Cuti Melahirkan 6 Bulan Berdampak Positif untuk Kinerja Perempuan

Dr dr Ray Wagiu Basrowi MKK.

MANADO, 23 DESEMBER 2022 – Perempuan Terlindungi, Perempuan Berdaya, inilah tema yang diterangkan oleh peneliti Health Collaborative Center (HCC) sekaligus pengajar Kedokteran Kerja dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Dr dr Ray Wagiu Basrowi MKK siang tadi.

 

Bacaan Lainnya

Momentum Hari Ibu 2022, ditegaskan Basrowi sebagai waktu yang tepat tentang mengawal pentingnya pemahaman untuk memberikan perlindungan spesifik terhadap hak kesehatan pekerja perempuan di Indonesia. Dengan adanya momentum positif terkait RUU Kesehatan Ibu Anak (KIA) yang akan segera disahkan pemerintah, maka peneliti inii makin optimistis.

 

Dr dr Ray Wagiu Basrowi MKK, saat memberikan keterangan tentang pentingnya cuti melahirkan hingga enam bulan pada perempuan, untuk meningkatkan produktivitasnya, siang tadi bersama media massa.

Menurut Dr Ray, RUU KIA menjadi angin segar bagi perlindungan hak kesehatan pekerja perempuan, namun UU ini memiliki banyak tantangan dalam penerapannya, terutama terkait usulan kebijakan cuti melahirkan 6 bulan dan dukungan menyusui di tempat kerja. “Hal ini tentu saja harus dimitigasi secara ilmiah lewat komunikasi berbasis ilmiah,”ujarnya, seperti yang dikutip MANADONES dalam siaran persnya sore tadi.

Baca juga  70 Persen Pasien Positif Covid-19 di Sulut Berasal dari Daerah ini

 

Dia kemudian menuturkan, cuti melahirkan 6 bulan justru merupakan investasi karena banyak penelitian termasuk di Departemen Kedokteran Kerja FKUI, yang membuktikan bahwa cuti melahirkan 6 bulan berhubungan positif dengan produktivitas buruh perempuan yang lebih baik. Tapi memang pemilik tempat kerja harus diberikan justifikasi praktis dan berbukti klinis berdasarkan real-world-evidence, ungkap Dr Ray yang juga merupakan dokter lulusan FK Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) ini.

 

Untuk itu, Dr Ray berharap pemerintah harus menggunakan metode yang lebih mutakhir untuk komunikasi yaitu dengan mengajukan hasil kajian secara Health Economic atau ekonomi kesehatan. Dan sebagai peneliti kedokteran kerja, lanjut Dr Ray bahwa HCC  meyakini metode ini akan memberi substansiasi yang kuat karena baik secara teori maupun kajian apliaksi real-world di negara maju.

Baca juga  GPS Sebut Hasil Seleksi Calon Bawaslu Sulut Tidak Memiliki Perspektif Gender

 

Diurainya, Health Collaborative Center merekomendasikan perlu segera diaktifkan kolaborasi dengan industri dan akademisi atau universitas, untuk mulai menggarap penelitian klinis aplikasi terkait kedokteran kerja serta melakukan kajian health economic terkait cuti 6 bulan dan kebijakan perlindungan hak kesehatan pekerja perempuan.

 

Orioentasi rekomendasi ini, adalah murni untuk mencari jalan tengah yang menguntungkan semua pihak, tidak hanya kalangan pekerja tetapi tentu saja terhadap industry dan pemilik usaha. Kajian model kohort retrospektif atau model program evaluation bisa dengan cepat memberi hasil yang langsung dapat dikomunikasikan kepada publik. (graceywakary/*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *