MANADO, 26 JULI 2025 – Hampir setiap hari, mulai pukul 04.30 WITA hingga pukul 17.00 WITA, mobil para pembeli ragam hortikultura asal dari pasar tradisional dan modern se-Sulawesi utara Sulut, bolak-balik mengangkut pertanian para petani asal Moat, Kabupaten Bolaang Mongodow Timur (Boltim).
Dan cabe menjadi bintangnya, karena setiap setiap hari, salah satu komoditas pendorong inflasi Kota Manado selalu diborong hingga tiga ton. Melihat ini, salah satu petani Moat, Yefta Sakeon memilih untuk focus dan mencoba mengembangkan lagi cabe lokal asal Moat, cabe rawit Kaki Gunung Ambang. Pada MANADONES, pria bergelar Sarjana Ekonomi ini mengungkapkan bahwa permintaan cabe rawit yang terus meroket di pasar lokal, dan hasil beberap bibit cabe yang disebut unggulan, ternyata tidak tahan serangan antraksona atau jamur yang mengakibatkan cabe yang belum siap petik berbecak hitam dan kecoklatan hingga membusuk dalam hitungan hari hingga tak bisa dipetik untuk dipanen.
“Inilah yang membuat saya, dan kelompok tani Blessing Moat mencoba dengan bibit cabe rawit dari daerah kami, yang sebenarnya sudah lama ada dan ditanam leh para orang tua di desa kami,” jelasnya sore tadi. Cabe yang dinamakan cabe rawit Gunung Ambang Moat, memang berasal dari kaki Gunung Ambang yang secara turun temurun telah ditanam para warga lokal di desa desa yang ada di Moat. Dengan sedikit tambahan pupuk dan dukungan cara bertanam modern, cabe ini ternyata bisa dipanen dan tahan jamur ataupun bakteri, ungkap Sakeon. Dia juga mengurai, bahwa mereka baru tiga bulan menanam cabe lokal Moat ini dan telah mencuri pasar. Tidak tanggung tanggung, para pembeli melabeli cabe asal Gunung Ambang ini sebagai cabe yang tahan lama dan disukai pasar tradisional Sulut. “Setiap hari cabe kami dihargai sekira Rp47.000 per kg dan permintaan setiap hari mencapai 3 ton,” terang Yefta yang baru 15 tahun menekuni pertanian, setelah sebelumnya sempat menjadi tenaga honorer Satpol—PP Bolaang Mongodow.
Ayah dari calon dokter ini kemudian mengungkap rasa syukurnya,saat diberikan jalan untuk menjadi petani. “Bertani membuat saya mampu membiayai pendidikan putri putri saya yang kini sedang menemppuh pendidikan di Fakulltas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi,” ungkapnya sembari tetap berharap Bank Indonesia (BI), terus mendorong mereka dengan pelatihan dalam berinovasi di pertanian, agar hasil hortikulura daerahnya bisa menembus kawasan Indonesia dan luar negeri melihat peluang pasar saat ini. (graceywakary)





