MANADO, 25 AGUSTUS 2022 – Di tengah, kondisi anomali cuaca pada musim kemarau saat ini, banyak petani yang produktivitasnya menurun signifikan karena hasil tanaman yang dihasilkan tidak maksimal.
Oleh karena itu, penting menjalankan berbagai upaya, salah satunya memastikan pupuk yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal hingga menghasilkan panen yang maksimal pula dengan modal yang minim. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam webinar “PKT Menyapa Petani: Cerdas Budidaya Tanaman Lewat Pemupukan Berimbang”.
“Selama berkutat 6 tahun di dunia pertanian, nyatanya masih banyak petani mengeluhkan hasil panen yang tidak maksimal karena mereka kurang memahami dengan benar cara pemupukan yang tepat. Akibatnya, tak sedikit petani gagal panen karena ledakan hama dan penyakit. Demi menyiasati hal tersebut, penting menyesuaikan kebutuhan dari tanaman yang ada maupun status hara dalam tanah agar petani tak hanya bisa mendapatkan keuntungan, tapi dapat mengefisiensikan waktu, tenaga, juga biaya,” jelas Rudy Prambudi, penyuluh Petani.
Untuk itu, maka menurutnya ada beberapa langkah penerapan pemupukan berimbang antara lain memperhatikan karakteristik jenis tanah Kadar pH di tiap tanah tidaklah sama. Karena itu, penting memeriksa terlebih dahulu pH tanah dengan apa yang ingin kita tanam, salah satunya menggunakan dolomit.
Selain itu, agar hasil tanaman bisa bagus, penting juga memperhatikan kondisi tanah dengan jenis tanaman yang akan ditanam. Dimana, jenis sayuran, buah semangka, dan melon memiliki karakteristik akar yang lemah, maka penanamannya tidak bisadilakukan di tanah keras melainkan di tanah lembut dan berpasir, jelas Rudy. Dia juga menerangkan untuk tidak membiasakan langsung mengobati daun yang kuning, semakin banyak obat yang digunakan tidak menjamin hama akan hilang, serta ada dosis tertentu yang perlu diperhatikan.
Menyiasati trik pemupukan, karena tiap pupuk tentulah memiliki karakteristik masing-masing. Pupuk yang biasanya bersifat slow release sebenarnya bisa dijadikan pupuk dasar karena tahan lama di tanah, tanpa harus diberikan di tengah-tengah penanaman. Dengan begitu, petani bisa hemat dan bisa sekali bekerja sampai nanti pasca panen.
Sebagai salah satu produk unggulan, dan idola para petani, NPK Pelangi dari PKT bisa menjadi jawaban untuk memberikan hasil yang maksimal karena kandungannya yang lengkap, dari mulai Nitrogen (N), Phospat (P) dan Kalium (K). Diformulasikan dengan sangat fleksibel sesuai kebutuhan pelanggan, nyatanya pupuk ini terbukti dapat meningkatkan hasil panen.
Langkah tersebut nyatanya telah ditempuh oleh salah satu petani milenial di Jember bernama Iqbal Abipraya. Dia, mengakui bahwa saat panen pertama, hasilnya jauh berbeda dibanding menggunakan pupuk lainnya. “Karena, sifat NPK Pelangi sebagai pupuk majemuk slow release, ketersediaan pupuk dalam tanah selalu ada dan sangat bagus untuk pertumbuhan daun, batang dan buah tanaman, sehingga buah semangka pun lebih besar,” ungkap petani sukses ini menyebut untuk satu kali masa tanam, dia bisa panen rata-rata antara 35-40 ton per hektar dari sebelumnya maksimal 30 ton per hektar.
Bantu Petani Lebih Maju Lagi Lewat Kehadiran Ekosistem Pertanian Kondusif Kesuksesan petani untuk bisa menjadi produktif tak terlepas dari pendampingan dan penyuluhan berkelanjutan yang dilakukan. Salah satu program yang diinisiasi Pupuk Kaltim (PKT) sejak 2020, yakni Makmur, nyatanya mampu meningkatkan pemberdayaan petani sekaligus produktivitas pertanian di Indonesia lewat kehadiran ekosistem pertanian yang kondusif.
Staf SVP Tranformasi Bisnis PKT, Yusva Sulistyo menerangkan program Makmur terus mengintegrasikan mekanisme pertanian dan teknologi pertanian, salah satunya melalui peralatan pertanian modern (combine harvester, transplanter), penyemprotan pestisida menggunakan drone, hingga penerapan aplikasi i-Farm (geo tagging kepada petani dan cara budidaya). (graceywakary)





