MANADO, 2 SEPTEMBER 2026 —Sayur yang selalu hadir direrata menu harian warga Nyiur melambai, kangkung kini masuk sebagai salah satu pemicu inflasi.
Dalam data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi utara (Sulut), siang kemarin, komoditas pangan dan sektor transportasi tercatat menjadi penyumbang utama laju inflasi di Sulut. Berdasarkan data terbaru, kenaikan harga sayur harian ini mencapai 0,14 persen, dan duduk diposisi kedua penyumbang inflasi. Cabai rawit menempati posisi teratas sebagai pemicu inflasi terbesar di wilayah tersebut.
Komoditas cabai rawit memberikan andil inflasi tertinggi, yakni sebesar 0,33 persen. Selain cabai rawit, komoditas sayuran dan bumbu dapur lainnya turut mendongkrak indeks harga konsumen setempat. Daun bawang tercatat ada diposisi ketiga dengan andil sebesar 0,07 persen, kemudian cabai merah dengan 0,06 persen dan posisi kelima adalah tiket pesawat alias angkutan udara sebesar 0,009 persen.
“Tingginya andil dari kelompok bahan makanan, khususnya aneka cabai dan sayuran, menunjukkan fluktuasi harga kebutuhan pokok masih menjadi faktor dominan dalam pergerakan inflasi daerah,” ungkap Kepala BPS Sulut Watekhi, didampingi Karo Ekonomi Sulut Reza Dotulung, dalam rilis lima indikator strategis daerah yang mencakup dinamika inflasi, pertanian, perdagangan luar negeri, pariwisata, dan transportasi periode Juli–Agustus 2026, kemarin siang di Kantor BPS Sulut di Manado.
BPS Sulut, mencatat terjadinya inflasi sebesar 0,29 persen secara bulanan (month-to-month) pada Agustus 2026. Juga mengalami inflasi tahunan sebesar 3,99 persen.(gracey)





