MANADO 12 JULI 2025 – Masyarakat Manado ternyata telah memanfaatkan PayLater sebagai metode pembayaran sehari-hari.
Dalam data Kredivo, Manado menjadi salah satu wilayah dengan perkembangan yang menjanjikan. Tercatat, jumlah pengguna Kredivo di Manado pada 2024 meningkat 74,77% dibanding pada 2022, dengan lonjakan jumlah transaksi sebesar 96,43% di periode yang sama. “Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Manado semakin familiar dan nyaman menggunakan layanan PayLater. Lebih dari itu, PayLater kini juga telah menjadi bagian dari metode pembayaran harian masyarakat Manado,” kata VP Marketing & Communications Kredivo, Indina Andamari dalam konfrensi pers sore tadi yang dihadiri secara daring oleh MANADONES.
Dia juga mengungkapkan Paylater Kredivo pada pengguna yang memilih tenor 1 bulan dengan fasilitas bunga 0% pada 2024 meningkat signifikan, naik 98% dibanding 2022. Hal ini menjadi indikator bahwa pengguna makin bijak dalam mengelola cash flow, memilih tenor pendek untuk belanja sehari-hari tanpa menimbulkan beban keuangan jangka panjang. Pilihan ini sejalan dengan strategi Kredivo dalam memberikan limit kredit secara bertanggung jawab dan proporsional.
“Peningkatan signifikan pada jumlah transaksi, pengguna, dan preferensi tenor 30 hari menunjukkan bahwa PayLater di Manado tidak hanya tumbuh secara ekspansif, tetapi juga sehat. Kami juga melihat bahwa PayLater semakin dipersepsikan sebagai solusi pembayaran harian yang membantu memenuhi kebutuhan tanpa membebani cash flow,” ungkapnya.
Kota Manado sediri terang Andamari masuk sebagai kota-kota premium. Dimana Paylater Kredivo menyediakan limit hingga Rp50 juta dan tenor cicilan hingga 24 bulan. Ekspansi ini juga, jelasnya diperkuat lewat kemitraan dengan merchant offline lokal dan kampanye edukasi serta pemasaran yang relevan, termasuk dengan menggandeng figur publik seperti Andre Taulany untuk menjangkau masyarakat secara luas dan inklusif.
Nailul Huda, Direktur Ekonomi Digital CELIOS, ikut mengungkapkan, pertumbuhan PayLater di daerah menunjukkan bahwa masyarakat semakin mencari solusi keuangan yang relevan dengan kebutuhan, mudah diakses, cepat, dan terjangkau. “Ini sinyal positif bahwa gaplayanan keuangan formal mulai terisi. Namun, pertumbuhan PayLater harus dijaga arahnya. Salah persepsi soal PayLater, risiko gagal bayar, hingga pencatatan negatif di SLIK adalah dampak serius yang perlu diantisipasi akibat rendahnya literasi masyarakat,” terangnya.
Kehadiran PayLater harus diiringi dengan sikap bijak dalam menggunakan layanan teknologi finansial ini, agar tidak merugikan diri sendiri. Karena itu,edukasi terkait dengan “pinjam dengan bijak” bukan sekadar pelengkap, namun menjadi kewajiban agar pertumbuhan ini sehat dan inklusif. (gracey wakary)





