JAKARTA, 19 SEPTEMBER 2026 (ANTARA) – Tiga miliar rupiah menunggu para atlet Indonesia di ujung panggung Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Itulah bonus yang disiapkan negara bagi atlet Indonesia yang mampu meraih medali emas perseorangan pada pesta olahraga terbesar di Asia tersebut. Presiden Prabowo Subianto mengumumkannya saat melepas Kontingen Indonesia di Istana Negara, Jakarta, 9 September, atau sepuluh hari sebelum upacara pembukaan Asian Games 2026.
Bagi atlet, bonus tersebut layak disambut. Karier olahraga memiliki umur yang terbatas. Risiko cedera selalu mengintai, sementara latihan bertahun-tahun tidak menjamin seseorang akan berdiri di podium. Karena itu, ketika seorang atlet akhirnya menjadi yang terbaik di Asia, penghargaan besar dari negara bukan sesuatu yang berlebihan.
Rp3 miliar itu hanyalah angka yang terlihat di ujung perjalanan. Sebelum seorang atlet berdiri di podium, ada tahun-tahun yang tidak masuk kamera, seperti latihan yang berulang, kekalahan yang harus diterima, cedera yang mesti dipulihkan, serta kompetisi yang kadang berakhir jauh dari harapan.
Perjalanan menuju Aichi-Nagoya kali ini pin tidak selalu berjalan mulus. Pada awal Juni, anggaran pemusatan latihan nasional Asian Games 2026 tercatat Rp81,04 miliar. Angkanya turun cukup jauh dibandingkan Rp389,82 miliar untuk periode Asian Games sebelumnya. Delapan hari kemudian, kepastian mengenai pelaksanaan pelatnas Asian Games secara keseluruhan bahkan belum dapat disampaikan Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Di tengah kondisi tersebut, atlet tetap berlatih. Federasi tetap menyusun program. Kalender pertandingan juga tidak menunggu persoalan anggaran selesai. Situasinya baru bergerak lebih jelas pada Agustus. Pemerintah menyisir anggaran dari Rp81 miliar menjadi Rp127 miliar, kemudian memperoleh tambahan Rp95 miliar sehingga anggaran pelatnas Asian Games 2026 menjadi Rp222 miliar.
Di luar jumlah tersebut, pemerintah juga menyiapkan Rp61 miliar untuk pengiriman kontingen. Tambahan itu jelas penting. Persoalannya adalah waktu. Ketika kepastian Rp222 miliar diumumkan pada 12 Agustus, Asian Games tinggal sekitar satu bulan. Dalam olahraga prestasi, satu bulan bukan waktu yang panjang.
Program latihan, pemusatan latihan di luar negeri, pemilihan turnamen uji coba, pemulihan cedera, nutrisi, sport science hingga pencarian lawan tanding idealnya tidak dibuat setelah kompetisi besar tinggal beberapa pekan. Atlet mungkin mencapai puncak performa pada hari pertandingan, tetapi proses menuju puncak itu dibangun berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sebelumnya.
Dampak keterbatasan tersebut juga tidak sama pada setiap cabang. Atletik, misalnya, harus menyesuaikan program karena efisiensi anggaran. Rencana sejumlah atlet berlatih di luar negeri berubah. Dua pelari jarak jauh yang sebelumnya dijadwalkan berlatih di Kenya akhirnya menjalani program di Indonesia. PB PASI juga menggunakan pendanaan mandiri untuk menutup kebutuhan yang belum terpenuhi.
Akuatik mempunyai cerita berbeda. Pengurus Besar Akuatik Indonesia menyatakan pelatnas tetap berjalan meski terjadi efisiensi karena klub-klub yang menaungi atlet tetap beroperasi dan federasi terus menjalankan program.
Ada pula tinju, anggar, dan tenis meja yang akhirnya berangkat ke Asian Games dengan pendanaan mandiri dari federasi serta dukungan mitra. Di satu sisi, kondisi tersebut memperlihatkan gotong royong yang kuat. Federasi, klub, sponsor, dan pihak lain tidak hanya menunggu negara. Namun mencari jalan agar atlet tetap berlatih dan tetap bisa berangkat. Namun, ada pertanyaan lain yang sangat layak untuk diajukan.
Bagaimana dengan cabang olahraga yang tidak memiliki federasi dengan kemampuan finansial besar? Bagaimana pula dengan cabang yang sulit mendapatkan sponsor? Apakah kualitas persiapan seorang atlet seharusnya ikut ditentukan oleh seberapa kuat kemampuan ekonomi organisasi yang menaunginya?
Di sinilah letak persoalan utamanya, yang sebenarnya jauh lebih luas daripada sekadar nominal anggaran. Olahraga prestasi sangat membutuhkan kepastian. Federasi harus mengetahui sejak jauh-jauh hari berapa banyak atlet yang bisa dibiayai, berapa turnamen internasional yang dapat diikuti, apakah program latihan di luar negeri bisa berjalan, hingga seperti apa dukungan sport science yang dapat disediakan.
Tanpa adanya kepastian, federasi memang tetap bisa menyusun program. Akan tetapi, program tersebut akan sangat rentan berubah ketika sumber daya yang terealisasi ternyata tidak sesuai dengan rencana awal. Bahkan, Komite Olimpiade Indonesia (KOI/NOC Indonesia) telah menyoroti efisiensi anggaran sebagai salah satu tantangan utama Indonesia dalam mengejar prestasi di Asian Games.
Oleh karena itu, keberadaan bonus Rp3 miliar sebenarnya bukanlah masalah. Hal yang perlu dijaga adalah jangan sampai besarnya apresiasi setelah atlet meraih juara justru lebih ditonjolkan daripada investasi jangka panjang sebelum mereka mencapai podium tersebut. Kedua hal ini tidak perlu dipertentangkan; bonus adalah bentuk penghargaan, sementara pelatnas adalah investasi. Atlet tentu membutuhkan keduanya. Bonus memberikan apresiasi atas hasil yang telah diraih, sedangkan sistem pembinaan memastikan Indonesia memiliki lebih banyak atlet berpotensi untuk menerima penghargaan tersebut di masa depan.
Pelatnas multiyears
Pemerintah sebenarnya sudah bergerak ke arah tersebut.
Pada bulan Juni, Presiden menyetujui gagasan Program Latihan Nasional (Pelatnas) jangka panjang dengan skema anggaran multiyears. Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) kemudian menegaskan bahwa persiapan atlet tidak seharusnya lagi menggunakan pola jangka pendek menjelang multievent. Bahkan, persiapan menuju Olimpiade 2032 dinilai sudah semestinya dimulai dari sekarang.
Gagasan ini mungkin menjadi bagian paling krusial dari perjalanan menuju Asian Games kali ini. Sebab, persoalan mendasar olahraga Indonesia selama ini bukan sekadar ada atau tidaknya anggaran, melainkan juga kepastian waktu pencairannya.
Melalui skema multiyears, federasi cabang olahraga seharusnya dapat menyusun program berdasarkan kebutuhan riil atlet, bukan menyesuaikan kapan anggaran cair. Kalender latihan dapat dirancang selaras dengan jadwal kompetisi internasional, program training camp dapat direncanakan jauh-jauh hari, dan atlet dapat dikirim ke turnamen yang memang esensial, bukan sekadar ajang yang masih memungkinkan secara sisa anggaran.
Selain itu, penerapan sport science, pemenuhan nutrisi, proses pemulihan, pendampingan psikologi olahraga, hingga analisis performa dapat terintegrasi ke dalam program sejak awal, bukan sekadar penambahan secara mendadak menjelang pertandingan. Namun, tentu saja skema jangka panjang ini juga menuntut adanya indikator keberhasilan dan ukuran evaluasi yang jelas.
Tidak semua cabang olahraga harus menerima alokasi anggaran yang sama. Peluang meraih prestasi, rekam jejak, kualitas atlet, keberlanjutan regenerasi, serta target di ajang Olimpiade sudah sepantasnya menjadi pertimbangan dalam evaluasi.
Sebaliknya, indikator prestasi tidak seharusnya diukur semata dari satu ajang multievent. Ada atlet muda yang membutuhkan proses dan waktu untuk matang, ada cabang olahraga yang proses pembinaan prestasinya membutuhkan durasi lebih panjang, serta ada pula nomor pertandingan dengan peta persaingan tingkat dunia yang jauh lebih ketat.
Oleh karena itu, pendanaan berbasis target perlu berjalan selaras dengan evaluasi teknis yang komprehensif. Dengan demikian, kegagalan meraih medali tidak serta-merta dianggap sebagai kegagalan program secara keseluruhan. Begitu pula sebaliknya, raihan satu medali tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh sistem pembinaan telah berjalan dengan benar.
Ujian awal
Asian Games 2026 dapat menjadi ujian awal. Indonesia menargetkan empat medali emas, dan jika target itu tercapai, bonus sebesar Rp3 miliar dipastikan kembali mencuri perhatian. Nama-nama atlet akan dielu-elukan, bendera Merah Putih berkibar, dan lagu Indonesia Raya bergema. Namun, setelah pesta di atas podium usai, evaluasi tidak boleh berhenti sekadar pada jumlah medali yang diraih.
Hal yang lebih krusial adalah melihat berapa banyak atlet yang benar-benar mendapatkan persiapan ideal? Berapa cabang olahraga yang harus merombak program akibat ketidakpastian anggaran, berapa federasi yang terpaksa menutup kebutuhan dengan dana mandiri, serta apakah tambahan dana yang baru cair menjelang pertandingan memberi dampak yang sama efektifnya dengan anggaran yang pasti sejak awal tahun?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat penting karena Asian Games bukanlah garis akhir. Setelah Aichi-Nagoya, masih ada SEA Games, Asian Games berikutnya, kejuaraan dunia, dan yang paling utama, Olimpiade Los Angeles 2028.
Prestasi di tingkat tertinggi tidak bisa dibeli dalam hitungan bulan sebelum pertandingan dimulai. Bonus besar memang bentuk penghargaan negara bagi atlet yang berprestasi, tetapi ukuran keberhasilan kebijakan olahraga tidak boleh berhenti pada besarnya apresiasi setelah medali diraih.
Tantangan yang jauh lebih berat adalah memastikan para atlet mendapatkan seluruh dukungan yang mereka butuhkan sebelum berangkat bertanding. Sebab, bonus Rp3 miliar baru cair setelah seseorang menjadi juara, sedangkan tugas utama sistem olahraga adalah memastikan makin banyak atlet Indonesia memiliki kesempatan yang layak untuk mencapainya.
Oleh Muhammad Ramdan
Editor : Dadan Ramdani






