JAKARTA, 18 MEI 2026 (ANTARA) – Dunia sedang bergerak dalam lanskap yang semakin tidak pasti. Perang dagang, fragmentasi rantai pasok global, perlambatan ekonomi dunia, hingga disrupsi teknologi digital membuat perubahan berlangsung jauh lebih cepat dibanding satu dekade lalu.
Pola konsumsi berubah, jenis pekerjaan baru bermunculan, dan model bisnis konvensional perlahan tergeser oleh ekonomi berbasis platform. Dalam situasi seperti ini, negara tidak bisa lagi mengandalkan asumsi lama untuk merancang kebijakan masa depan. Pembangunan membutuhkan fondasi yang jauh lebih penting, data yang akurat, relevan, dan mampu membaca perubahan zaman.
Di sinilah Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) menemukan makna strategisnya.
Sensus Ekonomi 2026 bukan sekadar kegiatan pendataan rutin yang dilakukan setiap sepuluh tahun. Sensus ini adalah instrumen navigasi nasional untuk memastikan bahwa arah pembangunan ekonomi Indonesia benar-benar berpijak pada realitas terbaru. Tanpa data yang kuat, negara ibarat kapal besar yang bergerak tanpa kompas.
Dalam ekonomi modern, data bahkan sering disebut sebagai the new oil. Namun berbeda dengan minyak, nilai data tidak terletak pada kepemilikannya semata, melainkan pada kemampuan mengolahnya menjadi pengetahuan dan kebijakan yang tepat sasaran.
Ekonom pemenang Nobel Ronald Coase pernah mengingatkan, “If you torture the data long enough, it will confess.” Kutipan itu mengandung pesan mendalam bahwa kualitas kebijakan sangat bergantung pada kualitas data dan cara negara membacanya. Data yang lemah akan menghasilkan diagnosis yang keliru, dan diagnosis yang keliru hampir selalu melahirkan kebijakan yang tidak efektif. Karena itu, statistik sesungguhnya bukan sekadar kumpulan angka. Statistik adalah kompas pembangunan.
Indonesia saat ini sesungguhnya memiliki modal ekonomi yang cukup kuat. Di tengah tekanan global, pertumbuhan ekonomi nasional tetap relatif terjaga di kisaran 5 persen. Tingkat pengangguran terus menurun, inflasi relatif terkendali, dan angka kemiskinan menunjukkan tren perbaikan. Ketahanan ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi nasional cukup tangguh menghadapi berbagai guncangan global.
Namun di balik capaian tersebut, terdapat transformasi struktural yang bergerak sangat cepat dan sering kali belum sepenuhnya tertangkap oleh instrumen statistik konvensional. Hari ini, tantangan pembangunan tidak lagi sekadar menghitung berapa besar produk domestik bruto yang tercipta. Tantangan sesungguhnya adalah memahami bagaimana ekonomi berubah secara eksponensial. Dunia usaha kini bergerak semakin cair, fleksibel, dan terdigitalisasi.
Ekonom Dani Rodrik menyebut fenomena ini sebagai konsekuensi dari hyper-globalization; ketika integrasi ekonomi global membuat guncangan di satu kawasan dengan cepat merambat ke negara lain. Dampaknya terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Pelaku UMKM kini harus bersaing di pasar digital yang berubah sangat cepat, pekerja informal semakin bergantung pada platform daring, dan perubahan perilaku konsumen dapat menggeser pasar hanya dalam hitungan bulan.
Aplikasi digital
Kita juga hidup di era gig economy, ketika jutaan orang bekerja secara fleksibel melalui aplikasi digital. Pengemudi transportasi daring, kreator konten, pekerja lepas digital, hingga pedagang berbasis media sosial menjadi bagian dari wajah baru ekonomi Indonesia. Aktivitas ekonomi seperti ini bersifat non-linear, tersebar, dan sering kali tidak memiliki lokasi usaha tetap.
Akibatnya, metode statistik tradisional menghadapi tantangan besar untuk menangkap realitas ekonomi baru tersebut.
SE2026 menjadi sangat penting. Sensus ini merupakan upaya besar negara untuk menghadirkan “peta ekonomi terbaru” Indonesia. Berdasarkan metodologi pendataan lengkap SE2026, sensus akan mencakup seluruh wilayah Indonesia di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota, dengan unit pendataan berupa establishment yang mencakup usaha mikro, kecil, menengah, hingga usaha besar.
Lebih dari itu, cakupan SE2026 juga dirancang untuk membaca karakter ekonomi masa depan. Selain menyediakan informasi struktur ekonomi dan karakteristik usaha, sensus ini akan mengumpulkan data terkait ekonomi digital dan ekonomi lingkungan. Ini menunjukkan bahwa statistik nasional mulai bergerak mengikuti arah transformasi global menuju ekonomi hijau dan ekonomi berbasis teknologi.
Pendekatan pendataannya pun semakin modern. SE2026 memanfaatkan kombinasi Computer-Assisted Web Interviewing (CAWI), Computer-Assisted Personal Interviewing (CAPI), dan Paper-Assisted Personal Interviewing (PAPI). Penggunaan berbagai moda ini mencerminkan transformasi BPS menuju paradigma Statistics 4.0, yakni sistem statistik yang lebih adaptif, digital, dan terintegrasi.
Transformasi tersebut sejalan dengan rekomendasi Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui konsep modern official statistics, yaitu sistem statistik yang tidak lagi hanya berfungsi sebagai penghasil data, tetapi juga sebagai penyedia strategic insight bagi pengambilan kebijakan.
Profesor statistik Nate Silver dalam bukunya The Signal and the Noise mengingatkan bahwa tantangan terbesar era modern bukan kekurangan data, melainkan kemampuan memilah sinyal penting di tengah ledakan informasi. Negara membutuhkan statistik yang bukan hanya akurat, tetapi juga mampu membaca pola perubahan dan mengantisipasi risiko masa depan.
Data hasil SE2026 akan menjadi fondasi penting bagi evidence-based policy. Kebijakan publik yang baik selalu lahir dari pemahaman yang tepat terhadap kondisi lapangan. Sebaliknya, data yang tidak lengkap hampir selalu menghasilkan kebijakan yang kurang presisi.
Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah terus mendorong penguatan UMKM, transformasi industri, hilirisasi, pengembangan ekonomi digital, hingga penciptaan lapangan kerja berkualitas. Semua agenda besar tersebut membutuhkan satu fondasi yang sama yaitu data yang akurat.
SE2026 dirancang untuk mengumpulkan informasi yang jauh lebih komprehensif dibanding sekadar jumlah usaha. Data yang dikumpulkan mencakup tenaga kerja, penggunaan internet, aktivitas ekonomi kreatif, aktivitas lingkungan, kepemilikan sertifikat halal, hingga keterlibatan usaha dengan koperasi desa dan program pembangunan lainnya.
Bahkan, SE2026 juga mengumpulkan informasi sosial keluarga dan karakteristik rumah tangga pelaku usaha. Pendekatan ini memungkinkan negara membaca keterkaitan antara dinamika ekonomi dan kondisi sosial masyarakat secara lebih utuh.
Dengan data yang lebih detail, pemerintah dapat merancang kebijakan yang lebih presisi. Program pemberdayaan UMKM dapat diarahkan lebih tepat sasaran, transformasi digital dapat dipetakan secara lebih jelas, dan pengembangan ekonomi hijau dapat dilakukan berdasarkan bukti empiris yang kuat.
Namun demikian, secanggih apa pun teknologi statistik yang digunakan, keberhasilan sensus tetap bertumpu pada kepercayaan publik. Statistik pada akhirnya dibangun di atas public trust. Tanpa partisipasi masyarakat, kualitas data akan melemah dan legitimasi statistik dapat dipertanyakan.
Partisipasi dalam SE2026 sejatinya bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif. Ia merupakan bentuk social contract modern antara negara dan warga negara. Ketika masyarakat memberikan data yang benar dan lengkap, sesungguhnya mereka sedang ikut menentukan arah pembangunan Indonesia di masa depan.
Sebagai bagian dari pelaksanaan SE2026, tahapan pendataan akan berlangsung pada Mei hingga Agustus 2026. Pelaku usaha dapat melakukan pengisian kuesioner secara mandiri melalui mekanisme online self-enumeration selama periode tersebut.
Selain itu, petugas BPS juga akan melakukan pendataan lapangan secara langsung dari rumah ke rumah mulai 15 Juni hingga 31 Agustus. Pendekatan kombinasi ini menunjukkan bahwa SE2026 dirancang semakin adaptif dengan memanfaatkan teknologi digital tanpa meninggalkan pentingnya verifikasi lapangan untuk menjaga kualitas data.
Tujuan akhir statistik bukanlah menghasilkan angka semata. Tujuan akhirnya adalah menghadirkan kebijakan yang lebih tepat sasaran, pembangunan yang lebih inklusif, dan kesejahteraan yang lebih merata. Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, Indonesia membutuhkan kompas pembangunan yang mampu membaca arah zaman. Dan kompas itu bernama data.
Karena itu, partisipasi aktif seluruh pelaku usaha dan masyarakat menjadi sangat penting. Ketika masyarakat bersedia memberikan data yang benar dan lengkap, sesungguhnya kita sedang membantu negara menyusun peta ekonomi Indonesia yang lebih akurat dan relevan dengan tantangan masa depan. Data yang kuat akan melahirkan kebijakan yang lebih tepat sasaran, pembangunan yang lebih inklusif, dan perlindungan ekonomi yang lebih baik bagi seluruh rakyat Indonesia.
*) Nuri Taufiq, statistisi pada Badan Pusat Statistik (BPS) dan pemerhati isu sosial ekonomi
Oleh Nuri Taufiq *)
Editor : Sapto Heru Purnomojoyo





