SURABAYA, 25 AGUSTUS 2021 – Menggunakan teknologi selama masa pandemic Covid –19 sudah menjadi bagian dari pendidikan terkini di Indonesia, namun hal ini tidak dibarengi dengan kemampuan para pendidik yang paham teknologo, ini menyebabkan pendidikan mengalami learning loss atau kegagalan belajar yang luar biasa.
Ini diungkap, oleh Ketua Dewan Pers, Mohammad Nuh, dalam Webinar SEVIMA pada sore tadi. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, berharap teknologi dimanfaatkan untuk mitigasi dunia pendidikan secara besar-besaran sebagai enabler (pembuka akses) dan disruptor (perombakan) dalam mendidik. Tidak hanya sebagai alat.

“Karena ketika teknologi hanya kita jadikan alat untuk melewati Pandemi, maka hasilnya akan seadanya saja. Pokoknya sekolah tetap jalan saja. Dan dampaknya, akan ada losses in learning (ilmu tidak terserap),” ungkap Nuh didampingi oleh Suprapto Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Jawa Timur, Suprapto dan CEO SEVIMA, Sugianto Halim.
Dia kemudian, memberikan empat tips agar teknologi bisa memitigasi dunia pendidikan secara besar-besaran. Yang pertama, filosofi dalam memanfaatkan teknologi dalam pendidikan harus kita sepakati secara jelas dan tegas yaitu semangat untuk memenuhi janji kemerdekaan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Disini juga menyebut saat dirinya menjadi Mendikbud, telah dirintis Buku Sekolah Elektronik, Data Pokok Pendidikan, dan Forum Laporan Pendidikan Tinggi, dan SEVIMA turut terlibat dalam pembuatan sistem-sistem ini, dengan tujuan memanfaatkan teknologi menjadi pembuka akses pendidikan.
Tips kedua adalah memastikan tujuan memanfaatkan teknologi dalam pendidikan adalah untuk mendidik anak-anak bangsa dalam menghadapi tantangan di masa depan. Utamanya, tantangan di momen 100 tahun kemerdekaan nanti pada tahun 2045. “Kita mendidik dengan ilmu dan cara hari ini, padahal yang penting adalah learning how to learn (belajar caranya belajar), agar 2045 jauh disana kita bisa jangkau, dan pelajar kita jadi pembelajar sepanjang hayat” jelasnya.
Tips yang ketiga, adalah memahami bahwa Indonesia memiliki tantangan sekaligus peluangnya tersendiri. Dimana, sebagai negara kepulauan dengan keberagaman sosio-ekonomi yang begitu luas, memang masalah berupa konektivitas internet, akses, maupun pemahaman dan kemampuan mengoperasikan teknologi digital, merupakan kesenjangan (digital divide) yang tak bisa dinafikan. “Rasio usia produktif di atas 64 persen, ditambah dengan kreativitas bangsa, keduanya menjadi modal sangat penting sebagai bekal menuju Indonesia emas pada 25 tahun mendatang. Oleh karena itu, pendidikan kita jadikan cara membuka akses, mengeksplorasi keberagaman. Karena kekuatan sebenarnya ada di tangan kita sebagai masyarakat, The Power of We,” jelas Nuh.
Keempat adalah, teknologi digital perlu ditransformasi menjadi digital lifestyle. Sederhananya, sistem pembelajaran digital tidak memerlukan tatap muka di waktu pembelajaran. Ketika materi pembelajaran sudah ada dalam bentuk video, maka belajar bisa kapan saja, dimana saja. “Belajar dari rumah secara hybrid, bukan belajar di rumah dengan cara memindahkan papan tulis dan klasikal kelasnya saja ke dalam aplikasi. Dan perubahan ini harus kita lakukan sangat cepat, karena kedepan kebutuhan skill juga makin kompleks,” lanjut Nuh.

Sejalan dengan Nuh, Kepala Lembaga Pelayanan Pendidikan Tinggi Jatim, Suprapto juga menekankan bahwa pemerintah secara berkelanjutan terus memfasilitasi upaya pengembangan pendidikan digital. Misalnya lewat hibah penelitian, program kampus merdeka, dan pertukaran industri dengan dunia pendidikan. “Sayangnya, dana penelitian kita ini, walau dibilang cukup kecil dibanding negara lain, tetap tidak pernah terserap habis. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita bersama, bahwa potensi untuk pengembangan terbuka lebar,” ungkap pemilik gelar professor ini dalam rilis yang diterima MANADONES sore tadi.
Sementara itu, CEO SEVIMA Sugianto Salim menegaskan pembangunan lifestyle digital ini dapat dilakukan mulai dari cara-cara yang sederhana. Dia pun menyebut civitas akademika yang tergabung dalam Komunitas SEVIMA saat ini telah menggunakan sistem pembelajaran Edlink yang memberi ruang bagi pembelajaran secara asynchronous (tunda). Dosen cukup mengunggah video di sistem tersebut, lalu para mahasiswa dapat menyimak dan mengerjakan kuis kapan saja. Sistem pembelajaran ini juga dihadirkan secara terintegrasi dengan sistem akademik berbasis komputasi awan (SiakadCloud), sistem pelaporan, dan beragam kebutuhan akademik lainnya. “Pemanfaatan sistem ini dapat kita lakukan secara gotong royong, karena sistem pembelajaran ini juga tersedia dalam versi komunitas dan bisa diunduh secara gratis oleh perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Yang paling penting saat ini, adalah komitmen kita untuk menggunakan dan menyongsong kemajuan teknologi,” pungkas Halim, dalam Webinar Bersama Mohammad Nuh (Ketua Dewan Pers – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 2009-2014), yang bertemakan Cegah Learning Loss karena Covid –19, Pendidikan Perlu Besar-Besaran Memanfaatkan Teknologi, yang digelar oleh Komunitas PT. Sentra Vidya Utama (SEVIMA).(graceywakary)





