MANADO, 3 NOVEMBER 2025 – Hadirnya Komunitas Gerakan Lawan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Sulawesi utara (Sulut), mendapat dukungan dari berbagai tokoh masyarakat.
Seperti dukungan yang diberikan langsung oleh Ketua Umum Majelis Pusat Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), Pdt. Dr. Johnny Weol, S.Th, M.Min, M.Div, M.M, M.Th. Menurutnya masyarakat dan generasi muda gereja untuk selalu waspada dan saling mengingatkan untuk tidak mudah tergiur tawaran kerja ke luar negeri dengan iming-iming gaji fantastis, namun tidak memiliki kejelasan tentang perusahaan penerima mulai dari jenis usaha serta alamat kantor yang dituju. “Jangan mudah percaya. Tawaran gaji tinggi sering kali berujung pada eksploitasi, termasuk jebakan di industri judi online dan penipuan digital yang merugikan masa depan,” tegas Pdt. Weol.
Diapun mendorong agar upaya pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Sulut, juga didukung semua pihak dan lintas lembaga. “Hadirnya Gerakan Lawan TPPO di Sulut jadi penguat semua sektor untuk saling bahu membahu menjaga dan melindungi generasi muda untuk tidak terjebak TPPO lintas negara,” tuturnya saat menerima audiensi Founder Komunitas Gerakan Lawan TPPO di Sulut, Antonius Sangkay, di Hotel Sutan Raja, Airmadidi siang tadi.
Pada pertemuan ini Antonius memaparkan data terkait peningkatan kasus Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) ilegal di Sulut serta progres “Gerakan 1.000 Jaringan Lawan TPPO”. “Ini tanggungjawab moral untuk menjaga generasi muda kita,” ungkap Anton pada MANADONES.
Usai pertemuan strategis tersebut, Antonius Sangkay langsung bergerak melakukan sosialisasi ke Desa Pinilih dan Desa Klabat untuk memperkuat jaringan pencegahan di tingkat tapak. “Bagi masyarakat yang ingin bergabung dalam gerakan kemanusiaan ini, komunitas membuka layanan partisipasi melalui SMS/WhatsApp dengan mengetik GABUNG ke nomor 0852 9807 7707,” tambahnya. (vero)





