PKT Akselerasi Konservasi Hutan Mangrove di Bontang

Monitoring hutan Mangorove di Bontang yang dilakukan PKT dengan menggandeng masyarakat sekitar.

JAKARTA, 26 JANUARI 2022 – Untuk menciptakan Indonesia bebas dari emisi karbon 2060 (net zero emission) membutuhkan langkah nyata berdampak dari berbagai pihak, terutama pelaku industry, dan ini menjadi satu hal yang dilaukan oleh Pupuk Kaltim (PKT).

 

Bacaan Lainnya

Kegiatan, untuk menekan emisi dari hasil produksi melalui aksi penghijauan ini sudah dilakukan sejak tahun 2009 lalu, dimana dalam rilis media PKT pada MANADONES siang tadi dijelaskan bahwa langkah penyerapan karbon lewat konservasi hutan mangrove sudah dilakukan.

 

Mangrove diketahui memiliki laju penyerapan karbon yang tinggi, dari riset dari Center for International Forestry Research (CIFOR), mencatat penyerapan karbon oleh hutan Mangrove lebih tinggi 300% – 500% dibandingkan serapan pada ekosistem hutan terestrial.

 

Untukk itu, PKT Mendukung target yang ditetapkan pemerintah untuk Indonesia, dengan mengakselerasi langkah penghijauan ini dengan memperluas area lahan hingga 20 hektar di akhir tahun lalu.

 

Sampai saat ini, PKT telah tertanam bibit Mangrove sejumlah 335 ribu pohon yang tersebar di area konservasi PKT. Konsistensi dan keberlanjutan ini disebut Direktur Utama PKT Rahmad Pribadi, sebagai cara PKT menjaga lingkungan dan ekosistem agar generasi mendatang tetap bisa menikmati sumber daya alam, serta kualitas lingkungan yang baik.

Baca juga  28 Artefak Peninggalan Nabi Muhammad SAW Dipamerkan di Ambon

 

“Konservasi, hutan Mangrove yang diinisiasi PKT sudah memasuki tahun ke 11. Setiap tahunnya luas area dan jumlah bibit pohon yang kami tanam ditambah, untuk memperluas area hutan mangrove di pesisir Bontang, agar serapan karbon dapat memberikan dampak yang signifikan,” kata Pribadi dalam rilis.

 

Program yang diinisiasi oleh Departemen Lingkungan Hidup PKT ini diawali di area Kedindingan dengan kegiatan pembibitan dan penanaman Mangrove, yang ada dipesisir pantai. Selanjutnya PKT juga bekerjasama dengan pemerintah setempat untuk menjaga agar tidak terjadi deforestasi mangrove dengan memberlakukan pengawasan khusus dan menetapkan status Kawasan Konservasi pada area perairan yang dikerjakan PKT.

 

Hingga akhir 2021 lalu, Pupuk Kaltim berhasil menanam 335.167 bibit mangrove dan tersebar di dua lokasi yakni Kedindingan dan Loktuan, Bontang. Setiap tahunnya, Pupuk Kaltim menanam 17 ribu hingga 25 ribu bibit mangrove, hingga mampu memenuhi seluruh luasan kawasan perairan Kedindingan di tahun 2015, dengan total 152 ribu bibit.

Baca juga  Optimalkan Blue Carbon Sulut yang Bernilai Rp100 Miliar di IDX Carbon

 

Mulai 2016, penanaman mangrove dikembangkan ke kawasan baru, yakni area Hak Guna Bangunan (HGB) 65 di Kelurahan Loktuan Bontang Utara Kota Bontang, dengan penanaman antara 20 ribu hingga 25 ribu per tahun, hingga mencapai 183.167 bibit di tahun 2021. Dalam prosesnya, PKT juga menggandeng beberapa organisasi dan masyarakat sekitar guna memastikan pertumbuhan pohon mangrove yang baik.

 

Sejak 2019 lalu, di area HGB 65, PKT menggandeng Kelompok Tani Telok Bangko yang merupakan kelompok penggiat konservasi mangrove. Kelompok Telok Bangko sendiri beranggotakan 16 anggota yang mayoritas merupakan masyarakat dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah.

 

Terdapat, berbagai jenis mangrove yang dikembangkan, diantaranya adalah Rhizopora apiculata, Rhizopora mucronata, Ceriops tagal, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera sexangula, Ceriops tagal dan Avicennia marina. Rhizopora apiculata sendiri merupakan jenis yang dipercaya menyerap lebih tinggi jejak karbon dibandingkan jenis lainnya.

 

“Komitmen ini merupakan bagian dari roadmap 40 tahun mendatang Pupuk Kaltim, yang berorientasi pada sumber daya terbarukan, sejalan dengan upaya mendukung pemerintah dalam mewujudkan net zero emission 2060 mendatang,” tutupnya. (graceywakary)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Manadones di saluran WHATSAPP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *