MANADO, 9 Maret 2025 – Menjadi berbeda, bukanlah sebuah kekurangan yang harus dijadikan pembedaan, haruslah setiap pribadi menerima dan mengakui kesetaraan dan berdaya.
Ini diungkapkan oleh Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Sulut, Chenny Wahani dalam kegiatan yang digelar oleh HWDI Sulut bersama Ramadhan Fest 8994, merayakan Hari Perempuan Internasional HWDI Sulut, melalui ajang Bincang Perempuan yang bertemakan Accelerate Action For all Women and Girls: Right, Equality Empowerment. “Menjadi perempuan disabilitas, tidak mendorong kita menjadi makhluk lemah, karena kita adalah makhluk unik sensitif yang spesial yang mempunyai keragaman kemampuan,” kata Wahani pada event yang digelar juga sebagai ajang bertemu dan berbuka puasa bersama di Bazar Ramadhan di Sindulang Mas, Manado, kemarin.
Dia juga mengakui walau memiliki keterbatasan perempuan disabilitas kini makin berdaya. Karena memiliki kemauan yang tangguh untuk terus belajar dan berdikari menjadi pribadi yang unggul. Bukan tanpa asalan, kini teknologi juga membantu para sahabat disabilitas menjawab tantangan baik di dunia kerja dan dalam beradaptasi dengan lingkungan sekitar. “Jadi, kita tidak perlu merasa terdiskriminasi. Jangan jadikan pribadi yang merendahkan kita sebagai halangan untuk maju. Jawab hal itu dengan kemampuan, bukan lagi merasa rendah diri,” tegas Wahani, sembari menambahkan aturan dan UU hingga perda sudah dengan tegas memberikan pengakuan atas sahabat disabilitas,walau masih ada yang memang diperbaiki dalam aturan aturan diatas.
Tidak ketinggalan pemilik gelar Sarjana Pendidikan dari Universitas Negeri Manado (Unima) berharap pada perayaan International Women’s Day (IWD), pemerintan daerah bisa ikut mendorong dan memfasilitas pendidikan yang pada para sahabat disabilitas yang ada saat ini, melalui Uji Paket C. Dari pantauan MANADONES, para peserta yang kebanyakan para pemuda dan pemudi melihat ajang ini tidak hanya menjadi ajang perayaan bagi perempuan, tetapi juga menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesetaraan gender serta kepedulian terhadap lingkungan. Selain sesi bincang ada juga sesi belajar bahasa isyarat bersama komunitas disabilitas. (agungkoyongian





