Ade Irma Suryani Hembuskan Nafas Terakhir di Dekapan Perawat asal Sangihe

TAHUNA, 28 SEPTEMBER 2021 — Peristiwa G30 S PKI, menjadi salah satu peristiwa yang tidak pernah dilupakan oleh seluruh warga negara Indonesia, peristiwa ini juga menjadi hal yang paling kelam bagi seorang Alpiah Makasebape.

Oma kelahiran 25 Desember 1936, selalu sedih dan menangis, kala waktu mulai bergerak mendekati tanggal 30 September. Bagi wanita, asal Desa Hesang Kecamatan Tamako, tanggal tersebut disebutnya sebagai tanggal kesedihan yang membekas dalam.

Bacaan Lainnya

“Ade itu, bukan nama, tetapi sebutan kesayangan saya untuk putri kecil Pak Nasution, Irma Suryani Nasution,” tutur Oma dengan suaran serak dan kecil. Ade, dijelaskannya, adalah panggilan kesayangan bagi putra putri terkecil dalam keluarga di Sangihe.

Oma Alpiah, kemudian menceritakan kisah hidupnya, yang diminta menjadi perawat bagi seorang putri kecil dari keluarga tentara yang berpengaruh di negeri ini, Jendral AH Nasution, yang akhirnya menjadi korban kekerasan dari tindakan oknum tak bertanggung jawab yang menginginkan kekuasaan negeri ini.

Baca juga  Danlanudsri Sabet Juara Tiga di Lomba Menembak Piala Kapolda Sulut

Dia menjadi perawat Ade Irma, sejak tahun 1960, kejadian tragis G30S PKI tahun 1965 juga dilaluinya dengan pahit bersama keluarga Pahlawan Revolusi ini. Bagi Oma Alpiah, Ade Irma yang beda dengan anak anak sang jendral lainnya yang disebutnya sebagai anak anak yang telah remaja, sementara Ade Irma adalah anak bungsu yang mungil dan di lucu.

“Saat kejadian penyerbuan, saya berusaha menjaga dan melindungi Ade, kami berdua berusaha untuk bersembunyi. Namun, tanpa saya sadari Ade Irma kena tembakan. Dia, menghembuskan nafas terakhir dalam dekapan saya, itu sebuah kesedihan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata kata,” ungkap Oma Alpiah, sambil menahan tangis.

Menyaksikan kekejaman dan kepergian Ade Irma, membuat Alpiah trauma berkepanjangan, pekerjaan nya sebagai perawat pun sempat ditinggalkan nya. Namun melalui berbagai cara dan pengobatan, wanita kuat ini akhirnya mampu menjalani hidup lagi, usai kehilangan orang yang disayanginya. Keluarga Nasution sendiri berulang kali memintanya untuk tetap bersama mereka, namun peristiwa Ade Irma membuatnya tidak bisa menetap di rumah sang Jendral, itu kenangan buruk dan paling kelam dalam hidupnya.

Baca juga  Gegara Rem Blong Truck Lanal Tahuna Tabrak Tenda Duka Keluarga Makawowode-Tengkue

Dan hingga kini, Oma Alpiah memilih menghabiskan waktu di kampung tercintanya. “Tapi, rasa sedih itu tidak pernah hilang, selalu ada dan membekas, seperti jelang hari kejadian 30 September,” tutupnya.

Masyarakat Indonesia, tidak akan pernah lupa kejadian yang membuat Ibu Pertiwi kehilangan para penjaga yang luar biasa, 30 September 1965 sebanyak tujuh Jendral, 3 perwira pertama TNI dan satu anak kecil (Ade Irma) diculik dan dihabisi nyawanya, demi mendapatkan kekuasaan. (Ryansengala)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Manadones di saluran WHATSAPP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *