BGN Minta SPPG Utamakan Produk Lokal Dalam Program MBG

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dikonfirmasi wartawan usai meluncurkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) modular yang di bangun PT Krakatau Stell di Desa Genggelang, Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) Selasa (12/5/2026). ANTARA/Nur Imansyah.

 

 

Bacaan Lainnya

 

 

 

 

 

JAKARTA, 18 MEI 2026 (ANTARA) – Badan Gizi Nasional (BGN) menginstruksikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar mengutamakan produk lokal, termasuk telur dan bahan pangan lain yang berasal dari dalam negeri untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

 

Kepala BGN, Dadan Hindayana juga meminta SPPG untuk memprioritaskan pasokan pangan dari peternak dan pelaku usaha lokal, sehingga dapat mendukung keberlangsungan ekonomi masyarakat daerah. “SPPG diminta mengutamakan produk dan produksi lokal, termasuk untuk kebutuhan telur dalam Program MBG,” katanya dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Senin.

 

Menurutnya, apabila mitra pelaksana MBG memiliki koperasi atau jaringan pemasok sendiri, pasokan bahan pangan diharapkan tetap menyerap hasil produksi peternak lokal di masing-masing wilayah. Kebijakan tersebut sejalan dengan arahan Presiden agar kebutuhan telur dalam Program MBG wajib berasal dari produksi dalam negeri. “Sesuai keinginan Presiden, telur untuk Program MBG, terutama wajib menggunakan produksi lokal,” tuturnya.

Baca juga  AHM Gali Bakat Ribuan Modifikator Tanah Air dengan Hadirkan Ajang HMC 2025

 

Meski demikian, lanjut Dadan, BGN tidak menetapkan menu nasional secara seragam, tetapi hanya menetapkan standar komposisi gizi untuk memastikan kualitas menu MBG. Selain itu, pihaknya juga telah menempatkan ahli gizi di setiap SPPG yang bertugas menyusun menu berdasarkan potensi pangan daerah sekaligus memastikan kebutuhan nutrisi penerima program terpenuhi.

 

“BGN tidak menetapkan menu nasional, tetapi membuat standar komposisi gizi. Oleh sebab itu, kami menempatkan pengawas gizi di setiap SPPG agar bisa membuat menu berbasis potensi sumber daya lokal dan kesukaan masyarakat lokal,” ucap Dadan.

 

Selain mendukung ketahanan pangan nasional, kebijakan penggunaan produk lokal juga diharapkan mampu menjaga stabilitas harga hasil peternakan di tingkat produsen, karena Program MBG mesti memberikan manfaat ganda, baik dari sisi pemenuhan gizi masyarakat maupun penguatan ekonomi lokal.

Baca juga  Mensos Sebut Presiden akan Tambah Anggaran untuk Bansos

 

Dadan menilai produksi telur dalam negeri saat ini masih mampu memenuhi kebutuhan Program MBG apabila distribusi dan penyerapan dilakukan secara optimal. Oleh karena itu, ia meminta seluruh pelaksana program terus memperkuat kemitraan dengan peternak lokal di masing-masing daerah.

 

“Selama produksi lokal tersedia dan kualitasnya baik, itu yang harus diprioritaskan. Program MBG memang dirancang agar mampu mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal,” ujarnya.

 

Oleh Lintang Budiyanti Prameswari

Editor : Endang Sukarelawati

 

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Manadones di saluran WHATSAPP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *