MANADO, 11 JULI 2026 – Bagi Widia Lahabinaung (32), warga Desa Lirung, Kecamatan Lirung Pulau Salibabu, Kabupaten Kepulauan Talaud, uang Rupiah bukan hanya sebagai alat pembayaran semata saat dirinya melakukan transaksi ekonomi.
Namun, Rupiah punya nilai lebih, terutama saat dibawa dalam kegiatan keagamaan yang dianutnya. Tak heran, saat mendapatkan informasi dari pemerintah kecamatan, tentang kehadiran Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2026 di di Pulau Salibabu, dirinya langsung bersiap.
Pada MANADONES, dia menceritakan, dirinya langsung mengumpulkan dan memilah uang kertas Rupiah lusuh namun layak edar, yang ditabungnya di rumah. Hasilnya, ada 11 lembar pecahan Rp50.000, dan dua lembar pecahan Rp20.000 yang dirasa layak untuk ditukarkan di ERB yang pertama kali menyambangi desa dan pulau mereka.
ibu rumah tangga, yang bekerja sebagai staf harian di salah satu sekolah negeri di Lirung mengaku, uang Rupiah lusuh dengan total Rp590.000 ini, berhasil ditukar dengan uang Rupiah layak edar Tahun Emisi (TE) 2022, pecahan Rp5.000 dan Rp2.000. “Uang baru itu, saya jadikan uang persembahan, saat beribadah di gereja. Serta untuk uang kecil untuk berbelanja kebutuhan di pasar dan toko,” ungkap Widia, sambil mengungkapkan rasa senangnya, saat memberikan uang persembahan ke gerejanya dengan uang Rupiah terbaru TE 2022.
Padangan serupa juga diungkapkan oleh Hiskia Harimisa, seorang pedagang retail di Lirung. Usai medapatkan informasi serupa dengan Widia, dirinya langsung mencari dan mengumpulkan uang Rupiah pecahan Rp50.0000 lusuh, dengan total Rp3.000.000, untuk ditukarkan dengan pecahan Rp 10.000 dan pecahan Rp2.000.
“Sebagai pedagang kios, uang Rupiah pecahan kecil seperti Rp1.000 dan Rp2.000 sangat kami butuhkan selain uang logam. Uang logam Rupiah masih kami gunakan juga dalam bertransaksi, sebagai uang kembalian. Serta jadi uang persembahan juga ke gereja,” katanya, sambil menyebut para pemilik kios di Lirung, sebagian besar turut pada antri untuk menukar uang di ERB 2026 yang digelar di area Kantor Kecamatan Lirung.
“Tidak semua yang saya tukarkan, saya jadikan uang kembalian. Uang Rupiah terbaru, sangat menarik, menyesal hanya sedikit yang saya tukarkan. Untuk itu sebagian saya simpan sendiri,” tandasnya.

Pengakuan diatas dibenarkan Camat Lirung, Jepri Bawuno yang menyebut Widia dan Harimisa adalah bagian dari 200 warga yang mengikuti rangkaian kegiatan ERB 2026 pada 24 Juni 2026 lalu. Bawuno mengungkap, walau jarak ke Kota General Santos, Filipina lebih dekat yaitu hanya sekitar 265 Km dari Lirung, dibanding Lirung ke Manado yang mencapai 464 Km (data dari Wikipedia), namun alat tukar dalam bertransaksi ekonomi adalah uang Rupiah.
“Uang Rupiah pecahan baru layak edar, yang mereka tukarkan telah digunakan dalam bertransaksi dan sebagain lainnya disimpan warga untuk kegiatan keagamaan, sebagai persembahan” ujar Bawuno, saat dihubungi melalui selularnya. Diapun berharap, kegiatan nasional dari Bank Indonesia (BI) yang bekerja sama dengan TNI AL, ini bisa terus menjadikan Pulau Salibabu sebagai tujuan ERB setiap tahunnya.
Dalam ERB 2026 yang berkolaborasi dengan aparat pertahanan melalu Kapal Republik Indonesia (KRI) Selar -879 milik TNI AL, pada Juni lalu masyarakat Kecamatan Lirung mendapatkan pengetahuan tambahan, dengan hadirnya sosialisasi tentang Cinta, Bangga dan Paham (CBP) Rupiah yang dibawakan langsung oleh Sutrisno dari didampingi 14 anggota BI.
Sosialisasi CBP yang dibawakan Sutrisno, mengingatkan masyarakat tentang menjaga uang Rupiah, dengan cara menghargai Rupiah, dan mampu mengenali Rupiah melalui metode Dilihat, Diraba dan Diterawang, atau metode 3D. Serta mampu menjaga Rupiah dengan Jangan Dilipat, Jangan Dicoret, Jangan Diremas, Jangan Disteples dan Jangan Dibasahi, atau metode 5J.
Pulau Salibabu sendiri, bersama Pulau Makalehi, Pulau Karatung, Pulau Kabaruang dan Pulau Miangas, menjadi tujuan ERB 2026 yang digelar medio Juni lalu. Saat melepas ERB 2026, pada 22 Juni 2026 di Pelabuhan Samuel Languyu Bitung, Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Provinsi Sulut, Joko Supratikto menyatakan selain berbatasan langsung Filipina, Pulau Salibabu masuk sebagai daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar di Indonesia atau daerah 3T.
Disebutnya, uang Rupiah layak edar terbaru Seri TE 2022 yang dibawa dalam ERB 2026 untuk lima pulau yang jadi pintu gerbang Indonesia sebanyak Rp5.500.000.000 miliar Seri TE 2026, mulai dari pecahan Rp1.000, Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000, Rp20.000, Rp50.000 dan Rp100.000, juga uang logam dengan kondisi terbatas.

Ditegaskan Supratikto, Rupiah memiliki arti strategi mulai dari menjaga stabilitas ekonomi, mengendalikan inflasi, serta mendorong kesejahteraan masyarakat, khususnya yang ada di daerah perbatasan. “Di setiap lembar Rupiah yang dibawa, terselip pesan bahwa negara hadir, menghargai dan melindungi masyarakat di ujung negeri. Menggunakan Rupiah adalah wujud jati diri anak bangsa dari bangsa yang berdaulat,” ungkap mantan Direktur di Departemen Jasa Perbankan, Perizinan, dan Operasional Tresuri Bank Indonesia.
Selain itu disebut dasar hukum hadirnya ERB yaitu melalui Penetapan Presiden No.27/1965 tanggal 13 Desember 1965, dan sesuai amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, Rupiah wajib digunakan dalam setiap transaksi di wilayah NKRI. “Selain hadirnya TNI AL dalam ERB ini, sudah dilakukan sejak 2012 lalu, melalui dukungan KRI dan aparat pertahanan mereka saat pendistribusian Rupiah ke 3T,” jelasnya.
Sementara KASAL, Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, S.E., M.M., M.Tr.Opsla dalam sambutannya mengaku bangga dengan hadirnya KRI Selar – 879 mendukung ERB 2026.

“Kehadiran Rupiah di daerah 3T menjadi simbol hadirnya negara, dan menguatkan 3T bagian yang tidak terpisahkan dari NKRI. Dengan ini saya perintahkan KRI Selar -879 memulai tugas ini dengan penuh rasa kebanggaan dan tanggungjawab yang tinggi,” kata Komandan Kodaerah VIII, Laksamana Muda (Laksda) TNI Dery Triesananto Suhendi, saat membacakan sambutan KASAL dalam pelepasan pada 22 Juni lalu.
Hadirnya ERB di kawasan 3T dinilai oleh akademisi dari Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Dr. Donna O Setiabudhi. SH, MH sebagai langkah tegas melalui kegiatan ekonomi nasional dalam menjaga kedaulatan NKRI. “Ini bukti nyata hadirnya negara di pelosok nusantara, tidak lagi hanya sebatas bendera dan bangunan pemerintahan,” kata lulusan doktor (S3) di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar ini.

Diterangkan Donna, kolaborasi terbaik antara BI dan TNI AL, dalam menjaga pintu gerbang Indonesia, melalui kehadiran mata uang nasional, Rupiah di pelosok NKRI, sangat tepat. Dan menjadi tindakan nyata kedaulatan ekonomi Indonesia melalui penggunan Rupiah sebagai bukti hadirnya negara Indonesia.
Sementara pakar Hukum Tata Negara dari Sulut, Toar Palilingan SH juga mengungkapkanPeristiwa lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan pada 2002 lalu, adalah contoh minimnya penggunaan simbol-simbol kehadiran negara Indonesia, seperti Rupiah dalam aktivitas ekonomi masyarakat di dua pulau yang kini jadi bagian negara tetangga kita. Dia pun berharap, hadirnya ERB ini menjadi bagian yang tak putus dari dukungan BI dan TNI AL dalam menjaga kedaulatan negara Indonesia.
Seperti yang dikutip MANADONES, dalam website BI https://www.bi.go.id/ bahwa pentingnya menjaga kedaulatan negara, dan Ekspedisi Rupiah Berdaulat menjadi wujud komitmen BI, untuk memastikan masyarakat di seluruh penjuru Indonesia memperoleh akses terhadap uang Rupiah layak edar, sekaligus memperkuat Rupiah sebagai simbol kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Mulai dari memastikan ketersediaan uang Rupiah yang berkualitas dan layak edar guna menjaga kelancaran aktivitas perekonomian dan mendukung momentum pemulihan ekonomi nasional. Dan memastikan uang Rupiah layak edar senantiasa tersedia dalam memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh wilayah NKRI.
Di tahun ini, target ERB 2026 secara nasional adalah menjangkau 115 pulau, atau sebanyak 97 hingga 115 pulau 3T, tergantung pada rincian program perluasan kegiatan yang mencakup 23 kali pelaksanaan di 19 provinsi, termasuk Sulawesi utara. (gracey wakary)





