MANADO, 21 JANUARI 2026 – Nama Danny Masinambouw, salah satu dosen di Universitas Negeri Manado (UNIMA) terus diungkap oleh Gerakan Perempuan Sulut (GPS), untuk titik terang dari kasus kepergian yang memilukan dari almarhumah (alm) Evia, yang merupakan mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) UNIMA.
Menurut Koordinator GPS Pdt Ruth Ketshia kasus kepergian alm Evia, diduga kuat berhubungan langsung dengan aksi Danny Masinambouw, yang diketahui adalah salah satu dosen penanggungjawab di FIPP UNIMA. “Kami mendesak Polda Sulut untuk menetapkan status Danny sesuai proses hukum yang ada. Dan kasus Evia bisa ditingkatkan ke penyidikan,” tegas Ruth, didampingi Jull Takaliuang dan Kordinator Swara Parampuan (Swapar) Vivi George serta Mun Djenaan dihadapan Wakapolda Sulut usai kegiatan pagi tadi di Mapolda Sulut.
Kritis nya GPS didorong oleh banyak nya temuan lapangan yang mulai menggeser keterlibatan Danny pada kasus ini. Pada MANADONES, Takaliuang mengurai oknum pengajar ini, sempat masuk tim penguji di UNIMA yang kemudian dianulir, selain itu beberapa saksi kunci yang juga sempat mendapat ajakan dan permintaan yang mengarah pada pelanggaran hak perempuan yang diatur dalam UU Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS), yang menguatkan dugaan keterlibatan penuh Danny Masinambouw pada kasus Evia.
“Kasus Evia sendiri, pada pekan lalu telah diungkap aparat penyidik Polda Sulut sebagai aksi mengakhiri hidup. Namun kami mempertanyakan status dan peran Danny, karena sebelum Evia pergi, ada surat dengan nama jelas dan peran Danny,” sebut Jull, sembari menambahkan kesaksian para sahabat Evia yang menyebut keterlibatan Danny. GPS sendiri merupakan organisasi yang terdiri dari 21 kumpulan dan komunitas perempuan di Sulawesi utara yang telah ada sejak 2022 lalu.(gracey wakary)




