MANADO, 30 MARET 2023 – VIDA, sebagai penyedia layanan identitas digital, mengingatkan pentingnya biometric wajah dalam identitas digital di layanan public berbasis online dilingkup pemerintahan.
Ini diuraikan oleh Head of Product VIDA Ahmad Taufik dalam seminar bertemakan Tiga Tahun Prakerja, Gebrakan Inovasi Pelayanan Publik yang digelar di Jakarta belum lama ini (15/3). Dalam siaran pers VIDA pada MANADONES disebutkan uraian Taufik terdiri dari kurasi data, yang ditunjang oleh teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). “AI akan memberikan skor, seberapa mirip wajah tersebut dengan pattern yang telah ditentukan ketika dibandingkan dengan biometrik wajah yang berada di pusat data kependudukan nasional,”
Taufik juga mengungkap pentingnya tingkat kepercayaan pihak yang melakukan verifikasi, dan bagaimana mereka dapat menjaga data pribadi, atau digital trust. “Sebagai Penyelenggara Sertifikat Elektronik (PSrE) berinduk Kominfo, VIDA menjaga data pribadi pengguna dan digunakan hanya untuk keperluan pengguna, dengan menerapkan enkripsi end-to-end bagi seluruh transmisi data. Berbekal sertifikat elektronik, mulai dari verifikasi, keputusan otentikasi layanan digital, hingga proses tanda tangan elektronik, VIDA memastikan persetujuan atau consent ada pada pengguna sepenuhnya,” jelasnya. Lebih lanjut, Taufik menjelaskan bahwa Indonesia telah menerapkan teknologi biometrik dalam skala besar, salah satunya data kependudukan nasional yang menyimpan data wajah, sidik jari, dan juga iris.
Sementara Senior Financial Sector Specialist World Bank, I Gede Putra Arsana yang juga tampil sebagai pembicara dikegiatan ini juga menegaskan tentang pentingnya kehadiran teknologi yang inklusif. Dia mengungkap, verifikasi digital identitas telah menjadi salah satu isu penting di berbagai negara. “Di Bank Dunia, dari berbagai prinsip yang bisa diaplikasikan (terkait identitas digital), ada tiga hal yang penting, yakni inklusivitas, desain aplikasi terkait pelindungan data, dan dari sisi governance atau aturan,” sebutnya.
Lebih lanjut, I Gede menjelaskan bahwa di Singapura, 97% penduduk dewasa sudah menggunakan SingPass sebagai digital ID secara online, dengan transaksi sudah lebih dari 300 juta kali dalam satu tahun. Adanya identitas digital dengan model seperti ini dapat mendorong transformasi digital di berbagai sektor seperti sektor keuangan, sektor kesehatan, perpajakan, bansos dan lainnya. Dalam konteks Indonesia, Bank Dunia menyarankan pentingnya beberapa kriteria identitas digital seperti skalabilitas, privasi data, dan juga tata kelola yang baik.
Tidak ketinggalan dalam seminar ini, – Direktur Teknologi Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja Kementerian Koordinator Perekonomian Samsu Sempena, menjelaskan bahwa verifikasi identitas berbasis biometrik adalah aspek yang sangat penting bagi layanan publik, terlebih untuk memastikan apakah betul penerima bantuan dana APBN seperti Kartu Prakerja tepat sasaran. “Didukung teknologi liveness detection, kita memastikan bahwa orang yang difoto itu memang adalah orang sesungguhnya, jadi kalau dia kasih foto hasil cetak atau misalnya memakai topeng, nah itu tidak akan lolos dari pengecekan liveness. Kemudian face recognition akan mencocokkan foto dari wajah pendaftar itu kepada basis data centralized yang ada di Dukcapil,” tambahnya. Samsu menambahkan kombinasi kedua metode verifikasi biometrik yakni liveness detection dan face recognition adalah bagian dari proses verifikasi identitas yang aman. (graceywakary)





