OJK RI ungkap UMKM Penerima Terbesar dari Stimulus Pemerintah

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar.

MANADO, 2 APRIL 2024 – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) RI, resmi menyatakan ke publik per 31 Maret 2024 berakhirnya kebijakan stimulus restrukturisasi kredit perbankan untuk dampak Covid-19.

 

Bacaan Lainnya

Diungkapkan bahwa restrukturisasi kredit yang diterbitkan sejak awal 2020 lalu, telah banyak dimanfaatkan oleh debitur terutama pelaku UMKM. OJK dalam siaran pers yang diterima MANADONES menilai kondisi perbankan Indonesia saat ini memiliki daya tahan yang kuat (resilient) dalam menghadapi dinamika perekonomian dengan didukung oleh tingkat permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, dan manajemen risiko yang baik. Ketua Dewan Komisioner OJK RI,  Mahendra Siregar, menyampaikan selang empat tahun implementasi, pemanfaatan stimulus restrukturisasi kredit ini telah mencapai Rp830,2 triliun, yang diberikan kepada 6,68 juta debitur pada Oktober 2020, yang merupakan angka tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

 

Diurai juga, 75 persen dari total debitur penerima stimulus ini, adalah dari segmen usaha mikro kecil menengah (UMKM), atau sebanyak 4,96 juta debitur dengan total outstanding Rp348,8 triliun. Sejalan dengan pemulihan ekonomi yang terjadi, tren kredit restrukturisasi terus mengalami penurunan baik dari sisi outstanding maupun jumlah debitur. Pada Januari 2024, outstanding kredit restrukturisasi Covid-19 telah menurun signifikan menjadi sebesar Rp251,2 triliun yang diberikan kepada 977 ribu debitur. “Dalam menghadapi berakhirnya kebijakan stimulus Covid-19, OJK telah mempertimbangkan seluruh aspek secara mendalam yaitu dengan melihat kesiapan industri perbankan, kondisi ekonomi secara makro dan sektoral, serta menjagakepatuhan terhadap standar internasional. Dan, berdasarkan evaluasi dan laporan uji ketahanan perbankan menjelang berakhirnya stimulus, potensi kenaikan risiko kredit (NPL) dan ketahanan perbankan diproyeksikan masih terjaga dengan sangat baik,” jelas Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK RI,  Dian Ediana Rae.

Baca juga  OJK Melarang Pemasaran Efek Offshore Product

 

Disampaikan juga, outstanding kredit restrukturisasi Covid-19 perbankan terus mengalami penurunan namun tingkat pencadangan (CKPN) yang dibentuk bank terus meningkat, melebihi periode sebelum pandemi. Kondisi ini merupakan cerminan kesiapan perbankan yang dinilai telah kembali pada kondisi normal secara terkendali (soft landing) mengakhiri periode stimulus. Di sisi lain, seiring dengan pandemi yang mereda dan pencabutan status pandemic oleh Pemerintah, perekonomian Indonesia di hampir seluruh sektor juga kembali pulih dengan pertumbuhan 5,04 persen pada tahun 2023. “Mempertimbangkan hal-hal di atas, kebijakan stimulus OJK yang merupakan kebijakan sangat penting (landmark policy) dalam menjaga ketahanan sektor perbankan selama masa pandemi, berakhir sesuai dengan masa berlakunya. Kontribusi ini merupakan kisah keberhasilan (success story) kontribusi signifikan sektor perbankan menopang perekonomian nasional melewati periode pandemic,” tambahnya.

Baca juga  Telkomsel Hadirkan Telkomsel One

 

Untuk memastikan kelancaran normalisasi kebijakan tersebut, sebutnya, maka bank tetap dapat melanjutkan restrukturisasi kredit Covid-19 yang sudah berjalan. Sedangkan permintaan restrukturisasi kredit baru dapat dilakukan dengan mengacu padakebijakan normal yang berlaku yaitu POJK No. 40/2019 tentang Kualitas Aset. Dengan demikian, integritas laporan keuangan perbankan diharapkan akan semakin baik dan dapat sepenuhnya mengacu pada praktik terbaik yang berlaku (best practice) standar keuangan. Seiring dengan hal tersebut, OJK senantiasa melakukan langkah pengawasan (supervisory action) untuk memastikan kesiapan setiap bank secara individu. (graceywkary)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *