MANADO, 24 NOVEBMBER 2021 – Turunnya jumlah kasus Covid –19 di Sulawesi utara (Sulut) sejak Februari lalu dan percepatan vaksinasi, menjadi beberap indikator capaian pertumbuhan ekonomi (PE), di 2022 mendatang.
Dimana dalam Acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2021, bertemakan Bangkit dan Optimis: “Sinergi dan Inovasi Untuk Pemulihan Ekonomi”, yang digelar secara nasional dan virtual pagi tadi, Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulut, Arbonas Hutabarat mengungkap data-data indikator perekonomian terkini.
Dimana, BI Sulut memperkirakan PE Sulut menguat pada tahun 2021 yaitu akan berada pada kisaran 4,2% s.d 5,0% (yoy) dan terus menunjukkan perbaikan pada kisaran 4,5 – 5,5 % (yoy) pada tahun 2022.
Tahun 2021 merupakan tahun bangkitnya perekonomian Sulawesi Utara. Setelah mengalami pertumbuhan negatif selama 3 (tiga) triwulan berturut-turut pada tahun 2020, perekonomian Sulut tumbuh 1,87% (yoy) pada triwulan I dan 8,49% (yoy) pada triwulan II 2021. Hadirnya, varian delta dari COVID-19 yang menyebar dengan cepat menyebabkan proses pemulihan perekonomian kembali terhambat.
PPKM kembali diberlakukan di Indonesia sepanjang Juli-Agustus 2021, sehingga kinerja perekonomian nasional dan daerah kembali tertahan. “Alhasil pada triwulan III, perekonomian hanya Sulut tumbuh sebesar 3,15% (yoy) bersamaan dengan melambatnya konsumsi masyarakat,” kata Arbonas dalam sambutannya ini.
Kala itu, realisasi anggaran pemerintah tidak bisa secepat pada semester I. Demikian pula permintaan negara-negara mitra dagang tercatat menurun sehingga menyebabkan pertumbuhan ekspor Sulut kembali melambat pada triwulan III. Meski demikian, kami menilai perekonomian Sulut masih berada dalam arah lintasan (trajektori) perbaikan sebagaimana ditunjukkan oleh pertumbuhan kumulatif triwulan III 2021 sebesar 4,45% (ctc).
Namun, memasuki triwulan IV 2021, ekonomi diprakirakan menguat seiring dengan penurunan kasus aktif COVID-19 dan percepatan vaksinasi di Sulawesi Utara. Dimana, kinerja industri dan pertanian diperkirakan tetap positif sejalan dengan tren positif ekspor luar negeri komoditas andalan Sulut.
Percepatan realisasi belanja modal maupun operasional baik yang bersumber dari APBD maupun APBN juga diperkirakan akan meningkat sesuai dengan pola musimannya dan menjadi salah satu sumber pertumbuhan perekonomian Sulut. Dari data BI Sulut, sampai dengan September 2021 kredit berlokasi proyek di Sulut tercatat tumbuh 9,86% (yoy) dengan kualitas penyaluran kredit yang terjaga pada rasio NPL sebesar 2,93%.
Bercermin dari dinamika tahun 2021, terbatasnya aktivitas dan mobilitas masyarakat berpengaruh signifikan pada proses pemulihan ekonomi, sedangkan proses vaksinasi berperan penting dalam mengawal peningkatan aktivitas di tengah kondisi pandemi yang masih berlangsung.
Sejalan pemulihan perekonomian, tekanan inflasi di Sulawesi Utara mengalami peningkatan yang terpantau pada dua kota pencatatan inflasi yaitu Manado dan Kotamobagu. “Selanjutnya inflasi tahun 2022 kami perkirakan akan meningkat sejalan dengan akselerasi pemulihan ekonomi daerah,” terang Arbonas lagi.
Dia pun menyebut tekanan inflasi untuk tahun 2022 diperkirakan masih akan terkendali pada rentang 3,0 ± 1% (yoy) baik di Manado maupun Kotamobagu. “Oleh karena itu, optimisme dan perspektif positif perlu terus diperkuat untuk menyongsong masa depan ekonomi Sulut yang lebih baik. Mari Bersinergi. Torang Bisa,” tandasnya. (gracey wakary)





