MANADO, 20 MEI 2025 – Sulawesi utara (Sulut), wajib melihat peluang di bisnis ekonomi kreatif (Ekraf) di Indonesia yang kini makin berkembang pesat.
Ini dijelaskan oleh Staf Khusus Gubernur Bidang Pariwisata, Dr Drevy D Malalantang, dalam kegiatan Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia Ekraf, yang digelar belum lama ini di Manado. “Ekraf bukan sekadar ide, tapi bagaimana ide tersebut dikembangkan secara terstruktur dan berkelanjutan. Di sinilah pentingnya menyusun business plan, yang merinci tujuan, strategi, dan langkah nyata dalam mengelola usaha,” ujar Malalatang yang dikenal juga sebagai Direktur Sekolah Tinggi Ekonomi Pariwisata (STIEPAR) Manado.
Dia merujuk, hasil beberapa tahun terakhir dimana kekayaan budaya, seni, dan kemajuan teknologi digital dikemas dan menghasilkan karya bernilai yang tidak bisa dipisahkan dari Ekraf. Ekraf sendiri adalah sektor ekonomi yang mengandalkan ide, kreativitas, dan inovasi sebagai nilai utama dalam menghasilkan produk atau jasa. Sektor Bisnis Ekraf di Indonesia meliputi kuliner, fashion, aplikasi dan game developer, desain komunikasi visual dan produk film seperti Animasi dan Video, musik, kerajinan, arsitektur dan interior, dan seni pertunjukan. “Semua ini selalu dikemas oleh SDM yang memiliki kompetensi. Untuk itulah pengembangan kompetensi SDM harus ditingkatkan,” ungkapnya
Di kegiatan yang juga dihadiri oleh Kepala Dinas Pariwisata Sulut dr Devi Tanos, MARS dan Keny Pinangkaan ST ini, Malalantang menambahkan tren utama Ekraf 2025, seperti penguatan produk lokal sebagai simbol kemewahan (Local is the New Luxury), pengalaman kuliner berbasis budaya, dan pergeseran industri mode menuju keberlanjutan lingkungan, masuk dalam penjabaran dan Implementasi visi dan misi Gubernur Sulut yang menekankan pada kearifan lokal serta keberlajutan. (gracey wakary)





