JAKARTA, 30 JULI 2026 (ANTARA) – Dokter subspesialis Bedah Onkologi dr. I Gusti Ayu Nari Laksmi Dewi, SpB, Subsp.Onk (K) menilai anggapan bahwa perempuan tanpa riwayat genetik kanker tidak akan terkena kanker payudara adalah mitos.
Menurut dia, kanker payudara bisa dipicu oleh banyak faktor penyebab sehingga tidak hanya dipengaruhi oleh faktor keturunan.
“Mitos. Jadi sebetulnya kalau kanker payudara itu multifaktorial penyebabnya, jadi enggak bisa cuma karena hereditary (riwayat keturunan) aja, tapi juga sebab-sebab lain,” kata I Gusti Ayu saat ditemui di Kaiser Cancer Center, BSD City, Tangerang, Kamis.
Kanker payudara selain dipicu faktor genetik, juga bisa disebabkan oleh perubahan hormonal di mana kadar estrogen yang tinggi hingga paparan lingkungan terhadap radiasi elektromagnetik serta gaya hidup tidak sehat seperti mengonsumsi alkohol berlebihan, menurut laporan laman Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan.
Dokter lulusan Universitas Airlangga itu menilai anggapan bahwa setiap benjolan pada payudara itu kanker adalah mitos. Dalam hal ini, lanjut Gusti, terutama pada perempuan usia di bawah 35 tahun, benjolan di payudara cukup sering ditemukan dan perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan apakah termasuk tumor jinak atau ganas.
Gusti menambahkan bahwa kanker pada perempuan, termasuk kanker payudara juga dirasakan kerap tidak menimbulkan keluhan terutama pada stadium awal sehingga baru diketahui setelah benjolan membesar. “Jadi memang banyak pasien-pasien dengan keluhan benjolan di payudara yang ternyata tumor ganas atau kanker, itu awalnya memang tidak menimbulkan gejala, jadi painless (tidak sakit). Jadi benjolan itu ternyata membesar dengan cepat dan kemudian baru menimbulkan gejala,” ujar dia.
Lebih lanjut, Gusti menyampaikan pentingnya edukasi mengenai kanker, terutama terkait upaya deteksi dini. Menurutnya, dengan deteksi dini semakin cepat juga kanker dapat terdeteksi, sehingga peluang kemungkinan pasien untuk sembuhnya menjadi lebih besar.
“Memang untuk kanker payudara misalnya, sebaiknya dilakukan SADARI (Periksa Payudara Sendiri) setiap bulan untuk mendapatkan benjolan-benjolan lebih awal apabila memang sudah ada, dilanjutkan pemeriksaan ke dokter untuk memastikan apakah itu tumor jinak ataupun tumor ganas,” kata dokter yang berpraktik di Kaiser Cancer Center.
Sementara itu, Founder dan Managing Director Kaiser Cancer Center dr. Adithia Kwee mengatakan bahwa kanker menjadi salah satu penyakit yang banyak menyerang pada perempuan. “Satu dari delapan perempuan itu sebetulnya berisiko untuk terkena kanker payudara. Kanker payudara itu insiden tertinggi di antara perempuan dan saat ini kita lihat juga kanker serviks, kanker ovarium, kanker rahim juga meningkat,” ujar dr. Adithia.
Berdasarkan data BPJS Kesehatan, kasus kanker payudara mengalami peningkatan signifikan hingga ratusan ribu kasus sepanjang periode 2021 hingga 2025. Jumlah kasus meningkat sekitar 860 ribu kasus. Jumlah ini naik dari 1.080.031 kasus pada 2021 menjadi 1.941.410 kasus pada 2025.
Oleh Sri Dewi Larasati
Editor : Mahmudah





