MANADO, 27 MARET 2025 – Hari raya Idul Fitri tinggal menghitung hari, dan Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Sulawesi utara (Sulut) terus siaga untuk memantau ketersediaan komoditas pangan yang menjadi bahan bahan pokok penyebab inflasi.
Upaya BI Sulut sudah dilakukan sejak dua bulan lalu, ini diterangkan oleh Deputi BI KPw Sulut Renold Asri pada media massa di Kantor BI di Manado sore tadi jelang waktu berbuka puasa bersama. “Kami sudah bersedia, dan sudah melakukan empat upaya di kabuaten kota selain selalu memantau ketersediaan dan harga bahan pokok atau bapok,” kata Renold. Dia kemudian mengurai, ada empat upaya yang dilakukan Bi, pertama adalah keterjangkauan harga di pasaran, dengan melakukan kegiatan Gerakan Pangan Murah atau GPM diseluruh kabupaten dan kota di Sulut, guna memastikan keterjangkauan harga komoditas dengan mitra strategis seperti Dinas Ketahananan Pangan dan Bulog.
Upaya kedua, adalah ketersediaan pasokan melalui dukungan petani unggulan Sulut atau PATUA, yang fokus pada peningkatan produktivitas untuk dukung ketahanan pangan. Upaya ketiga adalah, kelancaran distribusi dan BI mendukung melalui fasilitas distribusi pangan dan melakukan indentiikasi kerjasama antardaerah (KAD). Dan keempat adalah, komunikasi efektif melalui High Level Meeting serta pengendalian ekspetasi masyarakat melalui diseinasi kebijakan pengendaian inflasi BI, baik melalui media massa dan media sosial. “Inilah pentingnya teman teman media untuk membantu BI dan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu Kepala KPw BI Sulut Andry Prasmuko menyebut bahwa sejauh ini yang ada di lapangan ketersediaan semua bahan pokok tercukupi. “Namun, penting juga untuk menjaga ketercukupan ini,” tambah Prasmuko dihadapan 12 media massa lokal yang hadir. (graceywakary)




