa ancaman yang dihadapi ekosistem mangrove Indonesia termasuk alih fungsi lahan, penebangan liar, polusi limbah, polusi plastik, kenaikan permukaan lautan, perubahan pola curah hujan dan peningkatan suhu akibat perubahan iklim, serta belum maksimalnya penegakan hukum dan pengawasan. Dalam kesempatan tersebut, dia menyoroti pentingnya kolaborasi untuk meningkatkan tutupan mangrove dalam bentuk kolaborasi antara KLH bersama pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan korporasi. “Beberapa langkah pendekatan harus kita lakukan berkaitan dengan upaya rehabilitasi mangrove ini,” kata Rasio Ridho Sani.

Baca juga  Erick Thohir Bersyukur Indonesia Pastikan Putaran Keempat Kualifikasi

 

Pewarta : Prisca Triferna Violleta

Editor : Bambang Sutopo Hadi

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Manadones di saluran WHATSAPP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *