SURABAYA, 4 JUNI 2026 (ANTARA) – Di sebuah ruang kelas sederhana di Kecamatan Pakal, Kota Surabaya, tawa anak-anak sesekali pecah di antara lantunan kata berbahasa Inggris yang masih patah-patah. Mereka menirukan sapaan dasar, menyebut warna, atau sekadar berani mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan ringan.
Di luar ruang itu, kehidupan kampung berjalan seperti biasa, namun di dalamnya sedang tumbuh sesuatu yang pelan-pelan membentuk arah baru pendidikan dasar, yakni keyakinan bahwa bahasa global tidak harus dimulai dari ruang kursus berbayar.
Program Rumah Inggris Ceria dan Hebat atau RICH yang digagas pemerintah kecamatan bersama Bunda PAUD di Surabaya itu menjadi salah satu eksperimen sosial pendidikan yang menarik untuk dibaca lebih jauh. Ia tidak hanya hadir sebagai kelas bahasa Inggris gratis, tetapi juga sebagai respons atas kesenjangan akses pembelajaran tambahan yang selama ini tidak merata.
Antusiasme ratusan orang tua yang berebut kuota, hingga muncul daftar tunggu, memperlihatkan satu hal penting bahwa kebutuhan itu nyata, dan selama ini belum sepenuhnya terjawab oleh sistem yang ada.
Akses merata
Fenomena RICH di Pakal membuka kembali perbincangan lama tentang ketimpangan akses pendidikan nonformal. Di banyak wilayah perkotaan, kursus bahasa Inggris masih identik dengan biaya tambahan yang tidak kecil bagi keluarga.
Sementara itu, kemampuan bahasa asing telah menjadi salah satu modal penting dalam ekosistem pendidikan modern, bahkan sejak usia sekolah dasar.
RICH mencoba memotong sekat itu dengan menghadirkan kelas gratis yang menyasar anak usia empat hingga sembilan tahun. Kelompok usia ini berada pada fase perkembangan bahasa yang sangat cepat, ketika penyerapan kosakata dan pelafalan berlangsung lebih alami.
Dalam konteks ini, program semacam RICH tidak sekadar mengajarkan bahasa, tetapi juga membuka pintu kesempatan yang sebelumnya hanya dapat diakses sebagian anak.
Namun, di balik keberhasilan menjaring peserta, muncul pertanyaan yang lebih dalam tentang pemerataan. Jika satu kecamatan saja mampu menciptakan antusiasme setinggi itu, bagaimana dengan wilayah lain yang memiliki kondisi sosial ekonomi serupa atau bahkan lebih beragam.
Di sinilah RICH menjadi cermin kecil dari kebutuhan besar yang belum sepenuhnya terstruktur dalam kebijakan pendidikan nonformal daerah.
Keterlibatan perguruan tinggi, seperti Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui para mentor, juga memperlihatkan model kolaborasi yang potensial. Namun, ketergantungan pada relawan atau tenaga akademik tertentu juga menyimpan tantangan keberlanjutan apabila program ingin diperluas secara sistematis ke tingkat kota atau bahkan provinsi.
Ruang percaya
Dampak RICH tidak berhenti pada kemampuan mengenal bahasa Inggris dasar. Di lapangan, perubahan yang lebih sering terlihat justru berada pada aspek psikososial anak. Banyak orang tua mencatat bahwa anak mereka menjadi lebih berani berbicara, lebih aktif berinteraksi, dan menunjukkan kepercayaan diri yang meningkat dalam lingkungan sosial sehari-hari.
Dalam konteks pendidikan usia dini, aspek ini sering kali lebih penting dibanding capaian kognitif semata. Anak yang terbiasa berani mencoba berbicara di depan teman sebaya cenderung lebih adaptif dalam proses belajar jangka panjang. Program berbasis fun learning yang diterapkan RICH tampaknya menangkap kebutuhan ini dengan cukup tepat, dengan menjadikan permainan, lagu, dan interaksi sebagai medium utama.
Namun, di balik dampak positif tersebut, terdapat dinamika yang perlu dicermati lebih kritis. Pembelajaran bahasa asing di usia dini selalu memerlukan keseimbangan dengan penguatan bahasa ibu.
Tanpa desain kurikulum yang hati-hati, ada risiko pergeseran fokus yang berlebihan pada bahasa global, sementara kemampuan literasi dasar dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah tidak mendapat perhatian sepadan.
Di sisi lain, meningkatnya keterhubungan anak dengan bahasa Inggris juga mencerminkan perubahan pola aspirasi keluarga perkotaan. Bahasa tidak lagi sekadar alat komunikasi, tetapi juga simbol mobilitas sosial.
Orang tua melihat kemampuan berbahasa Inggris sebagai pintu menuju pendidikan yang lebih tinggi dan kesempatan yang lebih luas. Dalam konteks ini, RICH bukan hanya program pendidikan, tetapi juga bagian dari harapan sosial yang lebih besar.
Arah kebijakan
Keberhasilan awal RICH di Kecamatan Pakal perlu dibaca sebagai titik awal, bukan titik akhir. Tantangan terbesar program seperti ini justru terletak pada keberlanjutannya. Program berbasis antusiasme awal sering kali menghadapi risiko stagnasi ketika masuk ke fase operasional jangka panjang, terutama terkait pendanaan, konsistensi pengajar, dan standar pembelajaran.
Model gratis yang ditawarkan RICH menjadi kekuatan utama, tetapi sekaligus tantangan struktural. Tanpa skema pendanaan yang jelas dan berkelanjutan, program rentan bergantung pada dukungan sementara pemerintah daerah atau kemitraan lembaga pendidikan tertentu.
Di titik ini, diperlukan desain kebijakan yang lebih kokoh agar inisiatif seperti RICH tidak berhenti sebagai proyek percontohan.
Salah satu arah yang dapat dipertimbangkan adalah integrasi program ini ke dalam ekosistem pendidikan formal tingkat dasar, khususnya melalui penguatan kapasitas guru PAUD dan SD awal. Dengan demikian, pendekatan fun learning tidak hanya hidup di ruang program khusus, tetapi juga menjadi bagian dari praktik pembelajaran sehari-hari di sekolah.
Selain itu, pemanfaatan teknologi pembelajaran sederhana dapat menjadi penguat. Materi digital interaktif, kelas hibrida, atau platform belajar mandiri dapat memperluas jangkauan tanpa harus selalu bergantung pada kehadiran fisik mentor. Hal ini penting untuk menjawab keterbatasan sumber daya manusia yang sering menjadi hambatan utama program pendidikan komunitas.
Di sisi kebijakan, RICH juga memberi sinyal bahwa kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan tambahan berkualitas dan terjangkau masih sangat besar. Pemerintah daerah dapat menjadikannya sebagai model awal untuk memperluas program serupa ke kecamatan lain, dengan tetap menjaga prinsip inklusivitas dan kesetaraan akses.
RICH memperlihatkan bahwa pendidikan bukan hanya soal kurikulum di dalam kelas formal, tetapi juga tentang keberanian menciptakan ruang belajar baru di tengah masyarakat. Dari kampung di Pakal, gagasan sederhana tentang belajar bahasa Inggris gratis menjelma menjadi refleksi lebih luas tentang arah pendidikan dasar di kota yang terus tumbuh.
Perhatian semua pemangku kepentingan terkait pendidikan nonformal ini kemudian bergeser, bukan lagi program seperti ini dibutuhkan, melainkan memastikan ia dapat bertahan, meluas, dan benar-benar menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang adil bagi semua anak.
Oleh Abdul Hakim
Editor : Masuki M Astro





