Cabai di Pekarangan, Harapan di Pasaran

Arsip - Petani memanen cabai di kawasan Lakarsantri, Surabaya, Jawa Timur belum lama ini. Pemkot Surabaya terus menggenjot produksi dan penanaman cabai melalui kelompok tani serta program urban farming guna menjaga stabilitas pasokan dan menekan harga menjelang akhir tahun. ANTARA/Diskominfo Surabaya

 

 

Bacaan Lainnya

 

 

 

JAKARTA, 4 NOVEMBER 2026 (ANTARA) – Cabai sering menempati ruang kecil dalam daftar belanja, tetapi gejolak harganya dapat mengubah perhitungan dapur keluarga.

 

Bagi sebagian rumah tangga, kenaikan beberapa ribu rupiah per kilogram terasa nyata karena cabai menjadi pelengkap yang hampir selalu hadir dalam masakan. Bagi pemerintah, komoditas ini juga memiliki arti lebih luas karena pergerakan harganya ikut memengaruhi inflasi pangan.

 

Menjelang akhir 2026, kewaspadaan terhadap gejolak harga cabai bukan tanpa alasan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada pekan keempat Oktober harga cabai merah meningkat 23,47 persen dibandingkan September 2026, sedangkan cabai rawit naik 12,49 persen.

 

Khusus cabai rawit, kenaikan harga dibandingkan Desember 2025 telah mencapai 29,71 persen. Harga rata-rata nasional tercatat Rp88.642 per kilogram, jauh di atas batas atas Harga Acuan Penjualan (HAP) sebesar Rp57.000 per kilogram. Kenaikan harga cabai merah terjadi di 327 kabupaten/kota, sedangkan cabai rawit di 269 kabupaten/kota.

 

Di Jawa Timur, tekanan harga tersebut tercermin dalam inflasi bulanan Oktober 2026 sebesar 0,07 persen dan inflasi tahunan 3,09 persen. BPS Jawa Timur mencatat cabai merah memberikan andil 0,05 persen terhadap inflasi bulanan, sedangkan cabai rawit menyumbang 0,02 persen. Keduanya menjadi komoditas pendorong inflasi bersama tomat, labu siam, dan ikan bandeng.

 

Persoalan produksi juga berkaitan dengan kondisi cuaca. BPS Jawa Timur mencatat sebagian besar wilayah provinsi tersebut belum memasuki musim hujan hingga Oktober 2026. Keterbatasan air dan kondisi cuaca yang kurang mendukung menyebabkan kerusakan tanaman, penurunan hasil panen, serta terbatasnya pasokan di pasar.

 

Secara nasional, BMKG memprakirakan awal musim hujan 2026/2027 mengalami kemunduran di 529 zona musim atau mencakup 61,08 persen luas daratan Indonesia. Sementara itu, Bapanas mengingatkan bahwa permintaan cabai cenderung meningkat menjelang akhir tahun.

 

Meskipun pasokan nasional diperkirakan mencukupi, kelancaran distribusi dari sentra produksi ke wilayah konsumen tetap menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga.

 

Kebun perkotaan

 

Dalam konteks itulah gerakan menanam cabai di Kota Surabaya, Jawa Timur memperoleh relevansi. Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian menanam 4.100 bibit cabai di 2.050 polibag pada lahan bekas tanah kas desa di Jambangan.

 

Pengembangan tersebut melibatkan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk mengembangkan teknologi budidaya yang diharapkan membuat tanaman lebih tahan terhadap hama dan hasil panen tidak mudah membusuk. Panen ditargetkan mulai Desember 2026.

Baca juga  Ini Dia Pernyataan Terbaru dari DJP tentang Pemeriksaan Pajak

 

Langkah di Jambangan bukan kegiatan yang berdiri sendiri. Surabaya Urban Farming Competition (SUFC) 2026, yang memasuki tahun kelima, mendorong budidaya cabai rawit dan bawang merah melalui kelompok tani, RT/RW, serta lingkungan Kampung Pancasila. Hingga akhir Oktober, program ini melibatkan 462 peserta dari 231 RW, setara 92,4 persen dari target awal 250 RW. Program Kampung Pancasila sendiri diarahkan menjangkau 1.361 RW.

 

Angka partisipasi itu memperlihatkan modal sosial yang mulai terbentuk. Kota yang identik dengan permukiman padat ternyata masih memiliki ruang untuk produksi pangan, baik melalui pekarangan, pot, polibag, lahan aset, fasilitas umum, maupun tanah yang belum dimanfaatkan.

 

Urban farming juga dapat mengubah kegiatan menanam dari urusan individual menjadi kerja kolektif. Pengetahuan tentang penyemaian, media tanam, pemupukan, penyiraman, dan pengendalian hama dapat dibagikan antarwarga sehingga kemampuan budidaya tidak berhenti pada peserta lomba.

 

Namun, keberhasilan gerakan ini perlu diukur secara jernih. Sebanyak 4.100 bibit bukan berarti 4.100 kilogram cabai akan tersedia di pasar. Hasil panen bergantung pada tingkat hidup tanaman, produktivitas setiap pohon, waktu panen, dan keberhasilan perawatan.

 

Informasi mengenai perkiraan total produksi seluruh peserta, kebutuhan cabai harian Surabaya, serta bagian pasokan yang dapat dipenuhi dari urban farming belum tersedia dalam informasi program yang dipublikasikan. Tanpa data itu, besarnya dampak terhadap harga pasar belum dapat dipastikan.

 

Di sinilah batas sekaligus kekuatan urban farming perlu ditempatkan. Kebun rumah dan kebun RW tidak serta-merta menggantikan pasokan dari sentra produksi yang memasok kebutuhan kota. Skala produksinya tersebar, jumlahnya tidak selalu seragam, dan hasilnya dapat lebih dahulu digunakan untuk konsumsi keluarga.

 

Akan tetapi, setiap panen yang dimanfaatkan rumah tangga mengurangi sebagian kebutuhan belanja dari pasar. Jika dikelola secara kolektif, kelebihan hasil panen dapat dihimpun dan disalurkan ke lingkungan sekitar.

 

Gerakan ini juga menghadapi tantangan keberlanjutan. Kompetisi dapat memantik semangat pada awal kegiatan, tetapi tanaman membutuhkan perawatan setelah penilaian dan seremoni berakhir. Tanpa jadwal penyiraman, pendampingan teknis, pengendalian hama, serta kepastian siapa yang merawat lahan bersama, kebun berisiko berhenti sebagai proyek musiman.

 

Keberhasilan seharusnya tidak semata dinilai dari jumlah bibit yang dibagikan atau peserta yang mendaftar, melainkan dari tanaman yang bertahan, hasil panen, dan kesinambungan kegiatan.

 

Manfaat terukur

 

Agar gerakan menanam berkontribusi lebih kuat, Pemkot Surabaya perlu menautkan urban farming dengan tata kelola pasokan pangan. Langkah awalnya adalah membangun pencatatan sederhana di tingkat RW mengenai jumlah tanaman hidup, perkiraan panen, waktu panen, dan hasil yang benar-benar dipetik.

Baca juga  IHSG Jumat Dibuka Menguat 42,55 Poin

 

Data itu dapat dipadukan dengan pemantauan harga serta kebutuhan pasar. Dengan demikian, pemerintah memiliki gambaran apakah panen lokal hanya menopang konsumsi keluarga atau sudah dapat memasok pasar lingkungan. Hasil panen juga perlu memiliki jalur pemanfaatan yang jelas. Kelompok tani dan warga dapat mengagregasi kelebihan produksi untuk dipasarkan melalui pasar lingkungan, koperasi, atau jaringan pedagang setempat.

 

Pola ini membantu petani perkotaan memperoleh manfaat ekonomi sekaligus mencegah hasil panen tercecer dalam jumlah kecil. Pemerintah dapat mempertemukan kelompok produsen dengan pembeli tanpa mengambil alih kegiatan usaha warga.

 

Di sisi lain, pengendalian harga tidak boleh dibebankan kepada kebun kota saja. Surabaya tetap membutuhkan pasokan dari sentra produksi di dalam maupun luar Jawa Timur. Koordinasi antardaerah, pemantauan distribusi, informasi stok, dan kelancaran angkutan perlu berjalan beriringan dengan gerakan menanam.

 

Apabila masalah utama muncul karena panen di daerah pemasok terganggu atau distribusi tersendat, penanganannya harus menyasar sumber gangguan tersebut. Urban farming berperan sebagai penyangga, bukan pengganti seluruh sistem pasokan.

 

Pendampingan teknologi bersama ITS juga perlu bergerak dari tahap pengembangan menuju pengujian dan penerapan yang terukur. Keunggulan metode budidaya perlu dibuktikan melalui tingkat keberhasilan tanaman, produktivitas, ketahanan terhadap hama, dan kualitas hasil panen.

 

Hasil uji yang baik dapat disebarluaskan kepada kelompok tani dan warga, disertai panduan sederhana yang mudah diterapkan. Dengan begitu, inovasi perguruan tinggi tidak berhenti sebagai proyek percontohan, tetapi memperkuat kapasitas masyarakat.

 

Menjelang Desember, target panen cabai dan bawang merah patut disambut sebagai tambahan ikhtiar menjaga pasokan. Namun, pemerintah perlu mengomunikasikan hasilnya secara proporsional.

 

Bila kontribusi panen belum cukup besar untuk mengubah harga pasar, manfaatnya tetap dapat dilihat dari penghematan rumah tangga, tumbuhnya keterampilan warga, pemanfaatan lahan terbengkalai, dan hubungan sosial yang lebih kuat di tingkat kampung.

 

Ketahanan pangan perkotaan tidak dibangun hanya dengan menanam sebanyak-banyaknya, tetapi dengan memastikan tanaman tumbuh, panen termanfaatkan, dan pasokan dari luar daerah tetap terjaga. Dari satu polibag di halaman rumah hingga kebun bersama di Jambangan, Surabaya sedang menguji cara memperpendek jarak antara warga dan pangan yang dikonsumsi.

 

Jika dirawat dengan data, pendampingan, dan jaringan distribusi yang baik, urban farming tidak hanya menjadi respons sesaat terhadap mahalnya cabai, melainkan kebiasaan produktif yang memperkuat daya tahan kota.

Oleh Abdul Hakim

Editor : Dadan Ramdani

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Manadones di saluran WHATSAPP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *