Menjaga Tanah Kalakeran Rumah Ibadah Penghayat LAROMA Diamuk Massa

Kawasan Gunung Lolombulan yang ada dibelakang area penduduk di Minsel.

MANADO, 8 NOVEMBER 2024 – Bagi Iswan Sual dan keluarganya, Gunung Lolombulan, bukan hanya sekadar area hutan belaka, namun daerah sakral yang harus dijaga.

 

Bacaan Lainnya

Menurut Sual, saat ditemui MANADONES walau tidak masuk dalam kategori sebagai gunungapi aktif di Sulawesi utara (Sulut), namun kawasan yang letaknya ada di empat kecamatan di Minahasa Selatan Minsel, yaitu Sinonsayang, Tenga, Kumelembuai, dan Motoling ini, telah ditetapkan sebagai kawasan Hutan Lindung oleh Pemerintah pusat melalui Peraturan Menteri Kehutanan Tahun 2014.

 

Bagi Sual, yang juga bagian dari penghayat kepercayaan Lolong Rondor Malesung (LAROMA), Gunung Lolombulan adalah salah satu bagian dari LAROMA yang harus dijaga.

 

Wale Paliusan, saat telah diperbaiki, yang kini sudah berdiri di Tondei.

“Gunung Lolombulan masuk sebagai Tanah Kalakeran, atau tanah yang harus dijaga dan tidak bisa dijadikan tanah pribadi tapi bisa dimanfaatkan. Bagi kami tanah Gunung Lolombulan juga suci,” kata Sual. Suci dalam arti adalah kawasan yang harus selalu dijaga oleh mereka, sebagai kawasan adat LAROMA. Bukan hanya Lolombulan, Laroma juga mengakui keberadaan hutan di Sinonsayang sebagai kawasan Tanah Kalakeran. Dimana, para penghayat bisa melakukan ibadah pemujaan dan doa di area  tanah Kalakeran tersebut.

Baca juga  Dirut PKT Rahmad Pribadi Dinobatkan sebagai CEO Terbaik Anak Perusahaan BUMN

 

Aksi menjaga, yang dilakukan Sual dan para anggota Penghayat Kepercayaan LAROMA lainnya, pada tanah tanah Kalakeran peninggalan tetua, yang kini diakui pemerintah sebagai kawasan hutan lindung, membuat Wale Paliusan, yang bisa disebut rumah ibadah mereka yang ada di Desa Tondey II Kecamatan Motoling Barat, Minsel diamuk massa pada 21 Juni 2022 lalu. Walau begitu, ini tidak meruntuhkan niat mereka untuk tetap menjaga dan melindungi hutan  yang ada di kawsan Gunung Lolombulan dan Sinonsayang.

 

Dishut Sulut di Hutan Lindung Gunung Lolombulan saat melakukan penjagaan.(foto Viando)

Sual juga menduga, aksi oknum oknum tidak bertanggung jawab pada rumah ibadah mereka, ditunggani oleh banyak kepentingan mulai dari latar belakang politik dan bisnis. “Karena di Tanah Kalakeran, masih ada oknum warga yang melakukan pembalakan, yang sering kami temui saat melakukan aksinya. Mereka menebang pohon di hutan yang dilindungi, dan kami selalu menanam kembali apa yang mereka tebang,” ungkapnya, sembari menyebut dugaan aksi pembalakan tanpa ijin sudah berlangsung lama dan menghasil nilai rupiah yang tidak sedikit, sementara untuk dugaan politis adalah berlatar belakang pencarian suara menjelang Pilkada lalu.

 

Walau sempat merasakan hal yang menyesakkan namun para anggota Penghayat Kepercayaan LAROMA, hingga kini terus melakukan penjagaan dan kawasan kawasan yang menjadi Tanah Kalakeran. “Kami hanya mengenal Tanah Kalakeran dan Tanah Pasini. Dan kami mengakuui Tanah Kalakeran adalah kawasan yang masuk hutan yang dilindungi,” tambah Sual

Baca juga  Pemkab Kepulauan Sangihe -- BNN Tegaskan Tolak Narkoba

 

Sekretaris Dinas Kehutanan Sulut, Arfan Makalunsenge S Hut, kawasan Gunung Lolombulan menyebut adalah kawasan hutan lindung dan dilarang adanya pembalakan liar. “Kami selalu melakukan operasi, dan dengan anggota yang terbatas da nada juga bekerja sama dengan anggota TNI POLRI, walau kami akui kami juga memiliki keterbatasan,” ungkapnya sembari menyebut dugaan aksi pembalakan belum pernah ditangkap tangan di kawasan yang dilindungi.

 

Dia juga menyebut kawasan hutan yang dijadikan Tanah Kalakeran dari penghayat kepercayaan LAROMA, kaya dengan flora dan fauna mulai dari Macaca  Nigra hingga tanaman langka da dilindungi sekelas angrek bulan jenis tertentu dan pohon lainnya. “Sepanjang kawasan hutan lindung tidak dilakukan perambahan,alih fungsi hutan dan pembalakan, kami tidak melarang untuk dilakukan aktivitas,” jelasnya. Dia juga mengungkap, Dishut melalui Polisi Hutan terus menjaga kawasan dari aksi aksi sepihak oknum, yang mencari keuntungan demi rupiah dan mengorbankan kelestarian hutan. (graceywakary)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Manadones di saluran WHATSAPP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *