MALANG, 10 AGUSTUS 2026 (ANTARA) – Peneliti Fakultas Bio-industri, Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya (FBiPK UB), Yogo Setiawan, S.P., M.P., berhasil mendeskripsikan satu spesies baru kumbang kulit kayu serta melaporkan dua catatan baru spesies kumbang ambrosia di Jepang.
Temuan tersebut merupakan bagian dari penelitian doktoralnya di The United Graduate School of Agricultural Sciences, Kagoshima University, Jepang. Spesies baru tersebut diberi nama Hyorrhynchus takakumaensis Setiawan, Hata & Smith, sp. nov.
“Nama takakumaensis diambil dari tempat temuannya, yakni Takakuma Experimental Forest, kawasan hutan penelitian milik Kagoshima University di Pegunungan Takakuma, Prefektur Kagoshima, Jepang. Spesies ini juga memiliki nama umum dalam bahasa Jepang, yaitu タカクマオオキクイムシ (Takakuma-ōkikuimushi),” kata Yogo dalam keterangan yang diterima di Malang, Jawa Timur, Senin.
Yogo mengatakan dua spesies kumbang ambrosia yang belum pernah tercatat di Jepang, yaitu Anisandrus auratipilus Smith, Beaver & Cognato, 2020 dan Debus shoreae (Stebbing, 1907). Temuan A. auratipilus menjadi catatan kedua spesies tersebut di dunia setelah pertama kali dideskripsikan dari Provinsi Fujian, Tiongkok. Sementara itu, D. shoreae diketahui tersebar di kawasan tropis Asia Timur dan Asia Tenggara.
“Saya melakukan pengambilan sampel selama satu tahun, mulai musim panas 2024 hingga musim panas 2025, sehingga mencakup empat musim. Sampel dikumpulkan setiap dua minggu di Takakuma Experimental Forest untuk mengkaji keanekaragaman dan dinamika komunitas kumbang kulit kayu serta kumbang ambrosia di hutan Jepang bagian selatan yang beriklim lebih hangat dibandingkan wilayah tengah dan utara,” ujar Yogo.
Dalam proses identifikasi, Yogo menemukan satu spesimen dengan karakter morfologi berbeda dari spesies lain dalam genus Hyorrhynchus. Temuan tersebut dikonsultasikan dengan ahli taksonomi kumbang ambrosia dari Michigan State University dan dibandingkan dengan koleksi di sejumlah museum, termasuk National Agriculture and Food Research Organization (NARO) di Tsukuba, Jepang.
“Dalam proses identifikasi, saya menemukan satu spesimen yang belum teridentifikasi sampai tingkat spesies, karena karakter morfologinya berbeda dengan spesies lain dalam genus yang sama. Setelah berkonsultasi dengan ahli taksonomi di Michigan State University dan membandingkannya dengan koleksi di beberapa museum, kami menyimpulkan bahwa spesimen tersebut memang belum pernah dideskripsikan sebelumnya,” ujar Yogo.
Ia menjelaskan pembeda utama spesies baru tersebut terletak pada karakter morfologi pada epistoma yang memiliki tanduk/tuberkel berbentuk lebar, serta pola setae dan vestiture pada elitra yang berbeda dengan spesies lain dalam genus Hyorrhynchus.
Sebelum penelitian ini, genus Hyorrhynchus hanya terdiri atas sepuluh spesies di dunia. Penemuan tersebut menambah jumlahnya menjadi sebelas spesies, sedangkan catatan spesies genus Hyorrhynchus di Jepang meningkat dari dua menjadi tiga.
Menurut Yogo, pendeskripsian spesies baru membutuhkan proses panjang, mulai dari pengambilan sampel, identifikasi, konsultasi dengan pakar, hingga penyusunan deskripsi morfologi secara rinci.
Selama penelitian, ia menghadapi tantangan berupa penampung spesimen pada perangkap yang membeku pada musim dingin, cuaca musim panas yang lembap dan panas yang bisa mencapai suhu 36 derajat, serta lokasi penelitian yang ditempuh dengan feri sekitar 45 menit dan perjalanan darat selama satu jam.
Meskipun demikian, penemuan spesies baru dan catatan persebaran baru tersebut penting untuk mendokumentasikan biodiversitas sekaligus memperluas pengetahuan mengenai persebaran biogeografis kumbang kulit kayu dan kumbang ambrosia.
“Kumbang ambrosia berperan penting dalam dekomposisi kayu dan daur ulang unsur hara di hutan. Namun, beberapa spesies juga merupakan hama penting pada sektor kehutanan dan pertanian. Untuk itu, pendokumentasian keanekaragaman kelompok kumbang ini sangat penting,” kata Yogo.
Penelitian ini merupakan kolaborasi Kagoshima University, Saga University, Universitas Brawijaya, dan Michigan State University. Hasilnya telah dipublikasikan pada (14/7/2026) di jurnal internasional bereputasi ZooKeys melalui artikel berjudul A new species of Hyorrhynchus Blandford, 1894 (Coleoptera, Curculionidae, Scolytinae, Hyorrhynchini) and two new records of xyleborine ambrosia beetles from Japan.
Pewarta : Endang Sukarelawati
Editor : Rini Utami





