MANADO, 2 OKTOBER 2026 – Sulawesi utara (Sulut) pada September mengalami inflasi sebesar 3,53 % dibanding bulan sebelumnya, dan lagi lagi pendorongnya adalah salah satu komoditas yang paling dicari saat berada di meja makan, cabai rawit.
Cabai rawit, menjadi pendorong inflasi tertinggi sebesar 1,84% dibanding komoditas seperti tomat yang menyumbang inflasi sebesar 0,26%, disusul cabai merah sebesar 0,15%, lalu ikan selar/tude sebesar 0,13% dan sayur kangkung dengan 0,10%.
Dijelaskan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, Watheki kemarin, ada dua fenomen pasar yang mendorong inflasi Sulut mencapai angka 3,5%. Dua fenomen ini adalah kenaikan harga cabai rawit, tomat, cabai merah dan kangkung. “Pada bulan September 2026 harga komoditas cabai rawit, tomat, cabai merah, dan kangkung mengalami kenaikan seiring berkurangnya pasokan akibat kemarau panjang. Cuaca panas menyebabkan tanaman menjadi layu dan kering sehingga hasil panen menurun dan stok di pasar berkurang,” jelas Watheki.
Pendorong lainnya adalah kenaikan harga ikan selar atau tude. Dimana pada bulan September 2026 terjadi berkurangnya hasil tangkapan nelayan dan menipisnya pasokan sehingga ketersediaan ikan di pasar menurun.
Dan yang menjadi penahan inflasi adalah, turunnya harga tiket untuk angkutan udara pada bulan September 2026. Penurunan harga terjadi ditengah perubahan kebijakan pemerintah berupa penyesuaian batas fuel surcharge menjadi maksimal 40 persen dari tarif batas atas sesuai kelompok layanan, dari sebelumnya maksimal 30 persen. (gracey wakary)




