MANADO, 12 JUNI 2023 – Kondisi perekonomian Sulawesi Utara (Sulut), di triwulan I 2023 mampu tumbuh 5,26% (yoy), dan melampaui kinerja perekonomian nasional yang ada di angka 5,02 persen, serta mampu mengguli DKI Jakarta yang ada di angka 4,95 persen, dan Jawa Barat (Jabar) yang ada di angka 5,00.
Walau begitu, ini jadi tantangan semua pihak, baik pemerintah, Bank Indonesia (BI), para cendekiawan dan masyarakat, untuk terus menjaga stabilitas ekonomi daerah ini. Pasalnya, Sulut masih dibayangi oleh angka penganguran dan kemiskinan yang tidak sedikit. Deputi Kepala Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Sulawesi utara (Sulut), Fernando Butarbutar, dalam Diskusi Perekonomian Sulut Triwulan I 2023, yang diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Cabang Manado dan – KPw BI Sulut pagi tadi, yang digelar di ruang Tondano KPw BI Sulut, memaparkan dari bahwa dari sisi permintaan atau pengeluaran, kinerja perekonomian Sulut pada triwulan I 2023 ini, ditopang oleh menguatnya kinerja komponen Konsumsi Domestik yaitu konsumsi Rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan Konsumsi LNPRT di tengah kontraksi komponen lainnya.
Butarbutar juga menyampaikan lapangan usahan (LU) pertanian, kehutanan, dan perikanan masih serta empat LU lainnya yaitu, industri pengolahan, konstruksi, perdagangan besar eceran, transortasi dan pergudangan masih menjadi penggerak dari sisi sektoral ekonomi Sulut. “Triwulan I 2023 ini, LU transportasi dan LU perdagangan menjadi penopang utama. Sementara LU konstruksi, LU industri pengolahan, dan LU pertanian cenderung melambat,” jelasnya.
Untuk itu, dihadapan para peserta diskusi, Butarbutar mengajak untuk mencari LU penopang baru perekonomian selain LU diatas. “Pertanian menjadi penopang utama terutama saat pandemi lalu. Tapi kita juga harus memikirkan potensi LU lainnya, untuk mendukung PE kita,” tegasnya, sembari menyebut kemampuan negara Jepang yang tetap mengandalkan pertanian dan peternakan, tetapi mampu menciptakan LU lainnya yaitu teknologi dan transportasi.
Tidak ketinggalan, dipaparkan juga tentang Indikator Kesejahteraan, dan Indikator Ketenagakerjaan di Sulut, yang dikutipnya dari data BPS Sulut yang telah diolah. Disebut, penggangguran terbuka di Sulut mayoritas disumbangkan oleh penduduk dengan tingkat pendidikan tinggi yaitu SMK, SMA, Perguruan Tinggi atau PT, dan terdidik. “Dengan SMK mencapai angka 12,81 persen dan SMA mencapai angka 8,23persen dan PT mencapai angka 7,8 persen. Ini juga harus kita tekan,” tutupnya, sembi optimistis dengan prediksi ekonomi nasional pada tahun 2025 akan capai 6 persen dengan dukungan Sulut.(graceywakary)





