Stella Paparkan Kiat Strategis Kampus dalam Merespons Kebutuhan Pasar

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie. ANTARA/HO-Kemdiktisaintek

 

 

Bacaan Lainnya

 

 

 

JAKARTA, 13 MEI 2026 (ANTARA) – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie memaparkan kiat strategis yang dapat dilakukan oleh perguruan tinggi dalam merespons kebutuhan pasar.

 

Melalui keterangan di Jakarta, Rabu, Wamendiktisaintek menekankan bahwa inovasi tidak dapat lahir apabila dunia akademik masih terjebak pada dikotomi, seperti pasar versus makna atau riset fundamental versus riset terapan. Perguruan tinggi harus mulai membangun cara pandang baru, yakni bagaimana riset mampu merespons pasar sekaligus memimpin pasar.

 

“Kalau kita menganggapnya sebagai dikotomi, itu sudah menjadi satu kesalahan. Kategori yang paling menentukan yang terjadi di Amerika Serikat dan China adalah merespons pasar dan memimpin pasar,” katanya. Merespons pasar, jelas dia, berarti memenuhi kebutuhan yang sudah ada. Sedangkan memimpin pasar berarti menciptakan kebutuhan dan inovasi baru yang sebelumnya belum ada.

Baca juga  Survei: 74 Persen Orang Indonesia tetapkan Resolusi Kesehatan 2025

 

Untuk memimpin pasar, lanjut dia, seluruh bidang ilmu harus hadir dan saling terhubung, mulai dari ilmu sosial-humaniora hingga sains dan teknologi. Stella menjelaskan bahwa kemajuan negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan China tidak terlepas dari sistem yang mampu mendorong inovasi berbasis riset.

 

Menurut pakar psikologi kognitif itu, keberhasilan kedua negara tersebut dalam menguasai teknologi strategis dunia, seperti kecerdasan buatan, semikonduktor, bioteknologi, antariksa, dan kuantum, lahir dari sistem yang mendukung kebebasan berpikir serta kolaborasi lintas disiplin ilmu.

 

Wamen Stella juga menekankan perguruan tinggi, dosen, dan mahasiswa peneliti sebagai aktor utama dalam memimpin inovasi. Menurutnya, kampus memiliki keunggulan karena menyediakan ruang dan waktu untuk berpikir mendalam serta melakukan riset jangka panjang.

 

Ia memberi contoh perusahaan top seperti Google yang lahir dari riset doktoral di Stanford University sebagai bukti nyata bahwa riset akademik dapat menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi. “Dengan waktu yang terbatas, sangatlah sulit untuk memikirkan inovasi dalam jangka panjang. Itulah mengapa yang paling bisa memimpin pasar itu adalah dosen, peneliti, serta mahasiswa di perguruan tinggi,” ujarnya.

Baca juga  Modern Pentathlon Indonesia Ditawari Tuan Rumah Kejuaraan Asia U-19

 

Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap penguatan ekosistem riset nasional, Wamendiktisaintek menyebut pihaknya telah menghadirkan kebijakan pemberian insentif finansial bagi dosen yang memenangkan hibah riset, yang diharapkan mampu meningkatkan ruang kebebasan akademik sekaligus memperkuat produktivitas riset di perguruan tinggi.

 

“Sejak tahun ini, dosen-dosen yang memenangkan research grant diberikan insentif finansial langsung sebanyak up to 25 persen untuk menjaga kebebasan finansial,” tutur Stella Christie.

 

Oleh Sean Filo Muhamad

Editor : Riza Mulyadi

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Manadones di saluran WHATSAPP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *