Guru Besar UI Soroti Penyakit Infeksi Penyebab Kematian Tertinggi Anak

Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Penyakit Infeksi pada Anak di Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) Universitas Indonesia (UI) Prof. Dessie Wanda. ANTARA/HO-Humas UI

 

 

Bacaan Lainnya

 

 

 

 

DEPOK, 7 APRIL 2026 (ANTARA) – Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Penyakit Infeksi pada Anak di Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) Universitas Indonesia (UI) Prof. Dessie Wanda menyoroti pentingnya penanganan penyakit infeksi sebagai penyebab kematian tertinggi anak di Indonesia maupun dunia.

 

Prof. Dessie di Kampus UI Depok, Jawa Barat, Selasa, mengatakan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)  2020–2024 menunjukkan terjadi peningkatan tren kasus pneumonia, diare, tuberkulosis, dan HIV, pada anak-anak Indonesia.

 

Bahkan kasus pneumonia, kata dia, meningkat tajam hampir dua kali lipat pada tahun 2024 dibandingkan tahun sebelumnya.  “Sistem imun anak masih dalam proses maturasi, menjadikannya kelompok yang sangat rentan,” ucap Prof. Dessie. Lebih jauh Prof. Dessie menekankan bahwa faktor eksternal seperti perubahan iklim, karakteristik sosiokultural, perilaku manusia, serta penurunan cakupan imunisasi akibat pandemi COVID-19, turut memperburuk situasi ini.

Baca juga  Cristiano Ronaldo Akan Pensiun Satu atau Dua Tahun lagi

 

Hal yang menjadi sorotan adalah keberanian Prof. Dessie mengintegrasikan ilmu keperawatan modern dengan Culture Care Theory dari Madeleine Leininger, seorang tokoh keperawatan legendaris dari Amerika Serikat (AS). Baginya, pengobatan anak tidak bisa dilepaskan dari konteks budaya keluarga. “Tindakan keperawatan tidak selalu harus mengubah total budaya pasien.  Terkadang kita harus melakukan akomodasi atau negosiasi agar pengasuhan tetap berjalan tanpa melanggar prinsip budaya yang dianut keluarga,” katanya.

 

Prof. Dessie menyinggung sejumlah kasus nyata di Indonesia yang menunjukkan pentingnya pendekatan budaya dalam praktik keperawatan.  Salah satu contohnya adalah masyarakat Badui Dalam yang memiliki pantangan menggunakan teknologi modern, termasuk kendaraan dan tindakan medis tertentu.

 

Dalam kasus yang Prof. Dessie sajikan, seorang anak Badui Dalam mengalami patah tulang, tapi keluarganya lebih memilih pengobatan tradisional melalui tukang urut patah tulang. Namun setelah kondisinya memburuk, akhirnya dilakukan negosiasi (culture care negotiation) dengan pemangku adat agar sang anak tetap mendapat perawatan medis di klinik yang dekat dengan komunitas, tanpa melanggar aturan adat.

Baca juga  Cakupan Kepesertaan Program JKN di Sulut Capai 99,1 Persen

 

Kasus lain yang turut dipaparkan adalah Tradisi Sei di Nusa Tenggara Timur (NTT), yaitu pengasapan ibu dan bayi baru lahir selama berhari-hari. Tradisi ini diyakini memberi perlindungan, namun juga berisiko terhadap kesehatan ibu dan bayi, terutama risiko infeksi saluran pernapasan.

 

Dalam konteks ini, kata dia, perawat dituntut untuk melakukan pendekatan yang menghormati budaya, sekaligus mengedukasi keluarga agar praktik tersebut tidak membahayakan kesehatan anak.

 

Pewarta : Feru Lantara

Editor : Risbiani Fardaniah

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Manadones di saluran WHATSAPP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *