Laroma Hadirkan Dialog Lintas Iman dan Agama untuk Peringatan 9 Tahun

Para pembicara dalam dialog Iman dan Agama yang digelar oleh LAROMA pada 17 Februari 2025 di Loji Tondano.

MANADO, 20 FEBRUARI 2025 – Dialog lintas iman dan agama digelar oleh penghayat kepercayaan Lalang Rondor Malesung atau LAROMA, pada 17 Februari 2025 lalu di Tondano.

 

Bacaan Lainnya

Dialog yang dilaksanakan disalah satu kawasan bersejarah di Minahasa, Loji Tondano, sebagai bagian dari perayaan 9 tahun berdirinya LAROMA, organisasi penghayat kepercayaan Minahasa atau penganut agama Malesung yang telah menjadi salah satu kepercayaan lokal yang dianut oleh sebagian warga Sulawesi utara (Sulut) dan diakui oleh negara. Pada MANADONES, pimpinan LAROMA, Iswan Sual menjelaskan kegiatan sederhana ini adalah upaya untuk saling memahami dan menghormati serta menghargai perbedaan keyakinan dari agama dan penganut kepercayaan yang ada di Sulut. “Dalam dialog ini kami sama sama dengan kesadaran untuk saling mengenal sangat, dan menghargai. Kareana ini diperlukan dalam bernegara, negara kita Indonesia sangat beragam dan punya Pancasila sebagai falsafahnya,” kata Sual seperti dikutip dalam siaran pers LAROMA.

Baca juga  Rupiah pada Kamis Pagi Melemah jadi Rp16.733 per Dolar AS

 

Tema dialog lintas iman dan agama yang bertemakan Keminahasaan dalam Kebhinaekaan, Bagaimana Bisa?  menghadirkan para pemuka agama dan iman yang ada di bumi Nyiur melambai seperti Rabbi Yaakov Baruch dari agama Yahudi, Romo Michael Roring dari Gereja Orthodox, Agus Basitgh dari Baha’I,  Hafiz Mutu dari Ahmadiya dan Pdt Ruth Wangkai dari Pukkat. Di ajang yang juga menghadirkan para pemuka adat dan budaya Sulut, Sual juga menerangkan LAROMA, sebagai lembaga penerus nilai-nilai tradisi Malesung, memang masih berusia sangat muda, namun ingin ikut berkontribusi dalam pembangunan melalui kepercayaan dan budaya. “Usia LAROMA yang masih belia, walau kita sebenarnya sudah mewarisi ajaran Malesung ini sejak ribuan tahun lalu dari leluhur kita. Perjalanan untuk menjadi organisasi penghayat kepercayaan yang dewasa masih sangatlah panjang. Kita harus berjuang lebih keras dan lebih giat. Adalah penting mendalami dan melestarikan ajaran para leluhur. Namun, kita juga harus mengenal saudara-saudari kita yang lain, yang berbeda keyakinan, agama, kepercayaan, suku, dan latar belakang lainnya,” jelasnya.

Baca juga  Pimpinan LAROMA Pimpin Doa Pembukaan Hari Kebudayaan di Yogyakarta

 

Untuk itu, melalui perayaan Hari Berdirinya LAROMA ke-9 tahun, diharapkan akn menjadi kesempatan untuk refleksi dan perenungan agar kehidupan dan perjalanan bagi anggota LAROMA untuk bisa menjadi lebih baik di masa depan.(graceywakary)

 

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Manadones di saluran WHATSAPP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *