Mengunjungi Rumah Sakit Nomor Satu di Asia Tenggara

Ruang pusat laboratorium patologi digital di Singapore General Hospital (SGH) Kamis (30/4/2026). ANTARA/Ilham Kausar

 

 

Bacaan Lainnya

 

 

 

 

JAKARTA, 3 MEI 2026 (ANTARA) – Jika mendengar kata “rumah sakit”, yang terlintas biasanya suasana tegang, lorong dingin, aroma antiseptik yang tajam, dan wajah-wajah cemas yang berlalu-lalang. Imaji itu begitu kuat, seolah-olah rumah sakit adalah ruang yang identik dengan ketakutan.

 

Namun, kesan tersebut perlahan runtuh ketika ANTARA, atas undangan Philips, berkesempatan mengunjungi Singapore General Hospital (SGH), rumah sakit yang menempati peringkat pertama di Asia Tenggara dalam pemeringkatan Newsweek tahun 2026.

 

Begitu menginjakkan kaki di sana pada 30 April 2026, nuansa yang terasa justru jauh dari kesan mencekam. Alih-alih kaku dan menegangkan, SGH menghadirkan atmosfer yang lebih menyerupai pusat riset masa depan: tenang, modern, dan mengagumkan.

 

Sulit dipercaya bahwa institusi yang berdiri sejak 1821 ini merupakan rumah sakit tertua sekaligus terbesar di Singapura. Alih-alih terjebak dalam bayang-bayang usia, SGH justru menunjukkan bagaimana sejarah panjang lebih dari dua abad bisa berpadu harmonis dengan teknologi mutakhir.

 

Dalam kunjungan tersebut, ANTARA berkesempatan menyaksikan langsung SGH Innovation Showcase, sebuah ruang yang memamerkan berbagai terobosan medis yang bukan hanya informatif, tetapi juga memukau hingga membuat siapa pun ternganga.

 

Berikut pengalaman berkeliling rumah sakit yang berlokasi di kawasan Outram Park, dengan luas bangunan mencapai 146.000 meter persegi, sekaligus menyaksikan bagaimana kecerdasan buatan (AI) dan teknologi medis mutakhir mentransformasi cara mereka merawat pasien.

 

Ruang pusat pelatihan tenaga medis Magnetic Resonance Imaging (MRI) di Singapore General Hospital (SGH) Kamis (30/4/2026). ANTARA/Ilham Kausar.

Pemberhentian pertama adalah sebuah area demonstrasi yang menampilkan program layanan bernama PENSIEVE-AI. Sekilas, aplikasi ini tampak sederhana, hanya seperti fitur menggambar di tablet, sehingga sempat menimbulkan skeptisisme.

 

Namun di balik tampilannya yang minimalis, ternyata tersimpan teknologi kecerdasan buatan hasil kolaborasi antara SGH dan GovTech Singapore, lembaga di bawah Kantor Perdana Menteri yang memimpin transformasi digital dan inisiatif Smart Nation. Teknologi ini dirancang untuk mendeteksi gangguan kognitif, termasuk demensia, pada pasien lanjut usia.

 

Selama ini, pemeriksaan kognitif bagi lansia dikenal rumit, memakan waktu lama, dan relatif mahal. Akibatnya, sekitar 80 hingga 90 persen kasus gangguan kognitif kerap terlambat terdiagnosis. PENSIEVE-AI hadir sebagai solusi yang menyederhanakan proses tersebut. Dalam demonstrasi yang disaksikan ANTARA, pasien hanya diminta menyelesaikan empat tugas menggambar di layar tablet dengan mengikuti pola yang telah disediakan.

 

Hal yang bikin kagum, seluruh proses berlangsung kurang dari lima menit. Meski singkat, tingkat akurasinya mencapai 93 persen, setara dengan metode pemeriksaan kognitif konvensional yang jauh lebih kompleks. Pendekatan berbasis gambar ini juga membuatnya inklusif. Lansia dari berbagai latar belakang bahasa dan tingkat pendidikan tetap dapat menggunakannya dengan mudah, tanpa kebingungan. Sebuah inovasi yang relevan dan adaptif bagi masyarakat Asia yang beragam.

Baca juga  BMKG Prakirakan Mayoritas Wilayah Alami Hujan Ringan

Setelah dibuat takjub oleh PENSIEVE-AI, ANTARA kemudian diajak mengunjungi layanan SGH 3D Printing Centre (3DPC). Ruang ini menghadirkan atmosfer yang mengingatkan pada laboratorium dalam film fiksi ilmiah. Di sini yang “dicetak” bukan sekadar dokumen, melainkan bagian tubuh pasien dalam bentuk tiga dimensi.

 

​Bagaimana cara kerjanya?  Prosesnya dimulai dari pengambilan data melalui pemindaian medis pasien yang kemudian divisualisasikan secara digital. Dari data tersebut, tim medis dapat mencetak model anatomi spesifik pasien, panduan bedah, perangkat medis kustom, hingga implan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien.

 

Keberadaan model 3D ini memungkinkan dokter bedah melakukan simulasi dan perencanaan operasi secara lebih matang sebelum tindakan dilakukan. Dengan persiapan yang lebih presisi, risiko dapat ditekan dan tingkat keberhasilan operasi meningkat. Hal ini jelas membuat jalannya operasi jadi jauh lebih aman dan presisi. Bisa dibayangkan betapa banyak nyawa yang bisa terbantu lewat inovasi cetak 3D ini.

 

​Kolaborasi SGH dan Philips​

 

Selanjutnya, ANTARA diajak melihat fasilitas pusat pelatihan yang lahir dari kemitraan strategis antara Singapore General Hospital dan Philips. Kolaborasi ini menunjukkan kesadaran SGH bahwa percepatan inovasi tak bisa berjalan sendiri, melainkan perlu sinergi dengan perusahaan teknologi global.

 

Dibangun pada tahun 2025, pusat pelatihan ini menjadi magnet bagi tenaga medis dari berbagai negara ASEAN yang ingin mendalami teknologi Magnetic Resonance Imaging (MRI)—metode pemindaian yang memanfaatkan medan magnet kuat dan gelombang radio untuk menghasilkan citra detail organ dan jaringan tubuh tanpa radiasi.

 

Disini juga diperlihatkan stasiun kerja mutakhir yang telah terintegrasi dengan kecerdasan buatan. Sistem tersebut mampu mengotomatiskan berbagai tugas rutin sekaligus mempercepat proses pengambilan dan analisis gambar MRI, sehingga tenaga medis dapat bekerja lebih efisien dan akurat.

 

Hasil pemindaian jadi lebih cepat dan konsisten, dan yang paling penting, para petugas radiografi bisa lebih fokus memberikan perhatian dan empati kepada pasien mereka. Pemberhentian selanjutnya yaitu laboratorium patologi digital. Laboratorium patologi SGH ini termasuk salah satu yang terbesar di ASEAN.

 

Pemberhentian berikutnya adalah laboratorium patologi digital milik Singapore General Hospital, yang termasuk salah satu yang terbesar di kawasan ASEAN.

 

Laboratorium ini mengusung ambisi besar menjadi pusat histopatologi (cabang ilmu patologi anatomi yang mempelajari perubahan struktur jaringan tubuh akibat penyakit menggunakan mikroskop) pertama di kawasan yang sepenuhnya terdigitalisasi.

 

Jika sebelumnya para ahli patologi harus mengamati sampel jaringan melalui mikroskop kaca konvensional, kini seluruh proses telah beralih ke format digital. Transformasi ini memungkinkan analisis yang lebih cepat, kolaboratif, dan presisi tinggi dalam mendeteksi berbagai penyakit.

 

Sejumlah unit contoh bagian tubuh pasien yang dicetak secara tiga dimensi di layanan SGH 3D Printing Centre (3DPC), Kamis (30/4/2026). ANTARA/Ilham Kausar

Dengan sistem yang sepenuhnya terdigitalisasi, SGH kini mampu mengembangkan berbagai perangkat berbasis kecerdasan buatan untuk membantu mendeteksi penyakit serius seperti kanker. Pendekatan ini menjadi semakin krusial di tengah pertumbuhan populasi serta meningkatnya prevalensi kanker secara global.

Baca juga  Mentan: Harga Beras dan Minyak Goreng Tidak Boleh Naik

 

Menjelang akhir tur, ANTARA juga diperkenalkan pada inovasi lain yang tak kalah menarik, yakni pengembangan teknologi untuk menangani Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD). Penyakit hati kronis ini ditandai dengan penumpukan lemak berlebih di organ hati akibat gangguan metabolik –seperti obesitas, diabetes tipe 2, atau kadar kolesterol tinggi— tanpa keterkaitan dengan konsumsi alkohol berlebih.

 

Masalah penyakit hati ini ternyata memengaruhi hampir 30 persen populasi dewasa di dunia. Untuk menjawab tantangan tersebut, sistem berbasis AI di laboratorium patologi anatomi SGH dirancang membantu para ahli menganalisis jaringan hati secara lebih cepat dan akurat. Alat canggih ini akan langsung mengevaluasi apakah ada tanda-tanda penumpukan lemak (steatosis), peradangan, atau kerusakan jaringan (fibrosis) pada hati. ​

 

Teknologi ini mampu secara otomatis mengidentifikasi tanda-tanda penumpukan lemak (steatosis), peradangan, hingga kerusakan jaringan seperti fibrosis. Selain itu, sistem juga mengintegrasikan data dari berbagai hasil pemindaian radiologi dan pemeriksaan patologi ke dalam sebuah bank data besar yang dikenal sebagai Radiology-Pathology datalake.

 

Data yang melimpah ini kemudian dimanfaatkan untuk melatih model-model AI generasi berikutnya. Harapannya, akurasi diagnosis akan terus meningkat, waktu tunggu hasil pemeriksaan dapat dipangkas, dan pasien bisa lebih cepat mendapatkan penanganan yang tepat.

 

Ubah mindset​

 

Setelah berkeliling dan melihat semua teknologi tersebut, ada satu kesadaran yang mengemuka, bahwa secanggih apa pun kecerdasan buatan atau printer 3D yang digunakan, semuanya bermuara pada satu tujuan, yaitu demi kepentingan terbaik bagi pasien.

 

Slogan mereka, Patients. At the heart of all we do, benar-benar bukan sekadar pajangan di dinding rumah sakit. ​SGH telah berhasil membuktikan bahwa inovasi dan kemanusiaan itu bisa berjalan beriringan, saling menguatkan dalam praktik layanan kesehatan sehari-hari.

 

Pengalaman berkunjung ke SGH benar-benar membuka mata tentang bagaimana wajah pelayanan kesehatan di masa depan yang lebih presisi, efisien, sekaligus tetap berpusat pada empati. Sepulang dari SGH, imaji tentang rumah sakit pun berubah; rumah sakit tak lagi terasa sebagai ruang yang menakutkan, melainkan sebagai tempat di mana harapan terus dirawat dan diciptakan melalui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

Semoga layanan dan fasilitas Indonesia juga bisa secanggih Singapura, jadi pasien-pasiennya yang membutuhkan pengobatan. Harapannya, layanan kesehatan di Indonesia pun dapat terus berkembang ke arah yang serupa, sehingga pasien yang membutuhkan penanganan tidak lagi harus menempuh perjalanan terbang 1,5 jam dari Soekarno-Hatta menuju Changi.

 

Oleh Ilham Kausar

Editor : Dadan Ramdani

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Manadones di saluran WHATSAPP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *