Pemilik Patung Rp7 M Ini Bangga jadi Pembayar Pajak Terbesar

Nama I Nyoman Nuarta, dikenal sebagai seniman pematung yang luar biasa asal Bali yang memiliki beragam karya indah dan memikat, namun penuh ajaran tentang makna serta ajaran hidup di bumi ini.

Miniatur asli dari GWK di Bali yang ada di NuArt Bandung.

Bacaan Lainnya

Sebut saja mahakaryanya, patung Garuda Wisnu Kencana alias GWK yang berdiri megah di Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana, Desa Ungasan, Kabupaten Badung, Bali, pria yang memegang teguh ajaran Hindu ini malah menampilkan karya hebat ini beda. Mengapa beda?

Karena dalam adat budaya daerah kelahirannya di Pulau Dewata, segala obyek haruslah menghadap kanan terutama kepala. Namun, untuk patung yang masuk sebagai patung indah dan terbesar di dunia ini, Pak Nyoman malah membuat kepala sang Garuda menghadap ke kiri.

“Menghadap ke kanan identic dengan kebaikkan, segala yang baik itu dikanan. Namun, saya memilih untuk membuat sang Garuda yang ditunggangi Yang Agung Wisnu, menghadap ke kiri. Ini punya makna bahwa kita sebagai manusia juga harus melihat ke kiri, untuk sadar atas segala hal yang tidak baik dalam diri kita atau sekitar kita. Jangan bangga dengan apa yang kita capai, tapi teruslah untuk berkarya dan berjalan dengan aturan alam yang ada. Jangan dikurangi dan jangan ditambahi,” ungkap Nuarta yang memilih untuk menetap di Bandung, Jawa Barat, saat ditemui akhir pekan lalu di kawasan NuArt Sculpture Park, Bandung, kala www.manadones.com melakukan perjalanan media gathering bersama Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Sulawesi Utara (Sulut).

Baca juga  Indika Foundation Sumbang 100 Ribu Masker ke Polda Sulut
Manadones dan karya Nyoman Nuarta yang diberi nama Devi Zolim

Untuk itulah, salah satu pelopor Gerakan Seni Rupa Baru ini terus berkarya sebagai pematung, walau dirinya enggan disebut pematung yang memiliki hasil karya termahal di Indonesia bahkan dunia.

Hebatnya lagi, untuk urusan kewajiban sebagai warga negara yang baik,  dirinya tidak pernah tidak atau terlambat untuk membayar pajak. Malah dalam beberapa tahun belakangan ini, pematung yang sebuah karyanya dengan tinggi sekitar 30 cm dihargai sekitar Rp400 juta dan yang terbesar dengan ukuran lebih dari satu  meter bisa dihargai hingga Rp7 miliar, berhasil masuk sebagai 10 besar pembayar pajak terbaesar dengan nilai  mencapai angka miliaran rupiah. “Saya sangat bangga bisa menjadi warga Indonesia yang bayar pajak terbanyak di Provinsi Jawa barat, saya masuk 10 besar. Sebagai seorang pematung ini, adalah hal luar biasa, karena saya bisa mengalahkan para pengusaha papan atas yang ternyata jumlah pajak yang dibayarnya di bawah saya,” katanya lagi sambil tertawa.

Baca juga  Relawan Pajak Polimdo Hadir di Mantos

Dia pun hingga kini, terus berharap agar seniman bisa menjadi bagian penting dari pembangunan negara ini, karena seniman juga memiliki sesuatu yang indah yang bisa digunakan negara untuk indentitas dan citra di mata internasional. Baginya kontribusi besar para seniman untuk Indonesia sangat luar biasa, namun masih kurang mendapat perhatian. “Untuk itulah dengan tampil sebagai pembayar pajak terbesar, maka saya berharap dari pajak juga bisa memberikan dukungan pada kemajuan seni rupa negeri ini,” tandasnya. Bravo. (graceywakary)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Manadones di saluran WHATSAPP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *