MANADO, 27 MARET 2026 – Belum lama ini, Komisi Nasional Antikekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), merilis Catatan Tahunan (Catahu) 2024, serta dengan jumlah laporan kekerasan terhadap perempuan antarprovinsi di Indonesia.
Sulawesi utara (Sulut), tidak masuk sebagai daerah dengan jumlah kekerasan pada perempuan dan juga tidak masuk sebagai daerah terendah untuk tingkat kekerasan tersebut. Namun hal ini bukan berarti kabar baik.
Dimana realita di lapangan, fenomena kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dari tahun ke tahun variatif jumlahnya, yang terjadi di Sulut. Ini diungkap oleh salah satu kordinator Swaraparampuang (Swapar), Vivi George pada MANADONES malam tadi. Menurutnya, hal ini didukung oleh masih banyak kasus yang tidak terlaporkan, terutama daerah yang letaknya di kepulauan dan daerah perbatasan.
Walau begitu, diakui Vivi, kerja kolaborasi antara Lembaga Pengada Layanan dengan Pemerintah, sebut mantan komisioner KPU Sulut ini, telah ada sistem rujukan kasus dan ada yang di mediasi langsung atau di dampingi langsung. “Sulut masih perlu waspada dengan aksi kekerasan pada perempuan dan anak. Masih banyak korban yang membungkam dan dibungkam demi nama keluarga ataupun institusi,” tuturnya.
Dia pun mencontoh kasus kekerasan pada mahasiswi di perguruan tinggi yang viral pada Desember 2025 lalu, saat kasus berjalan ternyata dalam lingkup perguruan tinggi tersebut sudah ada kasus serupa, namun korban banyak yang memilih diam.
Diapun berharap, para perempuan dan warga bisa sama sama saling mendukung dan mendorong, agar saat terjadi kekerasan melakukan pelaporan baik pada polisi atau UPTD PPA Sulut.
Saat ini, katanya berdasarkan data pelayanan selama 5 (lima) tahun terakhir (2020-2025), UPTD PPA Sulut telah menangani total 1.127 kasus kekerasan yang dilaporkan oleh masyarakat. Jumlah Kasus Kekerasan pada Perempuan (dan anak perempuan) dari UPTD PPA Sulut sejak 2020 hingg Oktober 2025.
Tahun 2020: 141 kasus (25 perempuan dewasa, 89 anak)
Tahun 2021: 220 kasus (56 perempuan dewasa, 164 anak)
Tahun 2022: 273 kasus (84 perempuan dewasa, 189 anak)
Tahun 2023: 306 kasus (85 perempuan dewasa, 221 anak)
Tahun 2024: 203 kasus (69 perempuan dewasa, 134 anak)
Tahun 2025 (per 22 Oktober): 184 kasus (51 perempuan dewasa, 133 anak). (gracey)





