Duo Dokter Lulusan Faked Unsrat ini Mampu Sukses Dibidang Nonklinis

Dr dr Ray Wagiu Basrowi MKK dan Dr dr Asti Widihastuti MCH.

JAKARTA, 24 MEI 2022 – Dua, lulusan Fakultas Kedokteran (Faked) di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Dr dr Ray Wagiu Basrowi MKK dan Dr dr Asti Widihastuti MCH, adalah bukti kesusksesan tanpa harus berjibaku langsung dengan kegiatan medis.

 

Bacaan Lainnya

Baru baru ini, keduanya berbagi inspirasi tentang usaha dan langkah mereka memasuki dunia non klinis, pada acara webinar Dies Natalis ke –63 Faked Unsrat yang bertajuk Non-Clinician, Why Not? Make A Bigger Impact in Medical Fields.

 

Dr Ray, merupakan salah satu figur dokter lulusan Faked Unsrat yang memilih berkarir di industri farmasi dan nutrisi di Indonesia. Ketika memaparkan motivasinya, Dr Ray mengungkapkan bahwa sejak memasuki masa coass di RSU Prof Kandou Malalayang, dirinya sudah yakin bahwa passion dan semangat tidak dibidang klinis.

 

“Sebelum coass pun, saya sudah mulai membuka network dan membangun jejaring dengan stakeholder beragam, baik dari dunia industry, politik bahkan dibidang kemasyarakatan. Bahkan sambil coass pun, saya tetap berupaya membagi waktu untuk aktif di TVRI Manado, menjadi kontributor beberapa proyek pengabdian masyarakat yang difasilitasi oleh perusahaan farmasi dan nutrisi,” ungkap Dr Ray, yang kini menjabat Medical and Science Director PT Danone Indonesia.

Baca juga  Polri Bongkar Laboraturium Narkoba Senilai Rp1,5 Triliun di Bali

 

Dokter ramah yang kerap terlibat kegiatan sosial di berbagai darah ini menyebut, dirinya juga sempat menjadi mediator kegiatan volunteering di Yayasan non profit yang membutuhkan funding industri.

 

Interaksi dengan dunia industri di tahap ini, kata Ray  menumbuhkan minatnya untuk serius berkarir di perusahaan farmasi dan nutrisi, yang ternyata membutuhkan tenaga dokter untuk beberapa function seperti medical affairs, riset dan bahkan bagian penelitian produk,  ungkap dr Ray yang juga aktif memberi edukasi nutrisi di akun Instagram @ray.w.basrowi.

 

Tidak ketinggalan juga dia menyebut di perusahaan pun dirinya tetap melaksanakan kompetensi dokter yang diperoleh dari dunia pendidikan, terutama ketika melaksanakan program evidence generation produk-produk nutrisi di Danone Indonesia, dimana beberapa klaim dan komunikasi produk wajib diperkuat dengan penelitian medis yang peneliti nya harus seorang dokter. Bahkan Dr Ray pun bisa terus melanjutkan Pendidikan hingga S3 Kedokteran di FK Universitas Indonesia.

 

Baca juga  Jantung Koroner Penyakit Mematikan Pertama di Dunia

Hampir sama juga diterangkan oleh dr Asti Widihastuti, MHC menjalani karir hingga di puncak posisi di PBB, sebagai HIV Prevention Office karena sejak awal sudah sangat tertarik dengan program intervensi kedokteran komunitas terutama pada populasi tertentu.

 

“Sejak selesai dokter,  saya sudah sangat yakin bahwa melaksanakan karir sebagai dokter dibidang Komunitas dan Kesehatan Masyarakat juga merupakan bentuk panggilan profesi dokter,” sebutnya.

 

Ia berpendapat,  intervensi program kesehatan di masyarakat harus diformulasikan oleh tenaga yang mengerti bidang kesehatan.

 

Keduanya pun sepakat, yang terpenting bagi seorang dokter adalah menjalankan profesinya dengan penuh kebahagiaan dan penuh passionate. Baik itu dibidang klinis maupun non klinis, Ketika profesi dokter dijalankan dengan sukacita, maka dampak nya juga akan sama yaitu memberi efek Kesehatan baik jasmani maupun rohani kepada sesama.

 

Pada momentum Dies Natalis ke –63 Faked Unsrat ini keduanya yakin, langsung ataupun tidak langsung, berkarir sebagai dokter di industry farmasi dan nutrisi maupun di badan Kesehatan global adalah juga memberi dampak untuk Kesehatan manusia, bangsa dan negara.(graceywakary)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Manadones di saluran WHATSAPP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *