MANADO, 20 MEI 2026 – Perkembangan harga, pengendalian inflasi dan ketersedian komoditas, menjadi bahasan penting dalam High Level Meeting (HLM) Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD), serta Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), kemarin di Tutuyan, Bolaang Mongondow Timur (Boltim).
Disini, Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Sulawesi utara (Sulut) Joko Supratikto mengungkap data inflasi Sulut secara umum, untuk bulan ke bulan pada April lalu sebesar 0,96%.
Dan dari pemantauan harga di Kabupaten Boltim secara historis, pergerakan harga komoditas cenderung sejalan dengan Kota Kotamobagu sebagai basis distribusi utama. “Namun demikian, mayoritas komoditas memiliki ratarata tingkat harga yang lebih tinggi dibanding Kotamobagu, terutama cabai rawit dan daging ayam ras meskipun stok cenderung stabil sepanjang tahun,” jelasnya.
Sementara itu, komoditas seperti beras, bawang merah, dan bawang putih menunjukkan pergerakan harga yang relatif lebih stabil, tetapi tetap perlu menjadi perhatian bersama karena jumlah ketersediaanya cenderung bergejolak sepanjang tahun.
Lebih lanjut, tingkat pasokan beras perlu dipantau mengingat pada minggu kedua Mei 2026 ini, Boltim merupakan salah satu kabupaten yang mengalami kenaikan harga beras mencapai sebesar 0,93% (BPS). Lebih lanjut, daging ayam ras dan cabai rawit memiliki pola peningkatan harga menjelang Ramadhan dan HBKN Idul Fitri 2025 dan 2026. Hal ini perlu kita antisipasi bersama menjelang HBKN Idul Adha 2026.
Dalam kegiatan yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bolaang Mongondow Timur (Boltim), dan Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Sulawesi utara (Sulut), kemarin, dihadiri langsung oleh Bupati Boltim, Oskar Manoppo, S.E., M.M, Wakil Bupati Boltim Argo V Sumaiku, Sekdakab Boltim Mohamad Iksan Pangalima, S.Pi., M.A.P, juga Karo Ekonomi Sulut Reza Dotulong dan Kepala BPS Boltim Indira Lolowang SE MM, serta pejabat Boltim lainnya. (gracey)





