MANADO, 22 JULI 2025 – Teras rumah milik Magdalena Sambow, 52, yang ada di Lingkungan II Kelurahan Paniki Bawah, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut), mulai dipenuhi oleh lima orang ibu muda bersama enam anak balita mereka, saat itu jam di dinding telah menujukkan pukul 11.50 WITA.
Pada MANADONES, Magdalena menyebut kehadiran para ibu dan enam anak balita ini adalah untuk mengikuti imunisasi yang telah dijadwalkan oleh Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP — PKK) Kelurahan Paniki Bawah Kelompok Kerja (Pokja) Empat, dan Pusat Kesehatan Masyarat (PKM) Paniki Bawah. Walau berstatus sebagai pemilik rumah, namun Magdalena juga bertugas sebagai kader penyuluh imunisasi.

Dia ditemani oleh kader penyuluh imunisasi Lucia Kalalo, 62, yang juga terlihat cekatan dan ramah mengarahkan para ibu dan anak anak balita, untuk melakukan pendaftaran mulai dari pencatatan manual nama balita, pemeriksaan buku kesehatan ibu dan anak (KIA), hingga pengukuran berat badan anak balita, sebelum pemberian vaksin imunisasi sesuai usia oleh juru imunisasi (Jurim) dari PKM Paniki Bawah. “Sebenarnya data yang kami miliki untuk imunisasi hari ini, ada sebanyak 12 anak. Sebelum kegiatan ini, kami berdua sudah menginfomasikan jadwal imunisasi dengan berkunjung ke rumah atau door to door pada pekan lalu ke keluarga pemilik balita,” ujar Lucia.
Lucia pun mengaku was was dengan kehadiran lengkap ibu dan anak yang sudah mereka data ke rumah Magdalena yang juga menjadi Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Anggrek PKM Paniki Bawah. Istri pensiunan polisi ini, menceritakan sejak 2022 lalu kegiatan Imunisasi di Posyandu Anggrek yang digelar setiap bulan mengalami penurunan peserta. Rasa antusias, para ibu membawa anak balita mereka untuk menerima imunisasi gratis, dikatakan Lucia telah berkurang hampir 50 persen, karena alasan waktu kerja mereka yang bentrok dengan jadwal, serta ketidaktahuan akan pentingnya Imunisasi pada anak di keluarga mereka. “Banyak ibu ibu muda yang meninggalkan anak-anaknya pada nenek, saat mereka bekerja dari pagi hingga sore. Sementara nenek mereka, hanya paham bahwa anak sehat jika diberikan makanan, tanpa vaksin,” jelasnya.
Dia kemudian merinci temuannya saat door to door, ternyata beberapa anak yang dirawar oleh kakek dan nenek mereka, hanya mendapatkan dua kali imunisasi, saat mereka berusia 1 – 2 bulan, dan belum menerima vaksin imunisasi lagi walau mereka sudah berusia 8 tahun. Temuan ini, dikuatkan dengan data yang diberikan PKM Paniki Bawah yaitu pada 2024 anak balita Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) mencapai 489 (75,1%), sementara Imunisasi Bayi di Bawah Dua Tahun (Baduta) Lengkap (IBL) sebanyak 428 (65,6%). Dan pada Januari hingga Juni 2025 ini IDL mencapai 322 (46,9%), sementara IBL mencapai 212 (31%).

“Imunisasi itu penting untuk memberikan anak balita terhindar dari berbagai penyakit,” kata Juru imunisasi (jurim) Melisa Mardjoen, 24, usai memberikan suntikan vaksin imunisasi Bacillus Calmette-Guérin atau BCG, di paha luar bayi yang berusia 1,5 bulan yang hadir bersama ibunya, di Posyandu ini, dan menjadi anak balita terakhir yang di vaksin, karena 6 anak balita lainnya tidak kunjung hadir hingga pukul 13.30 WITA pada 15 Juli 2025 lalu.
Melisa juga mengaku, peran orang tua dan keluarga amat penting untuk mendorong capaian imunisasi lengkap pada anak anak, namun berbagai kendala seperti yang diungkap Lucia menjadi penghalang. Berdasarkan informasi ini, MANADONES juga melalukan penelusuran di beberapa kelurahan dan desa di Kecamatan Mapanget Kota Manado yang menjadi area lingkup kerja PKM Paniki Bawah seperti di Mapanget Barat, Paniki Satu, Bengkol – Pandu. Ditemukan sekira 8 pasangan muda mudi telah memiliki anak balita yang memilih tidak ikut imunisasi. Mereka memiliki beberapa alasan seperti yakin anaknya sehat tanpa perlu imunisasi lengkap, ada juga yang menganggap imunisasi haram, tidak memiliki waktu karena harus bekerja serabutan dan yang terbanyak mengakui, karena mereka tidak memiliki informasi tentang imunisasi.
Pekerjaan Pasutri jadi Penghalang
Pasangan Recky Kamogi dan Sendy La dari Paniki 1 saat ditemui membenarkan salah satu putra mereka yang telah berusia 7 tahun belum mendapatkan imunisasi lanjutan. Pasangan ini mengaku mereka tidak memiliki waktu karena keduanya sama sama bekerja mulai pukul 08.30 WITA hingga 17.30 WITA.
“Edgar hanya kami tinggalkan pada mama saya, Intan. Mama juga tidak terlalu mengerti tentang imunisasi bayi hingga anak balita, itu seperti apa,” kata Recky. Alasan serupa juga diterangkan oleh Yetty Umboh, 65, warga Puskopad Paniki Bawah yang menjadi pengasuh dari dua cucunya, Marvil (12) dan Nona (8), kedua orang tua kedua cucunya bekerja di Maluku utara dan Jawa Barat. Wanita yang kesehariannya menjual pisang dan pepaya ini mengingat bahwa kedua cucu nya saat dilahirkan sempat mendapatkan imunisasi untuk Baduta, namun sejak keduanya ditinggalkan bersamanya sejak 5 tahun lalu, belum tersentuh imunisasi.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Manado, dr Sicilia Kumaat MPH saat ditemui pekan lalu, mengatakan Pemerintah Kota Manado terus menggalakan kampanye tentang pentingnya imunisasi bagi anak balita hingga usia 18 tahun. Tim dari PKM bekerja sama dengan TP PKK hingga tingkat kelurahan atau desa terus ditarget untuk mengejar pencapaian IDL hingga 100 persen, demi program Indonesia Emas 2045.
Tidak ketinggalan diakui beragam kendala yang terus dihadapi seperti yang diungkapkan Lucia dan Melisa hingga temuan MANADONES. “Memang banyak kendala di lapangan, namun kami bersama Posyandu di TP PKK terus melakukan penyisiran kawasan, dan mendorong orang tua dan keluarga terdekat bisa membawa anak mereka ke Posyandu atau ke PKM terdekat, untuk diimunisasi,” tuturnya.

Dia juga memberikan data Dinkes Manado tentang capaian pada 2023 mencapai 92,2% IDL dan 55,2% IBL, di 2024 IDL mengalami penurunuan hingga 79,6%, dan IBL hanya 59,1%. Adanya kendala, yang ditemui para jurim dan penyuluh posyandu di lapangan, seperti ketidakinginan keluarga anak balita untuk diimunisasi karena tidak memiliki waktu dan banyakanya pasangan muda yang tidak mau membawa anaknya ke posyandu atau PKM, diterangkan Kumaat sangat sulit untuk tekan, karena sejauh ini kampanye imunisasi terus dilakukan hingga door to door, namun banyak yang memilih melarikan diri dari kewajiban mereka sebagai orang tua, dan mengorbankan hak anak mereka.
“Kadang mereka para orang tua tersebut sudah pindah tempat tinggal dan sulit ditemui,” urainya. Kendala ini, juga ditemui saat Global Health Strategies (GHS) melakukan survei tentang pemahaman masyarat tentang pentingnya imunisasi di Sulawesi utara (Sulut) belum lama ini, dengan mengambil sampel pada dua kota yaitu Manado dan Bitung. mereka menemukan masih adanya penolakan dari institusi pendidikan pada imunisasi terutama ada sekolah sekolah Islam. Tidak hanya itu, Finanda Pratiwi dari GHS juga mengungkakan masyarakat di dua kota ini masih berpegang pada banyaknya lansia yang terlihat kuat tanpa imunisasi.
“Kami melihat dari hasil survei awal, masih kurangnya edukasi dan informasi tentang pentingnya imunisasi, tidak ada tokoh panutan untuk mendorong capaian imunisasi, masih minimnya keterlibatakntokoh publik pada kampanye di media sosial tentang hak anak ini, juga bahasa daerah sebagai pendorong dan jembatan untuk imunisasi,” ungkap Pratiwi, di hadapan 16 wartawan, termasuk MANADONES, yang terpilih mengikuti “Pelatihan Jurnalis Menguatkan Kesadaran Publik tentang Imunisasi”, yang digelar oleh GHS bekerja sama dengan Aliansi Jurnalis Independen(AJI) Indonesia pada 13 – 14 Juni 2025 di Jakarta lalu. (Gracey Wakary)





