JAKARTA, 7 SEPTEMBER 2026 – Di tengah melambatnya penetrasi kredit perbankan formal, instrumen kredit digital mulai bertransformasi menjadi katalisator pertumbuhan sektor riil.
Studi awal Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) bersama Kredivo Group mencatat sebanyak 54 persen pembiayaan yang disalurkan Kredivo sepanjang 2025 dialokasikan untuk kebutuhan produktif, mematahkan stigma bahwa pinjaman digital semata-mata mendorong konsumsi non-produktif.
Pemanfaatan pembiayaan produktif tersebut mencakup permodalan usaha, renovasi tempat tinggal, pembiayaan pendidikan, hingga pemenuhan kebutuhan kesehatan masyarakat. Secara makroekonomi, penetrasi ini hadir di saat sistem intermediasi keuangan konvensional masih menghadapi credit gap yang masif.
Data menunjukkan, kendati inklusi rekening bank nasional meningkat dari 36 persen menjadi 56 persen dalam satu dekade terakhir, penetrasi kredit formal di Indonesia justru tertekan dari 18 persen pada 2017 menjadi 15 persen pada 2024. Akibatnya, kesenjangan pembiayaan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) nasional masih bertahan di angka Rp1.290 triliun.
Wakil Kepala Bidang Penelitian dan Pelatihan LD FEB UI, Paksi Walandouw, menegaskan urgensi melihat peran kredit digital dari kacamata dampak sosial dan struktur ekonomi riil. “Di tengah pertumbuhan industri yang pesat dan diskursus publik yang berkembang, perspektif berbasis bukti menjadi penting untuk melihat bagaimana kredit digital benar-benar bekerja dalam konteks sosial ekonomi Indonesia,” ujar Paksi.
Menurutnya, ketika layanan pembiayaan digital telah mencapai skala adopsi yang luas, evaluasi dampaknya harus ditinjau dari pengaruh langsung terhadap perputaran roda ekonomi masyarakat sehari-hari, bukan sekadar metrik pertumbuhan industri.
Dari perspektif inklusi dan distribusi likuiditas ke segmen unbanked serta underbanked, studi menemukan satu dari enam pengguna aktif Kredivo pada 2025 merupakan peminjam pemula (first-time borrower). Distribusi ini menjangkau kelompok demografi produktif yang kerap tersisih dari perbankan konvensional, dengan komposisi 48 persen perempuan dan 57 persen individu berusia di bawah 30 tahun.
Pada sektor ekonomi akar rumput, sebanyak 97 persen penerima pinjaman modal usaha Kredivo tercatat merupakan pelaku usaha skala mikro. Menariknya, sekitar 40 persen dari pelaku usaha mikro tersebut memperoleh akses fasilitas kredit formal pertamanya melalui platform pembiayaan digital ini. Chief Marketing Officer Kredivo, Indina Andamari, menyampaikan bahwa data tersebut mencerminkan pergeseran fungsi platform selama sepuluh tahun beroperasi di Tanah Air.
Kajian komprehensif ini disusun melalui pendekatan kuantitatif dan kualitatif lintas provinsi, menggabungkan data internal Kredivo (termasuk lini PayLater dan Pinjaman Tunai KrediFazz) dengan data sekunder nasional. Laporan lengkap mengenai dampak sosial dan ekonomi kredit digital tersebut dijadwalkan terbit secara resmi pada 10 September 2026 sebagai rujukan empiris kebijakan industri keuangan dan pembangunan ekonomi nasional. (gracey wakary)






