MANADO, 19 JUNI 2022 – Bagi, Direktur Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Sulawesi utara (Sulut), Arbonas Hutabarat pesona cantik dari laut yang ada di kawasan Daerah Super Prioritas (DSP) Bangka Likupang Minahasa Utara (Minut), perlu dibuktikan dengan melihatnya secara langsung.
Tak heran, pada perjalanan pendataan bersama media pada pekan lalu, pemilik gelar Master di bidang Finance dari University of Technology Sydney (UTS) ini, memutuskan untuk melakukan penyelaman di dua spot unggulan di area ini. Pada MANADONES, Arbonas yang menjelaskan keinginannya ini di dorong dengan rasa optimistisnya bahwa DSP Bangka – KEK Likupang akan memberikan pemasukan yang positif pada keuangan daerah dan negara.

Rasa optimistis, dari salah satu Direktur Eksekutif BI ini, bukan tanpa alasan. Dia, menyebut sebelum pandemi melanda dunia termasuk Nyiur Melambai, data jumlah wisatawan wancanegara (Wisman) sejak 2016 hingga awal 2020 lalu, masuk kategori luar biasa menarik.
Dimana, hampir tiap bulan mencapai angka diatas 10 ribu wisman, malah ungkap Arbonas saat menutup tahun 2019 lalu, angka Wisman ke Sulut mencapai angka diatas 150 ribu orang, dan ini sesuai data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut dan analisis oleh BI KPW Sulut.
“Jadi saya kesini untuk menyelam, memang ingin membuktikan kecantikan kawasan bawah lautnya, serta membawanya sebagai laporan ke BI Pusat. Harta, yang luar biasa dari DSP ini, bukan hanya terletak di view hijau dan kuliner daerah, saja tetapi dari alam bawah lautnya,” ujar Arbonas.
Dalam penyelaman ini, Arbonas dan BI Sulut menggandeng tim selam Bastianos Dive Resort Bangka selain MANADONES. Pasalnya, kawasan DSP ini memang bukan diperuntukkan para pecinta jalan jalan bawah air yang pemula, selan memiliki pemandangan alam dan biota cantik, kawasan ini juga dikenal memiliki arus yang kencang.

Diterangkan, oleh salah Instruktur Selam Bastianos Dive Resort Bangka Jandry Wanget kawasan Bangka memang memikat dan menantang, inilah yang membuat para wisman tertarik terutama para pecinta extreme sport. Arbonas sendiri, menurut Wanget dinyatakan layak untuk turun dan menyelam di spot spot menantang yang ada di Bangka, karena telah menjalani pelatihan selam dan telah memiliki sertifikat selam sekelas open water dari PADI.
“Spot di area Bangka sangat menarik dan berwarna. Koral dan soft Coral nya juga menawan. Disini, kita tinggal memilih menikati koral atau biota kecil dan besar. Sekelas Kuda laut kecil, seperti Hippocampus Pontohi seahorse dan hiu bisa ditemui disini,” jelas lulusan Politeknik Negeri Manado yang telah malang melintang di industry pariwisata Indonesia, lebih dari delapan tahun.
Alhasil, penyelaman untuk membuktikan menjanjikannya pesona DSP ini, dimulai di pukul 09.00 Wita ini, di spot Busa Bora yang ada tepat didepan area perkampungan di Pulau Bangka. Kawasan ini, disebut Wanget kaya dengan koral sehat serta si salah satu kuda laut terkecil di dunia ini. Dan, dikedalaman sekira 18 meter Arbonas mampu melihat langsung si kuda laut dan warna warni koral nya.
Di penyelaman kedua, di Spot Sahanung atau sering disebut Sahawung, yangjuga dikenal sebagai spot selam yang berarus ini, Arbonas menikmati pemandangan soft coral warna warni plus enam hiu ekor putih. “Ini bukan sekadar menikmati saja, tapi apa yang saya lakukan, akan segera saya laporkan. Saya sudah membuktikan pesoan kawasan wisata ini,” terangnya.
Mantan Direktur Departemen Komunikasi BI, usai penyelaman ini kembali optimistis dengan kemajuan pariwisata Sulut menjelang new era pandemi. Sebelumnya pada akhir Desember lalu 2019, dia menyebut potensi KEK Pariwisata dan DSP ini bakal mampu memberikan devisa sebesar Rp22,5 triliun hingga 2030 mendatang. (Gracey wakary)





