MANADO, 30 OKTOBER 2026 – Bagi Vera Vitje Pelealu, bunyi alarm dari gawainya di setiap pukul 05.00 Wita subuh, bukan hanya penanda akhir tidur, tetapi menjadi tanda untuk segera menyiapkan kebutuhan sang suami, Sony Meydi Ering mulai dari makanan hingga perlengkapan, yang akan digunakannya saat bekerja sebagai kordinator ranger di Yayasan Masaran.
Menurut ibu dari dua putra ini, suaminya bukanlah pemilih makanan, namun sejak mereka menikah 23 tahun lalu, dirinya membiasakan menu hasil racikannya, sebagai makanan wajib bagi keluarganya sebelum keluar dari rumah untuk bekerja. “Ikan woku blanga, jadi kesukaan Sony sekaligus jadi bekal makan siangnya selama ini. Dia tidak terlalu suka dengan ikan yang digoreng,” ungkapnya pada MANADONES.
Diakui Sony, bekal makan siang buatan tangan sang istri memang menjadi bagian yang sulit dilepaskan, saat dirinya bekerja sebagai Kordinator Ranger di Yayasan Masarang, sejak 5 September 2005.
Ini cukup beralasan, karena saat mulai bekerja pukul 07.00 Wita di Pusat Rehabilitasi Monyet Yaki di (PRMY) Gunung Masarang milik Yayasan Masarang yang berada di Kelurahan Rurukan, Tomohon, pria lulusan SMP ini selalu berhadapan dengan alam yang indah dengan, dan macaca nigra alias yaki, si hewan endemik khas Sulawesi hingga membuat waktu makannya kadang terlupakan.

“Dengan adanya bekal dari rumah buatan istri, saya tidak perlu lagi jauh jauh untuk makan siang. Saya bisa sekaligus makan siang, dan tetap melakukan pengawasan pada sembilan yaki yang masuk dihabituasi,” ujar Sony, sambil menjelaskan habituasi adalah proses penyesuaian atau proses adaptasi bagi yaki yang ada di konservasi, sebelum dilepasliarkan di area baru yang serupa dengan kawasan alam mereka.
Dia kemudian mengungkapkan, pekerjaannya sebagai ranger makin mudah, usai masuknya program Lestari Manimpang: Dengan ‘Mapalus’ Torang Lestarikan dan Lindungi Monyet Yaki, dari PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) Area Lahendong, Sulawesi Utara (Sulut).
Diurainya kehadiran program Lestari Manimpang: Dengan ‘Mapalus’ Torang Lestarikan dan Lindungi Monyet Yaki, ini menghadirkan rumah jaga bagi para ranger, CCTV untuk mengawasi proses habituasi para yaki yang merupakan hasil sitaan dan pemberian sukarela warga sekitar di tahun 2025 lalu, dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dari semula 900 Watt menjadi 5.000 Watt (5 kW), untuk kawasan 6,94 Ha ini.
“Semua ini membantu kami, para ranger mengawasi dan menjaga para yaki yang disiapkan untuk dilepasliarkan ke kawasan Cagar Alam Gunung Ambang area Bolaang Mongondou Timur dan Minahasa Selatan,” ungkapnya, sembari menambahkan kini pegawasan pada para yaki, dilakukan oleh empat ranger, dalam 12 jam setiap harinnya.
Menurut Akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado Ir. Johny S. Tasirin, M.Sc., Ph.D., yang dikenal sebagai peneliti macaca dan tarsius, program Lestari Manimpang: Dengan ‘Mapalus’ Torang Lestarikan dan Lindungi Monyet Yaki, dari PGE ikut mendorong populasi dari monyet endemik Sulawesi makin baik dan bertambah.
“Kolaborasi menjaga lingkungan antara PGE, Masarang dan pemerintah, akan membuat populasi macaca nigra makin meningkat, terutama di kawasan kawasan baru yang pas sebagai rumah mereka,” jelas pengajar di Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian Unsrat, saat dihubungi MANADONES siang tadi.
Ini dikuatkan dengan data yang diterimanya, dimana hasil pemantauan selama 10 tahun ini, populasi dari satwa yang yang berstatus Critically Endangered (CR) dan termasuk satwa dilindungi, meningkat dibanding dari kawasannya utamnya yaitu Tangkoko, Bitung – Minahasa Utara, Sulawesi utara. Dimana, dalam penelitiaannya di kawasan bawah kaki Gunung Lokon Tomohon area Kayuuwi, telah terlihat satu kawanan yang terdiri dari 12 macaca nigra, kemudian di bagian area hutan Gunung Klabat, dan kawanan kecil di Gunung Ambang sekira empat hingga enam macaca.
“Kesadaran masyarakat untuk melindungi habitat dan menjaga keberlangsungan macaca nigra makin baik dari tahun ke tahun. Sulawesi merupakan kerajaan Macaca Nigra,” urainya, sembari menegaskan si monyet yang memiliki pantat merah ini, masih dikategorikan sebagai satwa kritis (Critically Endangered) dalam Daftar Merah IUCN serta dilindungi penuh oleh hukum Indonesia melalui Peraturan Menteri LHK No. P.106/2018. Serta disebut juga, kehadira macaca nigra amat penting pada kelangsungan ekosistem hutan, Tasrin menyebut mereka adalah petani pohon terbaik, yang menyemai benih pohon demi keberlangsungan hidup hutan.
Dalam data pemantauan dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), untuk rincian estimasi populasi Macaca nigra (https://ksdae.kehutanan.go.id/spesies/rencana-aksi/?page=2 ), ada sekitar 4.000 Macaca yang tersebar di Pulau Sulawesi terutama di kawasan hutan yang jauh dari pemukiman penduduk.
Macaca nigra merupakan primata esar dengan memiliki bulu super hitam dengan jambul di kepalanya, serta warna merah area pantat, saat musim kawin tiba, dan diperkirakan mampu berusia hingga 30 tahun dalam habitat yang sehat.
General Manager PGE Area Lahendong Yanuaris Dwi Cahyono dalam keteranganya pada media mengatakan, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) adalah anak usaha PT Pertamina (Persero) yang bergerak di bidang eksplorasi, eksploitasi, dan pemanfaatan energi panas bumi (geothermal) di Indonesia, yang kini hadir dengan semangat “The Home of Geothermal Beyond Energy”.
“PGE Area Lahendong terus mendorong upaya konservasi yang sesuai dengan karakteristik wilayah operasi, dengan mengintegrasikan perlindungan keanekaragaman hayati, keterlibatan masyarakat, serta mengembangkan potensi ekonomi lokal. Yaki adalah satwa yang dilindungi dan masuk kritis, kami hadir untuk itu, selain program CSR lainnya,”katanya.
Senada juga dikatakan oleh Direktur Utama PGE Ahmad Yani, bahwa pengembangan panas bumi perlu berjalan berdampingan dengan perlindungan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. “Pengembangan panas bumi perlu melihat konteks ekologis dan sosial di setiap wilayah operasi. Bagi PGE, keberlanjutan merupakan bagian dari bagaimana kami menjalankan operasional dan mengembangkan potensi panas bumi dengan tetap memperhatikan perlindungan keanekaragaman hayati serta manfaat bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi,” terang Ahmad Yani.
Guru Besar Unsrat, Prof Dr Joy Tulung menyebut CRS atau TJSL, bagian wajib dari perusahaan untuk mewujudkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan serta meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan bagi masyarakat sekitar. “Dan ini dijamin oleh UU No 40 Tahun 2007 serta PP No 47 Tahun 2012. Dimana tujuannya adalah untuk mendukung keseimbangan ekosistem, pemberdayaan masyarakat dan keberlangsungan bisnis,” urai dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsrat.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) merupakan bagian dari Subholding Power & New Renewable Energy (PNRE) PT Pertamina (Persero) yang bergerak di bidang eksplorasi, eksploitasi, dan produksi panas bumi, dan telah hadir beroperasi di Lahendong Tomohon sejak 2001.
Saat ini PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan kapasitas terpasang sebesar 1.932 MW, terbagi atas 727 MW yang dioperasikan dan dikelola langsung oleh PGE dan 1.205 MW dikelola dengan skema Kontrak Operasi Bersama. Kapasitas terpasang panas bumi di wilayah kerja PGE berkontribusi sekitar 70% dari total kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia, dengan potensi pengurangan emisi CO2 sebesar sekitar 10 juta ton CO2 per tahun. (graceywakary)






