JAKARTA, 21 JUNI 2026 (ANTARA) – Sekitar 22,9 juta anak tumbuh dalam kondisi fatherless, suatu keadaan di mana seorang anak tumbuh tanpa kehadiran ayah yang utuh.
Angka itu terdengar besar, tetapi masih terasa abstrak. Kita mudah menganggapnya sebagai kumpulan masalah rumah tangga yang berdiri sendiri-sendiri, sebagai urusan pribadi yang selesai di balik pintu rumah masing-masing, dan seharusnya tidak dicampuri oleh orang lain. Padahal dampaknya bukan cuma ada di dalam rumah.
Ketidakhadiran ayah dalam konteks fatherless bukan selalu berarti anak yatim. Fatherless adalah kondisi anak yang tidak merasakan pendampingan, kedekatan, kehadiran, pendidikan dari seorang ayah meski sosoknya ada dalam satu rumah yang sama. Data terbaru dari Pendataan Keluarga 2025 Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), satu dari empat anak Indonesia tumbuh tanpa kehadiran ayah.
Posisi itu membuat cerita personal bagi banyak anak, tapi lebih besar lagi, membentuk pola sosial. Sebuah generasi sedang dibesarkan dengan pengalaman emosional yang serupa, lalu membawa pengalaman itu ke sekolah, tempat kerja, hubungan pernikahan, hingga cara mereka membesarkan anak-anak mereka sendiri kelak.
Dalam jangka panjang, dari perkara yang tampak sebagai persoalan pribadi keluarga di masa sekarang, bisa berubah menjadi wajah masyarakat yang dibentuk oleh anak-anak yang tumbuh dengan kekosongan itu di masa depan.
Tidak semua ayah yang tidak hadir itu pergi meninggalkan rumah. Ada para ayah yang setiap malam pulang ke alamat yang sama, berkehidupan di rumah yang sama, tetapi hatinya telah lama berada di tempat lain. Sebagian tenggelam dalam pekerjaan yang tidak pernah selesai, mengejar angka demi angka tanpa menyadari bahwa anak-anaknya sedang tumbuh tanpa dirinya.
Sebagian larut dalam kelelahan hidup, terlalu letih dalam pekerjaan, dan menganggap tugas mengasuh anak adalah amanah ibu seorang. Ada pula yang hadir secara fisik, tetapi begitu sibuk dengan layar, urusan, atau dunianya sendiri, sampai-sampai melewatkan obrolan basa-basi dengan anak, apalagi tentang bagaimana seharusnya hidup diusahakan.
Yang paling menyedihkan, sering kali itu semua itu terjadi perlahan, tanpa disadari. Sama sekali tidak ada pertengkaran besar di rumah dengan pintu yang dibanting keras. Hanya saja, ada jarak yang bertambah sedikit demi sedikit setiap hari dari hubungan ayah-anak ini. Sampai akhirnya seorang anak sudah terbiasa hidup dengan sosok ayah ada di rumah, tetapi sangat-sangat jauh dirasakan.
Di bawah atap yang sama, mereka tumbuh seperti orang asing yang saling mengenal nama, namun tidak memahami satu sama lain. Luka semacam itu jarang berhenti pada satu generasi. Banyak ayah yang hari ini gagal hadir, sesungguhnya juga pernah dibesarkan dalam lingkungan yang miskin kedekatan emosional. Mereka mengenal tanggung jawab sebagai kewajiban memberi nafkah, tetapi tidak pernah belajar bagaimana menunjukkan kasih sayang.
Mereka diajarkan menjadi kuat, tetapi tidak pernah diajarkan cara mengungkapkan rasa sayang kepada anak. Akibatnya, pola yang sama bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya seperti warisan yang tidak pernah dicatat dalam dokumen keluarga. Yang kemudian, fatherless berubah dari sebatas persoalan keluarga, menjadi persoalan peradaban.
Kehilangan contoh
Bagi anak laki-laki, kehilangan ayah sering berarti kehilangan contoh paling dekat tentang bagaimana menjadi laki-laki dewasa. Dalam hal-hal sederhana, sosok ayah sebenarnya bisa menjadi teladan bagaimana menghadapi konflik, bagaimana mengelola amarah, bagaimana memperlakukan perempuan, bagaimana mengambil keputusan ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.
Tetapi memang, tidak semua anak laki-laki yang tumbuh tanpa ayah akan mengalami masalah. Tidak sedikit yang berhasil tumbuh menjadi pribadi yang matang. Meski seringnya, mereka harus belajar sendiri hal-hal yang seharusnya dapat dipelajari melalui sosok ayah secara langsung. Karena karakter pada dasarnya lebih mudah ditiru daripada diajarkan.
Seorang anak yang melihat ayahnya meminta maaf setelah melakukan kesalahan memperoleh pelajaran yang berbeda dibanding anak yang hanya mendengar ceramah tentang pentingnya meminta maaf. Anak yang menyaksikan ayahnya memuliakan ibunya setiap hari menerima pendidikan yang jauh lebih kuat daripada seribu nasihat tentang menghargai perempuan.
Ketika contoh itu hilang, ruang kosong tersebut sebenarnya tetap akan terisi dalam kehidupan anak. Tapi bagaimana dan oleh siapa? Sebagian menemukan penggantinya pada guru, pelatih olahraga, paman, kakek, atau tokoh lain yang positif. Tapi ada juga bagi sebagian anak yang mencarinya di lingkungan yang justru memperkuat kemarahan, agresivitas, dan pemahaman keliru tentang maskulinitas.
Dalam banyak kasus, kekosongan figur ayah bukan berarti tidak ada figur sama sekali. Kekosongan itu hanya membuka peluang bagi figur pengganti untuk mengambil tempatnya. Pada anak perempuan, dampaknya sering bergerak lebih diam-diam.
Ayah biasanya menjadi laki-laki pertama yang memperkenalkan rasa aman, penghargaan, dan penerimaan tanpa syarat kepada anak perempuan. Banyak anak perempuan membangun standar tentang bagaimana mereka seharusnya diperlakukan oleh orang lain dari perlakuan ayah kepada dirinya.
Ketika fondasi itu rapuh, atau bahkan tidak pernah terbentuk, sebagian anak perempuan tumbuh dengan kebutuhan validasi yang tidak sepenuhnya mereka sadari. Mereka mencari pengakuan, perhatian, atau rasa dicintai dari luar, yang seharusnya didapatkan dari laki-laki pertama yang paling memahaminya: ayah.
Anak perempuan yang sejak kecil terbiasa merasa dihargai, khususnya oleh ayah, biasanya memiliki batas yang lebih jelas terhadap perlakuan buruk. Sebaliknya, mereka yang tumbuh dengan kekosongan emosional sering kali lebih mudah menerima perlakuan yang sebenarnya tidak layak diterima.
Bukan konsep tunggal
Fatherless bukanlah persoalan yang muncul dalam satu konsep tunggal. Tidak selalu dramatis. Fatherless bisa melahirkan rasa tidak aman yang terus mengikuti seseorang hingga dewasa. Kadang muncul sebagai kesulitan mempercayai orang lain. Kadang berupa ketidakmampuan membangun relasi yang stabil. Bentuknya berbeda-beda, tetapi akarnya sama.
Menariknya, jauh sebelum psikologi modern berbicara tentang pentingnya keterlibatan ayah, Islam sudah menempatkan peran tersebut sebagai bagian inti dari tanggung jawab keluarga. Al-Qur’an tidak menggambarkan ayah hanya bertugas sebagai pencari nafkah. Dalam kisah-kisah para nabi, ayah hadir sebagai pendidik, pendengar, penasihat, sekaligus teman dialog bagi anak-anaknya.
Luqman Al Hakim berbicara memberi nasihat kepada putranya dengan panggilan sayang dan penuh kelembutan. Nabi Ibrahim tidak sekadar menyampaikan perintah kepada Ismail dan sang anak harus patuh menurutinya tanpa tapi. Sebaliknya, Ibrahim memanggil dengan panggilan sayang dan mengajak anaknya berdiskusi dalam momen yang sangat berat saat ada perintah berkurban. Dan nabi Ya’qub menjadi tempat yang Yusuf paling percaya untuk membawa kegelisahan dari mimpinya.
Yang diajarkan oleh Al-Quran tentang ayah dan anak adalah kedekatan. Ayah hadir bukan sebagai otoritas, melainkan melalui hubungan. Di dalam sunnah, lebih banyak lagi hadis yang secara tegas memerintahkan seorang ayah untuk bagaimana memperlakukan anaknya. “Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.”
Potongan hadis riwayat Bukhari dan Muslim itu langsung menghantam gagasan bahwa tugas ayah selesai setelah membawa pulang nafkah. Rasulullah SAW tidak berpesan agar seorang ayah bertanggung jawab atas penghasilan keluarganya, melainkan atas keluarganya secara keseluruhan. Maknanya jauh melampaui urusan ekonomi keluarga. Di tengah masyarakat modern, nasihat 14 abad yang lalu ini justru terasa semakin relevan.
Jam kerja yang panjang, tekanan ekonomi, urbanisasi, serta budaya yang masih menganggap pengasuhan sebagai wilayah utama ibu membuat banyak ayah hadir secara fisik tetapi tidak secara emosional. Mereka pulang ke rumah setiap hari, tetapi hubungan dengan anak berjalan dalam mode administratif. Sekadar memastikan kebutuhan terpenuhi tanpa terlibat dalam kehidupan batin anak.
Fatherless tidak selalu berarti ayah tidak ada di rumah. Kadang ayah ada di ruang yang sama, tetapi tidak tersedia bagi anaknya. Yang sedang dipertaruhkan, jauh dari kondisi yang terlihat pada anak-anak hari ini. Tapi, pada generasi yang akan memimpin keluarga, kantor, sekolah, komunitas, bahkan negara, beberapa dekade mendatang.
Dan setiap generasi selalu dibentuk jauh sebelum mereka memasuki ruang-ruang kekuasaan. Mereka dibentuk di rumah. Dalam percakapan yang terjadi atau tidak terjadi. Dalam pelukan yang diberikan atau tidak diberikan. Dalam kehadiran yang tidak dirasakan atau justru dirindukan.
Oleh Aditya Ramadhan
Editor : Sapto Heru Purnomojoyo





