Ekonom: Penguatan Rupiah Bantu Tahan Kenaikan Harga Otomotif

Pramuniaga memberikan informasi mobil listrik kepada konsumen di showroom Jaecoo GCP Soekarno Hatta, Bandung, Jawa Barat, Jumat (12/6/2026). Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) penjualan mobil listrik murni sepanjang Januari-Mei 2026 mencapai 57.087 unit atau meningkat sekitar 80 persen dibanding periode yang sama pada tahun lalu. ANTARA FOTO/Abdan Syakura/agr

 

 

Bacaan Lainnya

 

 

 

JAKARTA, 17 JUNI 2026 (ANTARA) – Ekonom jebolan Universitas Indonesia dan University of Amsterdam Josua Pardede menilai penguatan nilai tukar rupiah memberikan ruang optimisme bagi industri otomotif nasional, salah satunya berpotensi menahan kenaikan harga dalam waktu dekat.

 

“Penguatan rupiah memberi ruang optimisme bagi industri otomotif, tetapi optimisme itu perlu sangat terukur tidak serta-merta diterjemahkan sebagai pemulihan permintaan yang kuat,” kata Josua saat dihubungi dari Jakarta, Rabu.

 

Wakil Ketua Komisi Tetap II Kajian Ekonomi Global Strategis Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) itu mengatakan, rupiah yang lebih kuat dapat membantu mengurangi tekanan biaya impor berbagai kebutuhan industri otomotif, mulai dari komponen, kendaraan utuh, baterai, suku cadang, bahan baku logam, elektronik kendaraan, hingga biaya logistik yang banyak terkait dengan dolar Amerika Serikat.

 

Ia menjelaskan, bagi produsen dan agen pemegang merek yang masih memiliki kandungan impor tinggi, penguatan rupiah membantu menjaga margin usaha sekaligus menahan kenaikan harga jual kendaraan.

Baca juga  Sean Gelael dan Valentino Rossi Satu Tim Geber BMW di 24H Dubai

 

“Ini penting karena pasar otomotif sedang sensitif terhadap harga dan cicilan,” ujarnya. Meski menjadi angin segar, Josua menilai penguatan rupiah belum otomatis membuat harga kendaraan turun atau permintaan pasar melonjak dalam waktu singkat.

 

Dampak terhadap biaya produksi, kata dia, biasanya membutuhkan waktu karena industri masih menggunakan stok lama, kontrak pembelian sebelumnya, biaya logistik yang sudah berjalan, serta strategi lindung nilai yang dibuat sebelum rupiah menguat.

 

Selain itu, harga kendaraan juga dipengaruhi berbagai faktor lain seperti biaya pembiayaan, pajak, insentif, upah tenaga kerja, bahan baku, promosi, dan tingkat persaingan pasar.

 

“Jadi, rupiah yang menguat lebih realistis dipakai untuk menahan kenaikan harga, bukan langsung menurunkan harga besar-besaran,” jelas pengamat yang juga menjabat sebagai Kepala Ekonom di PermataBank tersebut. Dari sisi konsumen, Josua menilai penguatan rupiah merupakan sentimen positif, namun belum cukup kuat untuk mengubah keputusan pembelian kendaraan.

Baca juga  Dokter: Jaga Kebersihan Lingkungan untuk Hindari Sakit Jantung Rematik

 

Menurut dia, keputusan membeli mobil lebih banyak ditentukan oleh kemampuan membayar uang muka dan cicilan, kepastian pekerjaan, harga bahan bakar, serta keyakinan terhadap kondisi ekonomi rumah tangga. Karena itu, ia mengingatkan industri otomotif agar tidak terlalu cepat membaca penguatan rupiah sebagai sinyal pemulihan permintaan yang kuat.

 

Menurut Josua, data penjualan yang meningkat secara tahunan namun menurun secara bulanan menunjukkan pasar memang membaik dibandingkan tahun lalu, tetapi belum sepenuhnya pulih. “Artinya, pasar masih perlu dijaga dengan strategi harga, pembiayaan, dan stok yang hati-hati,” ujar Josua.

 

Diketahui, nilai tukar rupiah pada Senin (15/6) bergerak menguat 82 poin atau 0,46 persen menjadi Rp17.778 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.860 per dolar AS. Sebelumnya nilai tukar rupiah juga sempat melemah di kisaran Rp18.000 lebih per dolar AS. Hingga Rabu sore, nilai tukar rupiah mencapai Rp17.758 per dolar AS.

 

 

Pewarta : Pamela Sakina

Editor : Mahmudah

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Manadones di saluran WHATSAPP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *