MANADO, 19 APRIL 2022 – Kabupaten Kepulauan Sangihe dan sekitarnya, pernah mengalami terjangan tsunami besar dan sangat berdampak luar biasa.
Ini dikatakan oleh Penyelidik Bumi Muda dari Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitgasi Bencana Geologi Kementerian ESDM, Imam Catur Priambodo SSi pada para peserta Diklat Penyuluh Mitigasi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami Provinsi Sulawesi utara (Sulut), yang digelar oleh Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Geologi Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI siang tadi.
“Jadi pada tahun 1856, Sulawesi utara khususnya Kabupaten Kepulauan Sangihe pernah diterjang oleh tsunami, dan ini masuk dalam data tsunami Indonesia,” Imam, sembari menyebut penyebab utamanya adalah letusan Gunung Awu.
Lulusan S2 ITB ini, juga menerangkan bahwa secara keseluruhan kawasan Sulut memang masuk kawasan rawan bencana (KRB), terutama yang berada di pesisir. Pasalnya, selain masuk kawasan ring of fire, Nyiur melambai juga dikeliling oleh tiga lempeng utama dunia yaitu Eurasia, Indo Australia, Pasifik dan satu lempang kecil, Filipina yang terus bergerak mulai dari 7 cm per tahunnya. “Pergerakan empat lempeng ini, bisa memicu adanya longsoran dalam dalam laut atau kawasan terdalam bumi hingga menyebabkan tsunami,” ungkapnya.
Untuk itulah, para peserta diklat yang berjumlah 20 orang dari kabupaten kota se Sulut dimintakan untuk mengerti tentang penyebab tsunami, sebelum melakukan mitigasi bencana pada masyarakat. “Diklat ini memang diadakan untuk meminimalisir kerugian akibat bencana tsunami, selain memberikan wawasan pada masyarakat untuk siap dalam menghadapi bencana,” tambah Widyaswaramadya PPSDM Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Antonius Alex Harmoko SSi MT, didampingi PPSDM Geominerba Kementerian ESDM RI dan staf dari Dinas ESDM Sulut Edward Barasi. (graceywakary)





