MANADO, 11 SEPTEMBER 2025 – Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi utara (Sulut), pada awal bulan lalu kembali memberikan data tentang terjaganya inflasi di Nyiur melambai, untuk bulan ke bulan atau month to month (mtm), dengan capaian deflasi sebesar 1,11%.
Capaian ini, dijelaskan oleh akedemisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Joy Tulung SE MSc PhD juga menarik dikaji dan perlu dicermati dengan hati-hati. Dimana diurai di satu sisi, turunnya harga-harga dapat meringankan beban masyarakat, tetapi jika berlangsung terlalu lama, deflasi justru bisa menjadi tanda melemahnya daya beli dan permintaan domestik.

“Hal ini berpotensi menghambat kinerja UMKM, petani, serta pelaku usaha lainnya yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah,” jelas Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Manado, pada MANADONES.
Tidak ketinggalan dia mengungkap, Program Bank Indonesia melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Kabupaten kota dan provinsi Sulawesi Utara, sejauh ini cukup efektif menahan laju inflasi, untuk tetap terkendali sesuai sasaran nasional. Namun, yang perlu diperkuat ke depan adalah keseimbangan antara menjaga stabilitas harga dan memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga. Untuk itu, sinergi dari duo program BI KPw Sulut yaitu wira usaha unggulan (Wanua) dan petani unggulan (Patua) sangat penting.
Dimana, terang Joy, Wanua dapat memperkuat UMKM agar mampu bersaing dan memanfaatkan peluang digitalisasi, sedangkan Patua berperan menjaga stabilitas produksi dan kualitas hasil pertanian agar tidak hanya melimpah saat panen, tetapi juga memiliki nilai tambah.

“Kami, ISEI Manado mendorong kolaborasi erat antara BI, pemerintah daerah, dan kalangan akademisi untuk memastikan strategi pengendalian inflasi tidak hanya menjaga harga, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperkuat fondasi perekonomian Sulawesi Utara di tengah dinamika global ini,”ungkapnya.
Semetara itu, akademisi Unsrat lainnya Dr Vecky Masinambouw menuturkan pentingnya inovasi pertanian untuk mendorong generasi muda bertani. Dia pun berharap ini juga menjadi perhatian BI KPw Sulut. Sementara itu Kepala BI KPw Sulut Joko Supratkto menegaskan Patua dan Wanua terus didorong menjadi bagian kerja sama yang baik dalam memenuhi kebututuhan komoditas pangan dan menjaga inflasi. Saat ini, Patua binaan BI sudah berjumlah 83 Patua dan kami masih mendorong keterlibatan para muda ke pertanian,” tambahnya. (gracey wakary)





