Asap Karhutla Mengandung Partikel Penyebab Iritasi Saluran Pernapasan

Arsip Foto - Seorang anak yang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut mendapatkan perawatan di Posko Kesehatan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Puskesmas Sukarami, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (15/9/2026). (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)

 

 

Bacaan Lainnya

 

 

 

JAKARTA, 16 OKTOBER 2026 (ANTARA) – Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Fifi Sofiah menyampaikan bahwa asap akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla mengandung partikel-partikel yang bisa menyebabkan iritasi saluran pernapasan.

 

Menurut dr. Fifi Sofiah, Sp.A, Subsp. Respi. (K), partikel mikroskopis yang disebut PM10 dan PM2,5 dalam asap karhutla bisa masuk sampai ke saluran napas bawah.

 

Dalam diskusi daring yang diikuti dari Jakarta pada Jumat, dokter lulusan Universitas Indonesia itu mengatakan bahwa asap karhutla juga mengandung partikel yang bersifat toksik. “Kimianya berbeda dengan PM2,5 yang dihasilkan oleh bukan kebakaran hutan. Jadi akibat kebakaran hutan, PM2,5 kandungannya lebih toksik dibandingkan dari bahan yang lain dan ini akan mengiritasi saluran pernapasan,” ia menjelaskan.

Baca juga  Indonesia Koordinasi Upayakan Repatriasi 5 Bayi Orangutan dari India

 

Ia menyampaikan bahwa paparan asap karhutla dapat memicu terjadinya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), eksaserbasi asma, bronkiektasis, serta penyakit paru-paru kronik. Di samping itu, paparan asap karhutla dapat memicu stres oksidatif dan inflamasi saluran napas.

 

Anak-anak dengan penyakit jantung bawaan dan riwayat displasia bronkopulmonal lebih berisiko terdampak paparan asap karhutla dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengalami gangguan tersebut. Dokter Fifi menyampaikan bahwa anak-anak bernapas lebih sering dibandingkan orang dewasa, sehingga lebih berisiko mengalami masalah pernapasan kalau terpapar asap karhutla berkepanjangan.

 

Menurut dia, bayi bernapas kurang dari 60 kali dalam satu menit, anak berusia dua bulan hingga satu tahun bisa bernapas kurang dari 50 kali dalam satu menit, dan anak berusia satu tahun sampai lima tahun bernapas kurang dari 40 kali dalam satu menit.

Baca juga  Jay Idzes Kembali Starter, Sassuolo Ditahan Imbang Genoa 2-2

 

Sedangkan orang dewasa normal umumnya memiliki frekuensi napas 12 sampai 20 napas dalam satu menit. “Kita lihat (anak) ini akan lebih sering dia bernapas dan sistem imunnya masih berkembang, sehingga pernapasan ini akan lebih banyak yang terhirup ke dalam saluran pernapasan,” kata dr. Fifi.

 

Oleh karena itu, penting untuk melindungi anak-anak dari paparan asap akibat terbakarnya vegetasi hutan dan atau lahan. Pemakaian masker dapat menekan dampak paparan asap. Jadi, anak-anak yang tinggal di daerah terdampak kebakaran hutan dan lahan sebaiknya dipastikan memakai masker saat melakukan aktivitas di luar ruangan.

 

 

Oleh Hreeloita Dharma Shanti

Editor : Maryati

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Manadones di saluran WHATSAPP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *